Friday, September 17, 2010

Mengenal Ibnu Sina (Sang Filsuf)

Nama lengkap Ibnu Sina adalah Abu Ali Husain Ibn Abdillah Ibn Sina. Ia lahir pada
tahun 980 M di Asfshana, suatu tempat dekatBukhara. Orang tuanya adalah pegawai
tinggi pada pemerintahan Dinasti Saman[3][3].DiBukharaia dibesarkan serta belajar
falsafah kedokteran dan ilmu - ilmu agama Islam. Ketika usia sepuluh tahun ia telah
banyak mempelajari ilmu agama Islam dan menghafal Al-Qur’an seluruhnya[4][4]. Dari
mutafalsir Abu Abdellah Natili, Ibnu Sina mendapat bimbingan mengenai ilmu logika
yang elementer untuk mempelajari buku Isagoge dan Porphyry , Eucliddan Al-Magest-
Ptolemus. Dan sesudah gurunya pindah ia mendalami ilmu agama dan metafisika,
terutama dari ajaran Plato dan Arsitoteles yang murni dengan bantuan komentator -
komentator dari pengarang yang otoriter dari Yunani yang sudah diterjemahkan kedalam
bahasa Arab.
Dengan ketajaman otaknya ia banyak mempelajari filsafat dan cabang - cabangnya,
kesungguhan yang cukup mengagumkan ini menunjukkan bahwa ketinggian
otodidaknya, namun di suatu kali dia harus terpaku menunggu saat ia menyelami ilmu
metafisika-nya Arisstoteles, kendati sudah 40 an kali membacanya. Baru setelah ia
membaca Agradhu kitab ma waraet thabie’ah li li Aristho -nya Al-Farabi (870 - 950 M),
semua persoalan mendapat jawaban dan penjelasan yang terang benderang, bagaikan dia
mendapat kunci bagi segala simpanan ilmu metafisika. Maka dengan tulus ikhlas dia
mengakui bahwa dia menjadi murid yang setia dari Al-Farabi[5][5]
Sesudah itu ia mempelajari ilmu kedokteran pada Isa bin Yahya, seorang Masehi. Belum
lagi usianya melebihi enam belas tahun, kemahirannya dalam ilmu kedokteran sudah
dikenal orang, bahkan banyak orang yang berdatangan untuk berguru kepadanya. Ia tidak
cukup dengan teori - teori kedokteran, tetapi juga melakukan praktek dan mengobati
orang - orang sakit[6][6].Ia tidak pernah bosan atau gelisah dalam membaca buku - buku
filsafat dan setiap kali menghadapi kesulitan, maka ia memohon kepada Tuhan untuk
diberinya petunjuk, dan ternyata permohonannya itu tidak pernah dikecewakan. Sering -
sering ia tertidur karena kepayahan membaca, maka didalam tidurnya itu dilihatnya
pemecahan terhadap kesulitan - kesulitan yang dihadapinya[7][7].
Sewaktu berumur 17 tahun ia telah dikenal sebagai dokter dan atas panggilan Istana
pernah mengobati pangeran Nuh Ibn Mansur sehingga pulih kembali kesehatannya. Sejak
itu, Ibnu Sina mendapat sambutan baik sekali, dan dapat pula mengunjungi perpustakaan
yang penuh dengan buku - buku yang sukar didapat, kemudian dibacanya dengan segala
keasyikan. Karena sesuatu hal, perpustakaan tersebut terbakar, maka tuduhan orang
ditimpakan kepadanya, bahwa ia sengaja membakarnya, agar orang lain tidak bisa lagi
mengambil manfaat dari perpustakaan itu[8][8].Kemampuan Ibnu Sina dalam bidang
filsafat dan kedokteran, kedua duanya sama beratnya. Dalam bidang kedokteran dia
mempersembahkan Al-Qanun fit-Thibb- nya, dimana ilmu kedokteran modern mendapat
pelajaran, sebab kitab ini selain lengkap, disusunnya secara sistematis.
