Follow by Email

Thursday, November 17, 2011

TECHNOSPIRITUALITY TURUN MESIN MANUSIA INDONESIA

TECHNOSPIRITUALITY TURUN MESIN MANUSIA INDONESIA PDF Print E-mail
HUMAN CAPITAL
 

Memberantas korupsi yang begitu akut di Indonesia harus dilakukan dengan memperbaiki otak dan hati manusia Indonesia. Pendekatan Technospirituality dari Katahati Institute bisa menjadi salah satu solusi.
.....

Korea Selatan adalah salah satu negara yang perlu ditiru dalam memberantas korupsi. Negara ini pernah menduduki peringkat 50-an sebagai Negara terbersih di dunia beberapa tahun lalu. Peringkat itu menempatkan Korea Selatan termasuk Negara paling korup di dunia, meskipun masih di atas Indonesia. Dewasa ini, peringkat Korea Selatan dalam survei yang diadakan PERCatau Transparency International meloncat jauh lebih baik.
 
Sedangkan Indonesia masih terperosok dalam deretan negara paling korup di dunia.
Upaya pemberantasan korupsi di Korea Selatan gencar dilakukan saat Presiden Kirn Dae Jung berkuasa. Semula pemerintah membuat gebrakan dengan menangkap para koruptor, termasuk tokoh bisnis. Pendekatan ini ternyata kurang efektif. Mereka yang ditangkap merasa, kenapa hanya dia yang ditangkap karena orang lain juga melakukan hal yang sama.

Budaya Korea Selatan memang memberi peluang sangat besar untuk melakukan korupsi. Di negara itu dikenal istilah chonji atau memberikansedikit uang sebagai tanda terima kasih. Para pengusaha terbiasa memberikan sejurnlah uang kepada pejabat atas segala bantuan terhadap usaha mereka. Pemberian uang itu juga lazim dalam pernikahan, kematian, ataupun dalam bentuk perjamuan yang berlebihan.

Dengan budaya Korea seperti itu, memberantas korupsi jelas sebuah pekerjaanyangsulit. Hanya dengan sikap tegas Kim Dae Jung, upaya memberantas korupsi sedikit demi sedikit bisa dilakukan. Siapapun yang melakukan korupsi dan terbukti diajukan ke pengadilan, yang juga memakan korban kedua puteranya. Kedua anaknya dituduh menerima uang suap. la secara jantan mengakui kepada rakyat Korea telah gagal membentengi anak-anaknya dari korupsi sekaligus meminta maaf. Permohonan maaf itu tidak menghentikan proses hukum terhadap kedua puteranya.

Presiden Korea sebelumnya Roh Tae Woo dan Kim Young Sam juga menyatakan maaf secara terbuka atas kesalahannya telah melakukan dan membiarkan korupsi terjadi. Kedua mantan Presiden itu tetapdiadili dan dijatuhi hukuman penjara, meskipun kemudian memperoleh amnesti setelah ditahan untuk sekian lama.

Pemandangan yang terjadi di Korea Selatan jelas sangat kontras dengan apa yang terjadi di Indonesia. Jangankan meminta maaf, para pejabat yang telah melakukan korupsi berusaha dengan segala cara untuk bebas dari tuduhan korupsi. Mereka akhirnya berlindung di balik keputusan pengadilan yang membebaskan mereka dari tuduhan korupsi. Padahal, orang pun dengan mudah bisa menilai bahwa pejabat tersebut nelakukan korupsi. Toh tetap saja para pejabat atau i pejabat itu melenggang bebas sesuka hatinya tanpa rasa edikitpun.

Esensi utama dari perubahan di Korea Selatan adalah dengan menumbuhkan budaya malu melakukan korupsi dan secara nengakui kesalahannya di depan publik. Harusnya hal semcam ini juga diterapkan di Indonesia dan akan jauh lebih mencegah korupsi ketimbang mengancam koruptor dengan hukuman mati. Tindakan korupsi menjadi aib bagi keluarga. Sebagai konsekuensinya mereka harus siap menerima hukuman sosial dari masyarakat. Jangan seperti sekarang, masyarakat justru membela-bela orang kaya yang dermawan tanpa tahu dari mana sumber kekayaannya.

Untuk memantapkan keputusan korupsi, pembuktian secara terbalik bisa dilakukan (dengan memeriksa kekayaan dan membuka rekening bank pribadi/keluarganya). Sehingga lan korupsi tidak semena-mena sifatnya, namun juga tidak sekarang di mana perkara korupsi dihentikan ataupun in mengambang supaya akhirnya publik lupa.

