Follow by Email

Friday, September 17, 2010

Filsafat Jiwa Ibnu Sina

Ibnu Sina memberikan perhatiannya yang khusus terhadap pembahasan kejiwaan,
sebagaimana yang dapat kita lihat dari buku - buku yang khusus untuk soal - soal
kejiwaan ataupun buku - buku yang berisi campuran berbagai persoalan filsafat.
Memang tidak sukar untuk mencari unsur - unsur pikiran yang membentuk teorinya
tentang kejiwaan, seperti pikiran - piiran Aristoteles, Galius atau Plotinus, terutama
pikiran- pikiran Aristoteles yang banyak dijadikan sumber pikiran-pikirannya. Namun hal
ini tidak berarti bahwa Ibnu Sina tidak mempunyai kepribadian sendiri atau pikiran -
pikiran yang sebelumnya, baik dalam segi pembahasan fisika maupun segi pembahasan
metafisika.
Dalam segi fisika, ia banyak memakai metode eksperimen dan banyak terpengaruh oleh
pembahasan lapangan kedokteran. Dalam segi metafisika terdapat kedalaman dan
pembaharuan yang menyebabkan dia mendekati pendapat - pendapat filosof
modern[16][16].
Pengaruh Ibnu Sina dalam soal kejiwaan tidak dapat diremehkan, baik pada dunia pikir
Arab sejak abad ke sepuluh Masehi sampai akhir abad ke 19 M, terutama pada
Gundisallinus, Albert the Great, Thomas Aquinas, Roger Bacon dan Dun Scot[17][17].
Pemikiran terpenting yang dihasilkan Ibnu Sina ialah falsafatnya tentang
jiwa.Sebagaimana Al-Farabi,iajuga menganut faham pancaran. Dari Tuhan memancar
akal pertama, dan dari akal pertama memancar akal kedua dan langit pertama, demikian
seterusnya sehingga tercapai akal ke sepuluh dan bumi. Dari akal ke sepuluh memancar
segala apa yang terdapat di bumi yang berada dibawah bulan. Akal pertama adalah
malaekat tertinggi dan akal kesepuluh adalah Jibril.
Pemikiran ini berbeda dengan pemikiran kaum sufi dan kaum mu’tazilah. Bagi kaum
sufi kemurnian tauhid mengandung arti bahwa hanya Tuhan yang mempunyai wujud.
Kalau ada yang lain yang mempunyai wujud hakiki disamping Tuhan, itu mngandung arti
bahwa ada banyak wujud, dan dengan demikian merusak tauhid. Oleh karena itu mereka
berpendapat : Tiada yang berwujud selain dari Allah swt. Semua yang lainnya pada
hakikatnya tidak ada. Wujud yang lain itu adalah wujud bayangan. Kalau dibandingkan
dengan pohon dan bayangannya, yang sebenarnya mempunyai wujud adalah pohonnya,
sedang bayangannya hanyalah gambar yang seakan – akan tidak ada. Pendapat inilah
kemudian yang membawa kepada paham wahdat al-wujud (kesatuan wujud), dalam arti
wujud bayangan bergantung pada wujud yang punya bayangan.Karena itu ia pada
hakekatnya tidak ada; bayangan tidak ada. Wujud bayangan bersatu dengan wujud yang
punya bayangan.
Kalau kaum Mu’tazilah dalam usaha memurnikan tauhid pergi ke peniadaan sifat – sifat
Tuhan dan kaum sufi ke peniadaan wujud selain dari wujud Allah swt, maka kaum filosof
Islam yang dipelopori al-Farabi, pergi ke faham emanasi atau al-faidh . Lebih dari
mu’tazilah dan kaum sufi, al-Farabi berusaha meniadakan adanya arti banyak dalam diri
Tuhan. Kalau Tuhan berhubungan langsung dengan alam yang tersusun dari banyak
unsur ini, maka dalam pemikiran Tuhan terdapat pemikiran yang banyak. Pemikiran yang
banyak membuat faham tauhid tidak murni lagi[18][18].
Menurut al-Farabi, Allah menciptakan alam ini melalui emanasi, dalam arti bahwa
wujud Tuhan melimpahkan wujud alam semesta. Emanasi ini terjadi melalui tafakkur
(berfikir) Tuhan tentang dzat-Nya yang merupakan prinsip dari peraturan dan kebaikan
dalam alam. Dengan kata lain, berpikirnya Allah swt tentang dzat-Nya adalah sebab dari
adanya alam ini. Dalam arti bahwa ialah yang memberi wujud kekal dari segala yang
ada[19][19]. Berfikirnya Allah tentang dzatnya sebagaimana kata Sayyed Zayid, adalah
ilmu Tuhan tentang diri-Nya, dan ilmu itu adalah daya ( al-Qudrah) yang menciptakan
segalanya, agar sesuatu tercipta, cukup Tuhan mengetahuiNya[20][20]
Ibnu Sina berpendapat bahwa akal pertama mempunyai dua sifat : sifat wajib wujudnya
sebagai pancaran dari Allah, dan sifat mungkin wujudnya jika ditinjau dari hakekat
dirinya atau necessary by virtual of the necessary being and possible in essence . Dengan
demikian ia mempunyai tiga obyek pemikiran : Tuhan, dirinya sebagai wajib wujudnya
dan dirinya sebagai mungkin wujudnya[21][21]
Dari pemkiran tentang Tuhan timbul akal - akal dari pemikiran tentang dirinya sebagai
wajib wujudnya timbul jiwa - jiwa dari pemikiran tentang dirinya sebagai mungkin
wujudnya timbul di langit. Jiwa manusia sebagaimana jiwa - jiwa lain dan segala apa
yang terdapat di bawah Bulan, memancar dari akal ke sepuluh.
Segi - segi kejiwaan pada Ibnu Sina pada garis besarnya dapat dibagi menjadi dua segi
yaitu :
1. 1. Segi fisika yang membicarakan tentang macam - macamnya jiwa (jiwa
tumbuhkan, jiwa hewan dan jiwa manusia). Pembahasan kebaikan - kebaikan, jiwa
manusia, indera dan lain - lain dan pembahasan lain yang biasa termasuk dalam
pengertian ilmu jiwa yang sebenarnya.

Reactions:

0 comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...