Dalam bidang materia medeica , Ibnu Sina telah banyak menemukan bahan nabati baru
Zanthoxyllum budrunga - dimana tumbuh - tumbuhan banayak membantu terhadap
bebebrapa penyakit tertentu seperti radang selaput otak ( miningitis).
Ibnu Sina pula sebagai orang pertama yang menemukan peredaran darah manusia,
dimana enam ratus tahun kemudian disempurnakan oleh William Harvey. Dia pulalah
yang pertama kali mengatakan bahwa bayi selama masih dalam kandungan mengambil
makanannya lewat tali pusarnya.
Dia jugalah yang mula - mula mempraktekkan pembedahan penyakit - penyakit bengkak
yang ganas, dan menjahitnya. Dan last but not list dia juga terkenal sebagai dokter ahli
jiwa dengan cara - cara modern yang kini disebut psikoterapi .
Dibidang filsafat, Ibnu Sina dianggap sebagai imam para filosof di masanya, bahkan
sebelum dan sesudahnya. Ibnu Sina otodidak dan genius orisinil yang bukan hanya dunia
Islam menyanjungnya ia memang merupakan satu bintang gemerlapan memancarkan
cahaya sendiri, yang bukan pinjaman sehingga Roger Bacon, filosof kenamaan dari
Eropa Barat pada Abad Pertengahan menyatakan dalam Regacy of Islam -nya Alfred
Gullaume; “Sebagian besar filsafat Aristoteles sedikitpun tak dapat memberi pengaruh di
Barat, karena kitabnya tersembunyi entah dimana, dan sekiranya ada, sangat sukar sekali
didapatnya dan sangat susah dipahami dan digemari orang karena peperangan -
peperangan yang meraja lela di sebeleah Timur, sampai saatnya Ibnu Sina dan Ibnu
Rusyd dan juga pujangga Timur lain membuktikan kembali falsafah Aristoteles disertai
dengan penerangan dan keterangan yang luas.”[9][9]
Selain kepandaiannya sebagai flosof dan dokter, iapun penyair. Ilmu - ilmu pengetahuan
seperti ilmu jiwa, kedokteran dan kimia ada yang ditulisnya dalam bentuk syair. Begitu
pula didapati buku - buku yang dikarangnya untuk ilmu logika dengan syair.
Kebanyakan buku - bukunya telah disalin kedalam bahasa Latin. Ketika orang - orang
Eropa diabad tengah, mulai mempergunakan buku - buku itu sebagai textbook, dipelbagai
universitas.Oleh karena itu nama Ibnu Sina dalam abad pertengahan di Eropah sangat
berpengaruh[10][10].
Dalam dunia Islam kitab - kitab Ibnu Sina terkenal, bukan saja karena kepadatan
ilmunya, akan tetapi karena bahasanya yang baik dan caranya menulis sangat terang.
Selain menulis dalam bahasa Arab, Ibnu Sina juga menulis dalam bahasa Persia. Buku -
bukunya dalam bahasa Persia, telah diterbitkan di Teheran dalam tahun 1954.
Karya - karya Ibnu Sina yang ternama dalam lapangan Filsafat adalah As-Shifa, An-
Najat dan Al Isyarat. An-Najat adalah resum dari kitab As-Shifa. Al-Isyarat,
dikarangkannya kemudian, untuk ilmu tasawuf. Selain dari pada itu, ia banyak menulis
karangan - karangan pendek yang dinamakan Maqallah. Kebanyakan maqallah ini ditulis
ketika ia memperoleh inspirasi dalam sesuatu bentuk baru dan segera
dikarangnya[11][11].