Memberantas korupsi seyogyanya dititikbratkan kepada pembenahan cara berpikir, sistem nilai, budaya, mental, dan perilaku manusia Indonesia. “Manusia Indonesia harus sturun mesin, ditata kembali pikiran dan hatinya untuk bisa menjalani hidup lebih baik dan bahagia,” ungkap Erbe Sentanu, pendiri dan pengelola Katahati Institute, sebuah pusat pengembangan transformasi diri.

Katahati sendiri telah melakukan pelatihan terhadap lebih dari 10.000 orang - dengan berbagai latar belakang suku, agama, dan profesi - sejak didirikan Agustus 1998. Lembaga pelatihan ini teiah mengembangkan konsep Technospirituality, sebuah konsep spiritualisme paling komprehensif yang menggabungkan kecerdasan intelektual (IQ)/ personal (PQ), kecerdasan emosional (EQ), dan kecerdasan spiritual (SQ). Upaya meraih aneka kecerdasan tersebut dipercepat melalui bantuan teknologi.

KATAHATI TECHNOSPIRITUALITY®
BRIDGING THE GAP BETWEEN HUMAN DEVELOPMENT CONCEPTS & INNER-SKILLS

Kenapa teknologi? “Kita hidup di jaman teknologi yang serba digital. Teknologi telah merubah banyak hal dalam kehidupan manusia yang mungkin belum terpikirkan di masa lampau. la bisa membantu manusia meraih kecerdasan secara total, sebuah kesadaran untuk hidup lebih baik, lebih sukses, dan lebih damai,” jawab pria yang pernah menuntut ilmu commerce di Selandia Baru ini.

Solusi Technospirituality diberikan dalam bentuk 3 jenis pelatihan: MindFocus! atau Brainwave Management, HeartFocus! atau Heartwave Management, dan SoulFocus! atau Soulwave Management. Pelatihan MindFocus! bertujuan membantu setiap orang memanfaatkan kekuatan pikiran bawah sadar untuk meraih kesuksesan hidup dalam arti sebenarnya. Kekuatan otak bisa dimanfaatkan untuk mencapai ketenangan pikiran dan kondisi yang khusyuk agar memperoleh tujuan dan niat tertinggi untuk menjadi manusia sukses yang berakhlak mulia. “Otak manusia merupakan ‘komputer’ terhebat di dunia. Sayangnya, manusia tidak dilengkapi panduan untuk memanfaatkannya sehingga kita tidak tahu mendayagunakannya,” tutur pria yang akrab dipanggil Nunu ini. la didampingi pentolan Katahati lainnya Yudi Sujana dan R. Benyamin AM.

Secara garis besar, otak manusia terbagi dalam dua bagian: otak kiri dan otak kanan. Otak kiri memproses segala macam angka, matematika, bahasa, dan lainnya. Sementara otak kanan memproses segala macam keindahan, seni, rasa, dan segala sesuatu yang tidak lagi bersifat verbal. Namun, dari keseluruhan kemampuan otak, maksimal hanya 12% yang dipergunakan setiap hari. Sisanya dibiarkan menganggur. Bahkan menurut penulis buku Piece of Mind Sandy MacGregor, otak seorangjenius pun hanya dipergunakan 4-5%s aja.Artinya, begitu besar potensi otak manusia yang belum tergali dan dimanfaatkan.
Dengan maksimal 12% potensi otak yang telah dimanfaatkan, manusia sudah menghasilkan karya-karya hebat ataupun tampak hebat. Tentu akan jauh lebih hebat lagi bila 88% potensi otak lainnya didayagunakan.

Para ahli menyebut yang 12% sebagai pikiran sadar (conscious mind), dan sisanya yang 88% sebagai pikiran bawah sadar (subconscious mind). Antara pikiran sadar dan bawah sadar dibatasi sebuah garis filter yang disebut dengan reticular acti-vatingsystem, sehingga seseorang tetapterlihat sadar dan waras. Sejauh ini, pikiran bawah sadar berguna menyimpan semua pengalaman hidup, citra diri seseorang. la hanya berfungsi sebagai bank memori, padahal potensinya jauh lebih besar dari itu. Kekuatan pikiran bawah sadar dapat dimanfaatkan untuk mencapai tujuan tiga sampai tujuh kali lebih cepat, dengan kemampuan relaksasi sebagai kekuatan tambahan. Emosi seseorang juga ditentukan oleh pikiran bawah sadar yang kemudian diekspresikan dalam perilaku melalui pikiran sadar.
Untuk mendayagunakan potensi otak yang begitu besar, maka perlu diketahui tentang gelombangenergi otak (brainwave), yang terbagi dalam empat keadaan: delta, theta, alpha, dan beta.

