Friday, January 13, 2012

fakta Menunjukan Gambar Otak Psikopat Menunjukkan Struktur dan Fungsi yang Berbeda

Penelitian ini membandingkan otak 20 orang tahanan psikopat dengan otak 20 tahanan lain yang melakukan kejahatan serupa tapi tidak terdiagnosis sebagai psikopat.
Gambar-gambar otak para tahanan menunjukkan perbedaan yang penting di antara mereka yang terdiagnosis sebagai psikopat dan mereka yang tidak terdiagnosis psikopat, demikian hasil dari studi terbaru yang dipimpin para peneliti University of Wisconsin-Madison.
Studi ini menunjukkan bahwa psikopat mengalami pengurangan koneksi di antara korteks prefrontal ventromedial (vmPFC), bagian otak yang bertanggung jawab terhadap sentimen seperti empati dan rasa bersalah, dan amigdala, yang memediasi ketakutan dan kecemasan. Dua tipe gambar otak dikumpulkan. Gambar tensor difusi (DTI) menunjukkan adanya pengurangan integritas struktural dalam serat materi putih yang menghubungkan dua area, sementara jenis gambar kedua yang memetakan aktivitas otak, gambar resonansi magnetik fungsional (fMRI), menunjukkan aktivitas yang kurang terkoordinasi di antara vmPFC dan amigdala.
“Ini adalah studi pertama yang menunjukkan perbedaan struktural maupun fungsional dalam otak orang yang terdiagnosis sebagai psikopat,” kata Michael Koenigs, asisten profesor psikiatri di Fakultas Kedokteran dan Kesehatan Masyarakat University of Wisconsin. “Dua struktur di otak ini, yang diyakini mengatur perilaku emosi dan sosial, tampaknya tidak berkomunikasi sebagaimana semestinya.”
Penelitian ini, yang berlangsung di sebuah penjara keamanan menengah di Wisconsin, merupakan sebuah kolaborasi yang unik antara tiga laboratorium.
Profesor psikologi UW-Madison, Joseph Newman, telah memiliki kepentingan jangka panjang untuk mempelajari dan mendiagnosis psikopat dan telah bekerja secara ekstensif dalam sistem koreksi Wisconsin. Dr. Kent Kiehl, dari University of New Mexico dan MIND Research Network, memiliki scanner MRI mobile yang bisa dibawa ke penjara dan digunakan untuk memindai otak para tahanan. Koenigs dan mahasiswa pascasarjananya, Julian Motzkin, memimpin analisis pemindaian otak ini.
Penelitian ini membandingkan otak 20 orang tahanan psikopat dengan otak 20 tahanan lain yang melakukan kejahatan serupa tapi tidak terdiagnosis sebagai psikopat.
“Kombinasi kelainan struktural dan fungsional ini menyediakan bukti kuat bahwa disfungsi yang teramati dalam sirkuit sosial-emosional krusial merupakan karakteristik stabil pelanggar psikopat kami,” kata Newman. “Saya optimis bahwa pekerjaan kolaborasi kami yang sedang berlangsung ini akan menjelaskan lebih lanjut tentang sumber disfungsi dan strategi untuk mengobati masalah ini.”
Newman mencatat bahwa tidak satupun dari pekerjaan ini akan bisa terwujud tanpa dukungan luar biasa yang disediakan oleh Departemen Pemasyarakatan Wisconsin (DOC), yang ia sebut sebagai “mitra diam dalam penelitian ini.” Dia mengatakan bahwa DOC telah menunjukkan komitmen yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam mendukung perancangan penelitian untuk memfasilitasi diagnosis diferensial dan pengobatan tahanan.
Studi yang dipublikasikan dalam Journal of Neuroscience terbaru ini, didasarkan pada studi sebelumnya oleh Newman dan Koenigs, yang menunjukkan bahwa pengambilan keputusan psikopat mencerminkan bahwa pasien ini memiliki kerusakan pada korteks prefrontal ventromedial (vmPFC). Ini bukti sokongan bahwa masalah dalam bagian otak ini terhubung pada gangguan tersebut.
“Studi pengambilan keputusan secara tidak langsung menunjukkan apa yang ditunjukkan secara langsung pada penelitian ini – bahwa ada kelainan otak tertentu yang berhubungan dengan kejahatan psikopat,” tambah Koenigs.
Kredit: University of Wisconsin-Madison
Jurnal: Motzkin J, Newman JP, Kiehl K, Koenigs M. Reduced prefrontal connectivity in psychopathy. Journal of Neuroscience. (in press)

0 comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...