Sekalipun ia hidup dalam waktu penuh kegoncangan dan sering sibuk dengan soal
negara, ia menulis sekitar dua ratus lima puluh karya. Diantaranya karya yang paling
masyhur adalah “Qanun” yang merupakan ikhtisar pengobatan Islam dan diajarkan
hingga kini di Timur. Buku ini dterjemahkan ke baasa Latin dan diajarkan berabad
lamanya di Universita Barat. Karya keduanya adalah ensiklopedinya yang monumental
“Kitab As-Syifa”. Karya ini merupakan titik puncak filsafat paripatetik dalam
Islam.[12][12]
Diantara karangan - karangan Ibnu Sina adalah :
1. 1. As- Syifa’ ( The Book of Recovery or The Book of Remedy = Buku tentang
Penemuan, atau Buku tentang Penyembuhan).
Buku ini dikenal didalam bahasa Latin dengan nama Sanatio, atau Sufficienta. Seluruh
buku ini terdiri atas 18 jilid, naskah selengkapnya sekarang ini tersimpan
diOxfordUniversityLondon.Mulai ditulis pada usia 22 tahun (1022 M) dan berakhir pada
tahun wafatnya (1037 M).Isinya terbagi atas 4 bagian, yaitu :
1.11.1 Logika (termasuk didalamnya terorika dan syair) meliputi dasar karangan
Aristoteles tentang logika dengan dimasukkan segala materi dari penulis - penulis Yunani
kemudiannya.
1.21.2 Fisika (termasuk psichologi, pertanian, dan hewan). Bagian - bagian Fisika
meliputi kosmologi, meteorologi, udara, waktu, kekosongan dan gambaran).
1.31.3 Matematika. Bagian matematika mengandung pandangan yang berpusat dari
elemen - elemenEuclid, garis besar dari Almagest-nya Ptolemy, dan ikhtisar - ikhtisar
tentang aritmetika dan ilmu musik.
1.41.4 Metafisika. Bagian falsafah, poko pikiran Ibnu sina menggabungkan pendapat
Aristoteles dengan elemen - elemennya Neo Platonic dan menyusun dasar percobaan
untuk menyesuaikan ide-ide Yunani dengan kepercayaan - kepercayaan.
Dalam zaman pertengahan Eropa, buku ini menjadi standar pelajaran filsafat di pelbagai
sekolah tinggi.
2. 2. Nafat, buku ini adalah ringkasan dari buku As-Syifa’.
3. 3. Qanun, buku ini adalah buku lmu kedokteran, dijadikan buku pokok pada
UniversitasMontpellier(Perancis) dan Universitas Lourain (Belgia).
4. 4. Sadidiyya. Buku ilmu kedokteran.
5. 5. Al-Musiqa. Buku tentang musik.
6. 6. Al-Mantiq, diuntukkan buat Abul Hasan Sahli.
7. 7. Qamus el Arabi, terdiri atas lima jilid.Danesh Namesh.Buku filsafat.
8. 8. Danesh Nameh. Buku filsafat.
9. 9. Uyun-ul Hikmah. Buku filsafat terdiri atas 10 jilid.
10. 10. Mujiz, kabir wa Shaghir. Sebuah buku yang menerangkan tentang dasar - dasar
ilmu logika secara lengkap.
11. 11. Hikmah el Masyriqiyyin. Falsafah Timur (Britanica Encyclopedia vol II, hal. 915
menyebutkan kemungkinan besar buku ini telah hilang).
12. 12. Al-Inshaf. Buku tentang Keadilan Sejati.
13. 13. Al-Hudud. Berisikan istilah - istilah dan pengertian - pengertian yang dipakai
didalam ilmu filsafat.
14. 14. Al-Isyarat wat Tanbiehat. Buku ini lebih banyak membicarakan dalil - dalil dan
peringatan - peringatan yang mengenai prinsip Ketuhanan dan Keagamaan.
15. 15. An-Najah, (buku tentang kebahagiaan Jiwa)
16. 16. dan sebagainya[13][13]
Dari autobiografi dan karangan - kaangannya dapat diketahui data tentang sifat - sifat
kepribadianhya, misalnya :
1. 1. Mengagumi dirinya sendiri
Kekagumannya akan dirinya ini diceritakan oleh temannya sendiri yakni Abu Ubaid al-
Jurjani. Antara lain dari ucapan Ibnu Sina sendiri, ketika aku berumur 10 tahun aku telah
hafal Al-Qur’an dan sebagian besar kesusateraan hinga aku dikagumi.