Kondisi beta adalah keadaan sehari-hari yang dialami setiap orang (kecepatan 13 s/d 28 putaran per detik}, keadaan di mana seseorang terjaga dan bisa memikirkan beberapa hal secara serempak. Pada kondisi ini didorninasi oleh cara berpikir logika.

Gelombang otak alpha (kecepatan sekitar 7 s/d 13 putaran per detik), di mana otak hanya bisa berpikir tentang satu hal saja, tidak lebih. Keadaan alpha adalah keadaan yang rileks tanpa stress, sehingga orang mudah masuk ke pikiran bawah sadar, bisa mengubah citra diri ataupun keadaan, bisa menetapkan tujuan, belajar dan membaca ’secara cerdas’.
Keadaan alpha mudah dicapai, yaitu ketika kita sedang melamun atau berkhayal. Anak-anak berurnur 0 s/d 5 tahun (balita) hidup dalam keadaan alpha. Itu sebabnya mereka mampu menyerap informasi dengan cepat, dan langsung menembus pikiran bawah sadarnya. Oleh karena itu, anak-anak adalah kelompok orang yang paling cepat memahami segala sesuatu yang baru dan sulit sekalipun.

Kondisi theta adalah keadaan ketika dapat bermimpi (kecepatannya sekitar 3,5 s/d 7 putaran per detik). Dalarn kondisi ini, pikiran menjadi sangat kreatif dan inspiratif. Penyembuhan diri dari penyakit bisa diperoleh dalam kondisi ini. Terakhir adalah gelornbang otak delta (kecepatannya 0,5 putaran per detik), yang terjadi saat kita tidur pulas dan tanpa mimpi.

Pelatihan MindFocus!, menurut Yudi Sujana, ditujukan untuk membangkitkan potensi otak alpha (keadaan rileks) dan theta (keadaan kreatif). Sebagian besar manajer atau eksekutif biasanya hanya mengandalkan kernarnpuan analitikal dari otaknya dalam bekerja dan mengambil keputusan. Katahati menggunakan teknologi ilmiah yang telah terbukti untuk mencapai keadaan alpha dan theta tersebut, seperti Subconscious Reprograming, Creative Accelerated Learning Methods, Creative Imagery, Science of Creative Intelligence, dan DigitalPrayer. Teknotogi tersebut juga sangat sesuai dengan budaya bangsa Indonesia.

Tanpa bantuan teknologi bisa saja seseorang memasuki pikiran bawah sadarnya. Cara yang mudah adalah membalikkan mata ke atas sambil terpejam, lalu pikiran akan rnembawa kita dalam kondisi alpha, melarutkan kita dalarn suasana yang nyaman dan penuh kedamaian. “Bayangkanlah sebuah rumah yang penuh kedarnaian, rumah yang nyaman, rumah impian. Lelapkan diri kita ke sebuah kursi yang membuat kita terlena dan merasa sangat nyaman,” begitu Nunu memandu peserta pelatihan.

Kondisi alpha bisa pula diraih dengan meditasi. Meditasi yang bagus adalah kedua telapak tangan saling membuka, pada saat itulah energi alam akan menyatu dan berputar ke dalam keseluruhan tubuh. Dibantu musik yang indah dan syahdu dari Katahati, suasana alpha mudah terbangun. Dalam keadaan alpha, lanjut Nunu, pintu ke pikiran bawah sadar terbuka. Saat masuk dan menjelajah pikiran bawah sadar, kita bisa memprogram hidup kita seperti apa yang kita maui. Misalnya, mau bergaji Rp 25 juta sebulan, menjadi CEO tahun 2007, menikah bulan April, punya ini dan itu, dan seterusnya. Tentu saja saat menentukan program hidup itu dibarengi dengan emosi positif dari segenap jiwa serta yakin keinginan itu benar-benar terwujud. “Bayangkan bahwa kita menghitung uang sebanyak itu, menjadi CEO, dan seterusnya,” Yudi menambahkan.

Yang menarik, dalam setiap pelatihan MindFocus!, Katahati mengajarkan bagaimana cara berdoa atau berkomunikasi dengan Tuhan yang efektif - terlepas apapun agama dan kepercayaan yang dianut. Doa yang khusyuk merniliki kekuatan yang dahsyat. Menurut Nunu, cara berdoa yang khusyuk sangat penting karena banyak orang berdoa tetapi pikirannya melayang ke mana-mana. Secara fisiologis, orang yang berdoa dengan konsentrasi penuh merniliki gelombang otak tertentu. la harus berada pada gelornbang alpha atau theta. “Ini yang karni ciptakan dengan bantuan teknologi. Intinya, jangan berdoa sebelum gelombang otaknya benar,” tegas Nunu.

