Follow by Email

Saturday, January 8, 2011

INDONESIA YANG DITINGGALKAN DUNIA? Kajian perekonomian dari sudut daya saing menyimpulkan, Indonesia tak memiliki daya tarik lagi bagi investor asing.

Krisis mendapat lahan subur di Indonesia, rupanya. Mula-mula hanyalah krisis moneter yang populer disebut sebagai krismon. Lalu krisis itu berkembang menjadi krisis ekonomi. Kini, sudah ada gejala krisis bakal menjadi lebih serius: krisis kepercayaan.

Gejala itu terpantau ketika pabrik Sony pindah dari Jawa Barat ke Vietnam. Lalu sebagian Honda juga hengkang dari Indonesia, dan memilih Thailand. Yang baru, Rio Tinto (Australia) dan Beyond Petroleum (Inggris) menjual 100% kepemilikan tambang batu bara di Kalimantan Timur (KPC). Apa yang terjadi?

Sebuah kajian menyimpulkan, itu terjadi karena Indonesia tak lagi mengerasankan buat investor asing yang semula merasa di kampung sendiri. Celakanya, kajian ini juga menyimpulkan, pun Indonesia tak lagi punya daya tarik buat investor asing yang masih di luar. Padahal, daya tarik adalah salah satu unsur yang membentuk kekuatan yang lebih besar, yakni daya saing.

Ibarat sebuah perusahaan, sebuah negara harus bersaing dengan negara-negara lain guna memenangi kompetisi perekonomian. Sejarah daya saing setua keberadaan komunitas-komunitas yang kemudian membentuk kelompok lebih besar kemudian disebut bangsa. Peperangan antarkomunitas, antarbangsa adalah salah satu bentuk daya saing paling awal. Untuk meningkatkan kesejahteraan, suatu komunitas atau bangsa menyerbu komunitas atau bangsa lain, merebut wilayah dan penduduknya. Peperangan ini bisa ditarik jauh ke depan dan inilah yang dicatat sejarah sebagai zaman kolonial, ketika bangsa Eropa menjajah kawasan Asia-Pasifik dan Afrika.

Berkembangnya peradaban dunia, kemudian, mengubah perang sebagai kekuatan daya saing dalam kaitan perekonomian dalam bentuk lain. Akhirnya, para pakar daya saing berhasil merumuskan unsur-unsur daya saing yang menjadi pegangan hingga sekarang. Salah satu rumusan yang paling diterima secara global datang dari Institut for Management Development (IMD). Itulah sebuah lembaga pendidikan bisnis berkedudukan di Swiss, didirikan pada awal 1990. Setiap tahun IMD menerbitkan buku laporan tentang naik-turunnya daya saing negara-negara di dunia.

IMD makin mempromosikan pentingnya daya saing setelah terbentuk World Trade Organization (WTO), Organisasi Perdagangan Dunia, pada Januari 1995. WTO meyakini bahwa perdagangan bebas adalah satu-satunya cara guna menghindari resesi dunia seperti yang pernah terjadi pada tahun 1930-an. Sebab, begitu para ahli di IMD bilang, resesi itu akibat negara-negara saling memproteksi produk-produk tertentu. Ketertutupan menjadikan suatu negara yang ditimpa krisis ekonomi tak mudah mendapat atau minta bantuan negara lain. Yang terjadi, krisis menjalar dan menular ke negara-negara lain.

Dengan pasar bebas, IMD meyakini, justru tiap-tiap negara akan memperkuat diri di sektor ekonomi. Sebab, tanpa melakukan hal itu, sebuah negara terancam kalah dalam persaingan. Karena itu daya saing suatu bangsa menjadi sangat penting. Dengan daya saing itulah sebuah bangsa menciptakan dan mempertahankan kondisi yang memungkinkan perusahaan-perusahaannya selalu bisa meningkatkan produktivitasnya, dan memberikan lebih besar kemakmuran bagi orang-orang.

Daya saing ternyata tak hanya dibentuk oleh faktor-faktor yang berkaitan langsung dengan ekonomi produktivitas dan jasa. Daya saing tak bakal terbentuk kokoh dan bernapas panjang tanpa faktor nonekonomiĆ¢€” pendidikan dan adanya sistem nilai-nilai. Tersebut terakhir itu antara lain berupa sikap bangsa itu terhadap kerja, kekayaan, tanggung jawab sosial.

Lalu bagaimana melihat daya saing nan abstrak itu dalam hidup sehari-hari, sehingga kita bisa mengukur seberapa besar sebetulnya daya saing kita? Ada empat faktor yang bisa diukur, yakni kinerja ekonomi (lihat Vietnam Menyalip Kita); efisiensi pemerintahan ; efisiensi perusahaan ; dan sarana-sarana yang tersedia Dari empat hal tersebut, ternyata daya saing Indonesia hanya unggul bila melawan daya saing Nigeria dan Bangladesh. Lalu, apa yang harus dilakukan?
Teoretis, menurut IMD, suatu bangsa harus menentukan dan mengembangkan pilihan pada hal-hal yang mendasari empat faktor tadi. Yakni, daya tarik dan agresivitas; sistem ekonomi tertutup dan terbuka; ihwal aset dan proses; dan masalah individual dan sosial.
Tentu, semua itu tergantung ada-tidaknya kemauan politik pemerintah, dan semangat masyarakat untuk tak menjadi bangsa terkebelakang.

Reactions:

0 comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...