Friday, November 25, 2011

Wah, Produk China Serbu Industri Kaca Nasional

istimewa 
Industri kaca lembaran nasional terancam serbuan impor produk sejenis dari China yang masuk ke dalam negeri, menyusul menurunnya permintaan dari Uni Eropa dan Amerika Serikat akibat krisis ekonomi yang melanda kawasan itu.
   
"Kami khawatir kalau Eropa dan AS tidak lagi mau membeli kaca dari China maka produksi kaca dari negeri itu akan mencari pasar baru seperti Indonesia yang berpotensi menerima kaca impor," kata Ketua Assosiasi Kaca Lembaran dan Pengaman Indonesia (AKLI), Samuel Rumbayan, usai pembukaan pameran "Glass Tech Asia 2011" di Jakarta, Rabu.
   
Ia mengatakan China merupakan konsumen sekaligus produsen kaca terbesar, dengan tingkat konsumsi mencapai 11kg/kapita/tahun. Sedangkan kemampuan produksi kaca di China mencapai 150 tungku atau 20 kali lipat dari Indonesia dengan delapan tungku atau setara dengan produksi 1,4 juta ton per tahun.
   
Dengan kemampuan produksi kaca di China yang besar itu, Samuel khawatir bila pasar ekspor kaca China di Uni Eropa dan AS melemah, maka kaca China akan menyerbu pasar Indonesia yang konsumsinya baru mencapai 2,3kg/kapita/tahun.
   
Di sisi lain, kata dia, industri kaca lembaran di dalam negeri sedang menghadapi masalah kenaikan harga gas untuk produksi sebesar 36 persen sejak 1 November 2011. Selain itu, lanjut dia, pasokan gas dari PGN pun masih kurang dari kebutuhan.
   
"Pemanfaatan kapasitas produksi kami baru sekitar 80 persen. Di dalam negeri kami dilemahkan (daya saingnya), dari luar negeri (China) masuk ke Indonesia," ujar Samuel.
   
Oleh karena itu, ia mengaku tidak menargetkan pertumbuhan yang besar tahun depan, mengingat dengan harga dan pasokan gas seperti saat ini maka pertumbuhan industri kaca lembaran hanya bisa mencapai 5-6 persen.
   
"Kalau harga gas naik dan pasokan gas kurang maka tidak bisa ada pertumbuhan (industri kaca). Apalagi menghadapi China yang menghasilkan produk yang efisien dan bersaing, sementara produk dalam negeri makin mahal akibat harga gas naik," ujarnya.
   
Komponen biaya gas, kata dia, mencapai 25 persen dari biaya produksi.
   
Namun, diakui Samuel, ada satu peraturan pemerintah yang membantu menghadang produk kaca lembaran dari China yang tidak berkualitas, yaitu penerapan Standar Nasional Indonesia (SNI) wajib pada produk tersebut. "Sebelum ada SNI, (kaca apa saja boleh masuk," ucapnya.
   
Ketua "Safety Glass" AKPL Yustinus H Gunawan, memperkirakan pada  2011 penjualan kaca lembaran mencapai 1,1 juta ton, terutama dari tiga pabrikan besar di dalam negeri yaitu Mulia Glass, Asahi Glass, dan Tossa di Semarang. "Sekitar 40-50 persen produksi kaca lembaran tersebut diekspor, terutama ke negara-negara di Asia," katanya.
   
Ia juga mengharapkan untuk menjaga pertumbuhan industri kaca nasional sebesar enam persen per tahun, maka hendaknya kenaikan harga gas disoalisasikan dulu dan dilakukan secara bertahap. (ant)

0 comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...