Thursday, December 15, 2011

Berapa Lama Kebanyakan Orang 'Bercinta'..?

Ada yang suka 'main' lama, disisi lain ada juga yang lebih suka 'quicky', nah selera orang memang jelas tidak sama satu sama lain 
Bicara soal berhubungan seks, timbul banyak perdebatan tentang durasi waktu yang dibutuhkan bagi pasangan untuk mencapai kenikmatan. Sebagian orang mengaku lebih suka melakukan quickie (seks cepat) dan sebagian lagi mengaku jika lebih lama, seks akan terasa lebih menyenangkan.
Perbedaan pendapat tersebut pun menimbulkan pertanyaan, berapa sebenarnya durasi yang tepat untuk bercinta? Berdasarkan penemuan dari beberapa ahli seperti psikolog, psikiater dan konselor pernikahan yang tergabung dalam Society for Sex Therapy and Research, durasi yang dianggap ideal adalah 3-7 menit.
Durasi tersebut, dihitung dari mulainya pria dan wanita melakukan penetrasi hingga terjadinya ejakulasi (tidak termasuk foreplay). Hubungan seks yang berlangsung dari 1-2 menit, dinilai terlalu cepat, sementara 10-30 menit dianggap terlalu lama dan bisa menyebabkan kelelahan.
Meskipun telah diketahui durasi paling ideal untuk bercinta, menurut penelitian, lama waktu bercinta yang paling diinginkan pasangan ternyata berkisar antara 7-13 menit. Ada pula beberapa pasangan yang mengharapkan, penetrasi seks bisa berlangsung hingga 30 menit atau lebih karena menganggap hal tersebut bisa lebih memuaskan mereka.
Faktor yang dialami sebagian pasangan tersebut lah, yang memicu orang jadi kecewa dan tidak puas dalam kehidupan seks mereka. Menurut Eric Corty yang memimpin sejumlah penelitian soal seks, tuntutan untuk memberi kepuasan lebih lama pada pasangan kerap membuat mereka stres karena takut pasangannya kecewa jika tidak bisa berhubungan seks lebih lama.
"Melalui penelitian ini, kami ingin membantah anggapan yang salah tentang lama durasi bercinta. Dengan beberapa data ilmiah, kami mencoba menekankan bahwa kepuasan seks tidak selalu tergantung dari lama/tidaknya hubungan seks. Itu bisa mencegah frustasi dan stres karena masalah seks," jelas Corty, seperti dikutip dari Intimate Medicine.
Corty menambahkan, data ilmiah tersebut juga bertujuan membantu pasangan dengan masalah kekhawatiran mengenai durasi saat bercinta.
"Dengan data ini, kemungkinan bisa membantu seseorang untuk menghilangkan rasa khawatir sekaligus mengurangi gangguan psikologis karena merasa tidak bisa memuaskan pasangannya," ujarnya.

Wanita yang Pasangan Pria-nya Lebih Gemuk pantas Bersyukur

Wanita merasa Pasangan Prianya Gemuk..? Bersyukurlah, karena Pasangan dengan Pria yang lebih gemuk memiliki kemungkinan bahagia yang lebih besar lho. Sebuah penelitian dari University of Tennessee mengklaim bahwa berat badan istri yang lebih rendah dari suami menjadi kunci pernikahan bahagia. 

Seperti dikutip dari laman Times of India, penelitian yang dilakukan selama empat tahun tersebut mengungkap bahwa rumah tangga lebih harmonis dengan tingkat kepuasan tinggi ketika istri memiliki indeks massa tubuh (IMT) lebih rendah dari suami. 

Para peneliti menyimpulkan bahwa awalnya pria bisa mempertahankan hubungan dan merasa betah di rumah karena telah menemukan pasangan yang lebih ramping. Pria memandang wanita dengan porsi tubuh ideal lebih menarik daripada wanita dengan banyak timbunan lemak. Ini membuat wanita merasa dicintai, lebih percaya diri dan nyaman. 