Untuk membantu terciptanya kekhusyukan dalam berdoa, Katahati merniliki teknologi DigitalPrayer berupa alunan musik/ suara dari CD. Setelah kekhusyukan itu tercipta, Katahati merniliki lagi teknologi untuk membantu setiap orang berdoa atau berkomunikasi secara efektif dengan Tuhan. Teknologi ini - lebih tepat disebut dengan panduan - disesuaikan dengan agama dan kepercayaan yang dianut. Untuk pemeluk agama Islam, Katahati telah menyiapkan doa pembuka dan penutup dalam meminta kepada Allah.

Keberhasilan membangun komunikasi yang efektif dengan Tuhan, menurut Nunu, menjadi pembuka jalan untuk bisa berkomunikasi dengan efektif dengan sesama manusia, makhluk ciptaan Tuhan. “Kalau komunikasi dengan Sang Pencipta telah efektif, otornatis komunikasi dengan sesama manusia juga akan efektif. Itu tidak perlu diragukan.”

Tidak seperti yang diyakini banyak orang bahwa pengembangan kecerdasan spiritual ditentukan oleh hati, manajemen gelombangotak sangat vital dalam mengembangkan kecerdasan spiritual. Pikiran faktor kendali utama upaya manusia mendapatkan ketenangan hidup dan spiritualisrne keagamaan. Oleh karena itu, langkah awal meraih kecerdasan emosional dan spiritual harus dilakukan dengan penyelarasan otak melalui pro¬gram MindFocus!. “Program MindFocus! akan menghantarkan manusia meraih greatness,” ujar Nunu menyitir istilah yang dikemukakan oleh Steven Covey dalam bukunya 7 Habits dan yang terbaru 8 Hab¬its. “Saya memang hidup dalam lingkungan 7 Habits dan 8 Hab¬its,” akunya.

KEBERHASILAN mengelola gelombang pikiran harus dilanjutkan dengan pembenahan hati melalui pro¬gram HeartFocus!. Kalau pelatihan MindFocus! bertujuan meraih konsentrasi yangfokus atau keadaan khusyuk, maka pelatihan HeartFocus! ditujukan untuk mendapatkan kondisi ikhlas, rela, syukur, pasrah… Semua sikap tersebut merupakan syarat utama kesuksesan.termasuk dalam meraih kecerdasan emosional dan spiritual.

Kecerdasan emosional (EQ), menurut pakar psikologi Daniel Goleman, jauh lebih penting daripada IQ dalam membentuk pemmpin yang efektif. EQ jauh lebih menentukan keberhasilan orang meraih kesuksesan dalam hidupnya dibandingkan IQ. Untuk sukses, seseorang tidak bisa hanya mementingkan dirinya sendiri, tetapi juga harus bisa mengerti kebutuhan orang lain, memotivasinya, menjadi komunikator yang hebat, dan seterusnya. Sebelum memahami orang lain, ia harus memahami dirinya terlebih dahulu, memiliki citra diri yang baik, bersikap optimistik, dipercaya, adaptif, dan sebagainya. Repotnya, tidak banyak orang yang dibekali kemampuan in itu semua. Bagaimana caranya? Untuk menjawab pertanyaan ini, kita harus memahami keterbatasan emosi yang dimiliki setiap orang. Hasrat dan upaya untuk sukses bisa mengganggu hubungan dengan orang lain. Juga menghabiskan energi dan menyebabkan stres berlebihan.

terbatasan emosi itu sejatinya bisa dikembangkan. Melalui HeartFocus!, Nunu menjelaskan, setiap orang bisa mengeliminasi keterbatasan emosi tersebut. Dibantu teknologi yang telah dikembangkan dan terbukti, Katahati membantu setiap orang mengembangkan kemampuan emosinya, mencapai kepasrahan total, dan rneraih sukses dengan hati damai.
Hati yang bersih, ikhlas, dan selalu bersyukur atas segala rahmatNya merupakan kunci untuk meraih kesuksesan dengan hati yang damai. Pikiran dan hati yang bersih akan rnenjadi penangkal bagi setiap manusia untuk melakukan tindakan yang salah, korupsi misalnya. Pada saat disuap, melakukan penyimpangan, dan berbuat dosa lainnya, pikiran dan hatilah yang dengan cepat menyaring dan menolak untuk melakukannya. Ia mengendalikan seluruh perbuatan kita.