2. 2. Mandiri dalam pemikiran
Sifat ini punya hubungan erat sudah nampak pada Ibnu Sina sejak masa kecil. Terbukti
dengan ucapannya “Bapakku dipandang penganut madzhab Syi’ah Ismailiah. Demikian
juga saudaraku. Aku dengar mereka menyebtnya tentang jiwa dan akal, mereka
mendiskusikan tentang jiwa dan akal menurut pandangan mereka. Aku mendengarkan,
memahami diskusi ini, tetapi jiwaku tak dapat menerima pandangan mereka”.
3. 3. Menghayati agama, tetapi belum ke tingkat zuhud dan wara’.
Kata Ibnu Sina, setiap argumentasi kuperhatikan muqaddimah qiyasiyah nya setepat -
tepatnya, juga kuperhatikan kemungkinan kesimpulannya. Kupelihara syarat - syarat
muqaddimah nya, sampai aku yakin kebenaran masalah itu. Bilamana aku bingung tidak
berhasil kepada kesimpulan pada analogi itu, akupun pergi sembahyang menghadap
maha Pencipta, sampai dibukakan-Nya kesulitan dan dimudahkan-Nya kesukaran.
4. 4. Rajin mencari ilmu, keterangan beliau “saya tenggelam dalam studi ilmu dan
membaca selama satu setengah tahun. Aku tekun studi bidang logika dan filsafat, saya
tidak tidur satu malam suntuk selama itu.Sedang siang hari saya tidak sibuk dengan hal -
hal lainnya”
5. 5. Pendendam. Dia meredam dendam itu dalam dirinya terhadap orang yang
menyinggung perasaannya.Dia hormat bila dihormati.
6. 6. Cepat melahirkan karangan
Ibnu Sina dengan cepat memusatkan pikirannya dan mendapatkan garis - garis besar dari
isi pikirannya serta dia dengan mudah melahirkannya kepada orang lain.Menuangkan isi
pikiran dengan memilih kalimat/ kata-kata yang tepat, amat mudah bagi dia. Semua itu
berkat pembiasaan, kesungguhan dan latihan dan kedisiplinan yang
dilakukannya.[14][14]
Ibnu Sina dikenal di Barat dengan nama Avicena (Spanyol aven Sina) dan
kemasyhurannya di dunia Barat sebagai dokter melampaui kemasyhuran sebagai Filosof,
sehingga ia mereka beri gelar “the Prince of the Physicians”.Di dunia Islam ia dikenal
dengan nama Al-Syaikh- al-Rais . Pemimpin utama (dari filosof - filosof)[15][15].
Meskipun ia di akui sebagai seorang tokoh dalam keimanan, ibadah dan keilmuan, tetapi
baginya minum – minuman keras itu boleh, selama tidak untuk memuaskan hawa nafsu.
Minum – minuman keras dilarang karena bias menimbulkan permusuhan dan pertikaian,
sedangkan apabila ia minum tidak demikian malah menajamkan pikiran.
Didalam al-Muniqdz min al-Dhalal, al-Ghazali bahwa Ibnu Sina pernah berjanji kepada
Allah dalam salah satu wasiatnya, antara lain bahwa ia akan menghormati syari’at tidak
melalaikan ibadah ruhani maupun jasmani dan tidak akan minum – minuman keras untuk
memuaskan nafsu, melainkan demi kesehatan dan obta.
Kehidupan Ibnu Sina penuh dengan aktifitas -aktifitas kerja keras. Waktunya dihabiskan
untuk urusan negara dan menulis, sehingga ia mempunyai sakit maag yang tidak dapat
terobati. Di usia 58 tahun (428 H / 1037 M) Ibnu Sina meninggal dan dikuburkan di
Hamazan.

0 comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...