Dalam penelitian ini, mereka melibatkan 169 pasangan menikah terpilih berusia di bawah 35 tahun. Mereka menghitung IMT masing-masing pasangan. 

IMT dihitung dari berat badan (kilogram) dibagi tinggi badan kuadrat (meter persegi). Sebagai gambaran, seseorang berbobot 70 kilogram dan tinggi badan 160 sentimeter memiliki IMT 27,4 kilogram per meter persegi. Angka yang Angka itu muncul setelah membagi bilangan 70 kilogram dengan 2,56 meter persegi (1,6 meter x 1,6 meter).

Hasilnya, suami yang memiliki IMT lebih tinggi dari istri lebih bahagia dalam perjalanan pernikahan mereka. Efek yang sama juga terjadi pada wanita. Istri dengan BMI lebih rendah dari suami cenderung lebih bahagia dibandingkan wanita dengan IMT sama atau lebih tinggi dari suaminya.

“Pesan yang perlu diingat dari penelitian kami, bahwa wanita dengan berbagai ukuran tubuh bisa bahagia dengan pernikahan mereka asalkan memiliki pasangan yang tepat. Dan berat badan relatif itu sangat penting, tapi bukan berarti wanita harus menjadi kurus,” ujar penulis studi Andrea Meltzer.

Monday, December 12, 2011

Heboh!!!Astronom Menemukan 18 Planet Baru

Penemuan planet-planet baru terus terjadi. Ambil sebagai contoh, 18 planet baru yang ditemukan oleh sebuah tim astronom baru-baru ini yang dipimpin oleh para ilmuan dari Institut Teknologi California (Caltech).
“Ini adalah pengumuman tunggal planet terbesar dalam orbit mengelilingi bintang lebih masif dari matahari, selain penemuan yang dibuat oleh misi Kepler,” kata  John Johnson, asisten professor astronomi di Caltech dan pengarang perdana makalah tim ini, yang diterbitkan dalam edisi Desember   The Astrophysical Journal Supplement. Misi Kepler adalah teleskop antariksa yang sejauh ini telah menemukan lebih dari 1200 kemungkinan planet, walaupun mayoritasnya belum dikonfirmasi.
 Menggunakan Observatorium Keck di Hawaii – dengan pengamatan lanjutan menggunakan Observatorium McDonald dan Fairborn di Texas dan Arizona – para peneliti meninjau sekitar 300 bintang. Mereka berfokus pada apa yang disebut bintang tipe-A pensiunan yang lebih dari satu setengah kali lebih masif dari matahari. Bintang-bintang ini baru saja melewati tahap utama dalam hidup mereka – dari sini istilah “pensiunan” diambil – dan sekarang sedang mengembang menuju apa yang disebut bintang subraksasa.
 Untuk mencari planet, para astronom mencari bintang-bintang tipe ini yang bergoyang, yang dapat disebabkan oleh pertandingan gravitasi dengan planet yang mengorbitnya. Dengan mencari ingsutan Doppler – pemanjangan dan kontraksi panjang gelombang karena gerakan menjauh dan mendekati pengamat – spectrum bintang yang bergoyang, tim ini menemukan 18 planet dengan massa sama dengan Yupiter.
Perburuan baru ini menandai 50 persen peningkatan jumlah planet yang diketahui mengorbit bintang masif, menurut Johnson, memberikan populasi berharga sistem planet untuk memahami bagaimana planet – dan tata surya kita – terbentuk. Para peneliti mengatakan kalau penemuan ini juga mendukung teori kalau planet tumbuh dari partikel benih yang menumpuk gas dan debu dalam sebuah cakram mengelilingi sebuah bintang baru.
 Menurut teori ini, partikel kecil mulai menggerombol, pada akhirnya menjadi bola planet. Bila ini merupakan urutan peristiwa yang benar, karakteristik sistem planet yang dihasilkan – seperti jumlah dan ukuran planet, atau bentuk orbit mereka – akan tergantung pada massa bintang. Sebagai contoh, bintang yang lebih massif akan memiliki cakram yang lebih besar, yang pada gilirannya memiliki lebih banyak bahan untuk menghasilkan jumlah planet raksasa yang lebih banyak.
Dalam teori lain, planet terbentuk ketika sejumlah besar gas dan debu dalam cakram secara spontan runtuh menjadi bongkahan besar padat yang kemudian menjadi planet. Namun dalam gambaran ini, ternyata massa bintang tidak mempengaruhi jenis planet yang dihasilkan.
 Sejauh ini, jumlah planet yang ditemukan terus bertambah, para astronom menemukan kalau massa bintang memang tampak penting dalam menentukan jumlah planet raksasa. Planet-planet yang baru ditemukan mendukung pola ini – dan karenanya ia konsisten dengan teori pertama, teori yang menyatakan kalau planet lahir dari partikel-partikel benih.