Sukses meraih IQ dan EQ melalui MindFocus! dan HeartFocus!, memberi jalan untuk sukses pula meraih SQ. Berdasarkan pengalaman Nunu dan Yudi Sujana, orang yang telah mengikuti kedua program tersebut sebenarnya telah memiliki sebagian besar SQ.

Dasarnya, sikap ikhlas, rela, syukur atau apapun namanya didasarkan pada keyakinan bahwa segala sesuatunya dalam hlidup ini ditentukan oleh Tuhan. Agama merupakan cara manusia mengenali Tuhan dan tunduk kepadaNya.
Katahati membantu setiap orang untuk meraih SQ dengan pelatihan SoulFocus!, yang bertujuan menyelaraskan gelombang jiwa manusia dengan Tuhan maupun sesama manusia. Landasan SoulFocus! tetap MindFocus! dan HeartFocus!. Program pelatihan ini akan memberikan jawaban siapa diri kita sebenarnya, sekaligus mengingatkan diri kita dalam universalisme kehidupan.

Berbagai pelatihan yang disediakan Katahati akan membawa manusia kepada fitrah kesempurnaannya. Sebab, menurut Nunu, manusia pada dasarnya diciptakan Tuhan sebagai makhluk yang sakti. Namun, kesaktian tersebut sering sirna karena hawa nafsu, pikiran dan hati manusia yang tidak bersih. “Pada saat manusia mulai rnerekayasa, takut tidak kebagian, dan menghalalkan segala cara, mulailah manusia kehilangan kesaktiannya,” tukas Nunu lagi. Pelatihan menuntun manusia meraih fitrahnya dengan membersihkan diri dari aura, vibrasi, dan hal-hal yang jelek lainnya. Bilamana vibrasinya sudah benar, tidak perlu lagi rekayasa apapun. Manusia tinggal menetapkan target laba, pangsa pasar atau apa saja keinginannya, selanjutnya kita tinggal menyaksikan perwujudannya. Tuhanlah yang akan mewujudkan semua keinginan itu. Menyaksikan keajaiban yang terjadi setiap saat dan mengucap syukur atas segala hal yang terjadi, makin memperkuat keyakinan kita terhadap Sang Pencipta.

Kembali ke inti persoalan yang dihadapi oleh bangsa ini, yaitu budaya korupsi yang sudah akut, maka pro¬gram pelatihan oleh Katahati ini perlu diberikan ke seluruh pejabat di Indonesia: pusat atau daerah; sipil ataupun militer; pejabat tinggi ataupun pejabat rendah. Pejabat merupakan pintu gerbang utama terjadinya korupsi.

Pemerintah rnemainkan peran penting tidak hanya dalam bidang ekonomi, politik, dan keamanan, tetapi lebih penting lagi dalam membangun manusia Indonesia seutuhnya. Manusia harus dibenerin dulu untuk bisa menghapus segala budaya negatif dan bangkit menjadi bangsa yang besar, bermartabat, dan berdaya saing tinggi.

Dewasa ini rnemang sudah ada beberapa pelatihan SQ yang dilakukan dengan peserta sebagian pejabat dan mantan pejabat. Pelatihan semacam ini jelas positif untuk mernperbaiki manusia Indonesia. Hanya saja, program pelatihan SQ itu kurang berdaya guna dalam jangka waktu lama. Memang banyak peserta yang menangis tersedu-sedu mengingat segala dosa dan kesalahan pada masa lampau pada saat program training berlangsung, namun efek penjeraannya semakin menurun dengan semakin lamanya waktu berjalan.

Sebagian besar peserta training SQ mengakui hal ini kepada Human Capital. “Ketika kernbali ke lingkungan masing-masing, kita terjebak lagi dengan nilai-nilai yang berlaku di lingkungan kita. Kalau setiap beberapa bulan harus ikut training SQ lagi, repot dan mahal juga,” ungkap mereka, yang semuanya minta tidak disebutkan identitasnya.
Menurut Nunu, penyebab hal ini karena pikiran dan hati manusia tidak diluruskan terlebih dahulu secara sistematis. Seseorang harus mampu mengelola dan mengendalikan pikiran dan hatinya untuk bisa cerdas secara spritual. Rangkaian pelatihan Katahati dimaksudkan untuk membuat sistem pertahanan yang berjangka lama kepada setiap peserta. Sehingga apapun godaannya, manusia tetap bisa mengambil keputusan terbaik.
“Kehidupan surgawi di dunia bukanlah hal yang tidak bisa diraih,” tukas Nunu*

Reactions:

0 comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...