Friday, January 13, 2012

Kekalahan Awal Media Massa Konvensional

Oleh: Zaky Muzakir
Kecepatan adalah salah satu unsur berharga dalam sebuah berita. Di kalangan media, kecepatan yang menjelma sebagai aktualitas ini bahkan acap menjadi ukuran gengsi. Kalah cepat menayangkan berita dibanding media tetangga, terasa sebagai pukulan telak.
Tak heran media yang sedang Anda baca ini pun menempatkan unsur “aktual” dalam slogannya di urutan pertama, sebelum diikuti “tajam” dan “terpercaya”.
Tapi, kini media tidak lagi hanya bersaing dengan sesama media. Soal aktualitas, Anda bersama seluruh khalayak ramai bisa mengalahkan media konvensional.
Saat bom meledak di Hotel Ritz Carlton dan JW Marriott, Mega Kuningan, Jakarta Selatan, Jumat silam, misalnya. Sebagian besar rekaman video awal diambil oleh warga. Konon, video asap mengepul dari Ritz Carlton dan JW Marriott pascaledakan bom, diambil seorang warga dengan menggunakan telepon selular pribadi. Rekaman yang kemudian diulang-ulang sejumlah stasiun televisi itu disebut-sebut sebagai rekaman paling awal Bom Marriott II.
Kalau saja tragedi mengenaskan ini terjadi satu dekade silam, informasi tak akan selengkap dan secepat saat ini. Gambar seorang korban dibopong keluar lokasi ledakan, kecil kemungkinan terekam kamera media manapun. Hanya keberuntungan yang mampu mengantar wartawan secepat itu ke lokasi kejadian.
Setelah mampu menangkap kejadian lebih cepat, masyarakat kini mampu menyebarkan informasi ke khalayak banyak secara simultan. Dengan hanya bermodalkan sebuah ponsel pintar, masyarakat bisa saling berbagi informasi yang didapat dengan kecepatan yang tak pernah terbayangkan sebelumnya.
Sebagai gambaran, seorang warga di sekitar Mega Kuningan mampu menyusun informasi peristiwa ledakan bom segera setelah terjadi. Kemudian dengan ponsel pintar, masing-masing berbagi informasi melalui situs jejaring sosial seperti Facebook dan Twitter.
Perkembangan situasi bisa dilaporkan dari menit ke menit dari lapangan melalui ponsel antar-individu. Karakteristik media massa konvensional yang melembaga bakal sulit mengalahkannya. Bahkan, ketika bahan berita sampai ke meja redaksi pun, media butuh waktu lagi untuk melewati beberapa prosedur. Dalam keadaan genting, seperti Bom Marriott  II, biasanya keputusan-keputusan memang diambil lebih cepat. Beberapa prosedur pun bisa dilewati. Tapi tetap saja lebih lambat daripada individu menyebarkan berita lewat ponsel.
Kesimpulannya, teknologi informasi rupanya lebih memihak pada masyarakat banyak. Jika dulu informasi mengalir deras secara tak seimbang dari elite pemilik media yang sedikit ke khalayak massa yang banyak. Kini, informasi juga menyebar antar-individu dengan kecepatan melebihi kemampuan media massa.
Lantas, bagaimana masa depan media konvensional? Akankah suatu hari nanti, media massa sebagai sumber informasi ini tergantikan oleh jurnalisme kolektif individual? Mengingat penetrasi internet dan kepemilikan gadget canggih yang dimiliki individu pun terus meningkat.
Bisa jadi, pertanyaan itu memang terlalu dini dilontarkan. Sebab, ketajaman dan keterpercayaan seperti dua kata terakhir dalam slogan Liputan 6 belum dijawab dengan fasih oleh jurnalis individual. Ketajaman berita secara teori lebih mudah diraih oleh awak media terlatih dan profesional. Begitu pula dengan keterpercayaan. Integritas berbagai media mapan masih terlalu jauh untuk dikalahkan individu.
Tapi yang jelas, masyarakat yang didukung dengan teknologi informasi dan berbagai situs jejaring sosial sudah mulai mencuri salah satu unsur kekuatan media massa dalam menyediakan informasi; aktualitas. Sebuah ancaman yang sudah seharusnya disadari para pengelola media massa. Tinggal selanjutnya media massa menentukan reaksi atas perubahan sosial yang sudah terjadi ini. Sebagai penutup, peribahasa berikut bisa menjadi pegangan yang bijaksana, “If you can’t beat them, join them.”

0 comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...