“Senang melihat semua garis bukti ini memusat menunjuk pada satu kelas mekanisme pembentukan,” kata Johnson.
Ada hal lain yang menarik, tambahnya: “Bukan hanya kami menemukan planet mirip Yupiter lebih sering di sekitar bintang masif, namun kami menemukannya dalam orbit yang lebih lebar.” Jika anda mengambil contoh dari 18 planet yang mengelilingi bintang mirip matahari, jelasnya, separuh darinya akan memiliki orbit dekat dengan bintang mereka. Namun dalam kasus planet baru, semuanya lebih jauh, setidaknya 0,7 satuan astronomi dari bintang mereka. (Satu satuan astronomi, atau SA, adalah jarak dari Bumi ke matahari.)
Dalam sistem dengan bintang mirip matahari, raksasa gas seperti Yupiter memerlukan orbit dekat ketika mereka bermigrasi menuju bintang mereka. Menurut teori pembentukan planet, raksasa gas hanya dapat terbentuk jauh dari bintang mereka, dimana cukup dingin bagi gas dan es penyusunnya bisa hadir. Jadi untuk raksasa gas yang mengorbit dekat dengan bintangnya, interaksi gravitasi tertentu harus terjadi untuk menarik planet ini. Kemudian, beberapa mekanisme lain – mungkin medan magnet bintang – harus masuk untuk mencegah mereka memuntir masuk ke dalam bintang.
Pertanyaannya, kata Johnson, adalah mengapa hal ini tidak terjadi dengan Yupiter panas yang mengorbit bintang masif, dan apakah kematian ini karena sifat dasar atau lingkungan. Dalam penjelasan sifat dasar, planet mirip Yupiter yang mengorbit bintang masif tidak akan bermigrasi masuk. Dalam penjelasan lingkungan, planet akan masuk, namun tidak akan ada yang mampu mencegahnya tercebur ke bintang mereka. Atau mungkin bintangnya berevolusi dan menelan, mengkonsumsi planet mereka. Mana yang benar? Menurut Johnson, subraksasa seperti bintang A yang mereka cari dalam makalah ini tidak mengembang cukup untuk memangsa Yupiter panas. Jadi, kecuali bintang A punya karakteristik unik yang dapat mencegah mereka berhenti memindahkan planet – seperti kurangnya medan magnet di awal hidup mereka – tampaknya penjelasan sifat dasar lebih masuk akal.
Daftar planet baru ini juga menunjukkan pola lain yang menarik: orbit mereka umumnya melingkar, sementara planet yang mengelilingi bintang mirip matahari membentang dalam jalur melingkar yang agak lonjong hingga sangat lonjong. Johnson mengatakan kalau ia sekarang sedang mencari penjelasannya.
Bagi Johnson, penemuan ini telah lama diharapkan. Penemuan sekarang, misalnya, dating dari sebuah survey astronomi yang ia awali saat masih mahasiswa pasca sarjana; karena planet-planet ini memiliki orbit lebar, mereka menghabiskan beberapa tahun untuk membuat satu revolusi, berarti perlu pula beberapa tahun sebelum goyangan periodic bintang mereka tampak bagi seorang pengamat. Sekarang, penemuan ini akhirnya muncul. “Saya membayangkannya seperti sebuah taman – anda menanam benihnya dan bekerja keras untuknya,” katanya. “Lalu, satu decade kemudian, taman anda menjadi besar dan makmur. Itu yang saya rasakan sekarang. Taman saya penuh dengan tomat besar, terang, dan segar – planet-planet berukuran Yupiter ini.”
Pengarang lain makalah The Astrophysical Journal Supplement Series berjudul “Retired A stars and their companions VII. Eighteen new Jovian planets,” mencakup bekas mahasiswa s1 Caltech,   Christian Clanton, yang lulus tahun 2010; sarjana pasca doctoral Caltech   Justin Crepp; dan Sembilan lainnya dari Insitut Astronomi Universitas Hawaii; Universitas California di Berkeley, Pusat Ekselensi Sistem Informasi di   Tennessee State University; McDonald Observatory di University of Texas, Austin; dan Pennsylvania State University. Penelitian ini didukung oleh National Science Foundation dan NASA.
Sumber berita:
Referensi lanjut:
John Asher Johnson, Christian Clanton, Andrew W. Howard, Brendan P. Bowler, Gregory W. Henry, Geoffrey W. Marcy, Justin R. Crepp, Michael Endl, William D. Cochran, Phillip J. MacQueen, Jason T. Wright, Howard Isaacson. Retired A Stars and Their Companions. VII. 18 New Jovian Planets. The Astrophysical Journal Supplement Series, 2011; 197 (2): 26 DOI: 10.1088/0067-0049/197/2/26

Hebat!!!Robot Pembuang Bom Siap untuk Aksi Garis Depan


Universitas Greenwich telah bergabung dengan sebuah perusahaan berbasis Kent dalam perancangan dan pembuatan sebuah robot pembuang bom untuk digunakan oleh petugas keamanan, termasuk angkatan bersenjata Inggris.

Organisasi tersebut telah bekerjasama menciptakan kendaraan yang dioperasikan dari jarak jauh yang ringan atau robot, yang dapat dikendalikan oleh perangkat nirkabel, seperti konsol game, dari jarak beberapa ratus meter.
 Robot inovatif ini, yang dapat mendaki tangga dan bahkan membuka pintu, akan digunakan oleh para perwira dalam misi pembuangan bom di Negara-negara seperti Afghanistan.
 Para pakar dari Jurusan Teknik Komputer dan Komunikasi, berbasis di Sekolah Teknik Universitas tersebut, bekerja pada proyek bersama   NIC Instruments Limited dari Folkestone, pabrik peralatan pembuangan bom dan pencarian keamanan.
Jauh lebih ringan dan lebih fleksibel daripada unit pembuang bom tradisional, robot ini lebih mudah dibawa oleh prajurit dan lebih mudah pula digunakan di medan. Ia memiliki kamera, yang merelay citra ke operatornya lewat control tangan, dan mencakup pemegang yang dapat membawa dan memanipulasi benda-benda.
 Robot ini juga memiliki sensor-sensor senjata nuklir, biologis, dan kimia.
Berukuran hanya 72 cm kali 35 cm, robot ini beratnya 48 kilogram dan dapat bergerak pada laju hingga 13 km per jam.
Sumber berita:

Agresifitas Wanita Terhadap Pesaing Seksualnya

Penelitian baru yang dilakukan di Universitas McMaster menunjukkan bahwa wanita yang bersaing untuk mendapatkan perhatian pria menjadi lebih agresif terhadap wanita lain yang mereka pandang sebagai saingan seksual, adegan yang biasanya sering kita saksikan di acara sinetron TV atau film.
Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Aggressive Behaviour ini, mengeksplorasi kompetisi wanita dari perspektif evolusi, menunjukkan bahwa hal ini bukan hanya sebuah fenomena di televisi, tetapi juga terjadi di tempat-tempat kerja dan sekolah.
Tim peneliti dari Universitas McMaster dan Ottawa merekam bagaimana para mahasiswi – antara usia 17 dan 28 tahun – bereaksi terhadap mahasiswi muda yang menarik yang memasuki ruangan dalam pakaian yang cukup provokatif.
Ketika mengenakan jeans, t-shirt dan khaki sederhana, seorang mahasiswi sangat sulit menjadi perhatian. Namun ketika ia mengenakan rok berpotongan atas rendah dan mini, perempuan lain lebih mungkin untuk menggeser mata mereka atau menatapnya. Ketika dia meninggalkan ruangan, banyak yang tertawa dan mengejek penampilannya.
Sekelompok wanita yang terpisah kemudian diminta untuk melihat rekaman video itu dan memberi peringkat pada reaksi masing-masing peserta dalam hal agresi. Hasilnya menunjukkan bahwa hampir semua wanita bermusuhan terhadap perempuan yang berpakaian dengan cara provokatif. Para wanita yang menarik menjadi sasaran ejekan verbal dan non-verbal.
“Penelitian ini mungkin membantu menjelaskan mengapa media populer, yang sering menggambarkan perempuan yang berlomba-lomba memperoleh perhatian laki-laki, telah seperti menjadi basis audiens perempuan yang kuat,” jelas Aanchal Sharma, lulusan dari Departemen Psikologi, Neuroscience & Perilaku, yang melakukan studi sebagai bagian dari riset doktor. “Pada tingkat tertentu, konflik dan komentar adalah hal yang menarik untuk pemirsa wanita, karena mereka mampu mengenali situasi yang digambarkan.”
Menelusuri temuan teori evolusi, artikel ini menunjukkan bahwa perempuan sulit mendeteksi setiap bentuk perilaku dan penampilan yang memberi sinyal ketersediaan seksual yang, pada gilirannya, bisa mengurangi tingkat keinginan mereka sendiri. Terlibat dalam agresi merupakan suatu cara agar dapat menghindari pesaing.
Temuan ini berimplikasi lebih luas tentang anak-anak nakal yang sering jadi pengganggu siswa lainnya di sekolah, kata Sharma.
“Telah ada banyak tekanan untuk reformasi kebijakan pendidikan dalam menanggapi pengganggu siswa sebagai isu yang berkembang. Pekerjaan kami memberikan dukungan terhadap akar konflik bawaan perempuan,” katanya. “Meskipun kita mungkin tidak dapat mencegah pikiran negatif dan emosi yang mendorong konflik di antara perempuan, penelitian ini tentu menjadi titik awal untuk mengenali asal-usul perilaku dan menginformasikan faktor-faktor apa yang perlu dipertimbangkan dalam proses resolusi.”
Kredit: Universitas McMaster
Jurnal: Tracy Vaillancourt, Aanchal Sharma. Intolerance of sexy peers: intrasexual competition among women. Aggressive behavior (impact factor: 1.7). 09/2011; DOI: 10.1002/ab.20413
from: faktailmiah.com

Friday, December 9, 2011

Studi Menunjukkan, Katak Mungkin Mampu Memprediksi Gempa

Setelah beberapa percobaan di laboratorium, para peneliti menulis bahwa ketika bebatuan bawah tanah berada di bawah tekanan sebagai akibat dari proses geologis, mereka melepaskan partikel-partikel bermuatan.

Yang menyusahkan dari gempa bumi, selain kehancuran yang ditimbulkannya, adalah sifatnya yang terbukti hampir mustahil untuk diprediksi meskipun banyak upaya untuk tujuan itu; karena dengan mampu melakukannya, jelas akan menyelamatkan banyak nyawa. Selain itu, meskipun kenyataannya ada bukti bersifat anekdot yang menunjukkan bahwa beberapa hewan mungkin memiliki kemampuan bawaan dalam memprediksi gempa, penelitian modern justru tetap berfokus untuk mempelajari bumi, bebatuan, kesalahan-kesalahan, dan lain sebagainya.
Ahli biologi Rachel Grant, dari Open University Inggris telah menemukan bukti bahwa katak dapat memprediksi gempa hingga beberapa hari sebelum dataran mulai bergetar. Bekerja sama dengan ahli geofisika NASA, Friedemann Freund, dan rekan-rekan lainnya, temuan ini dideskripsikan dalam Journal of Environmental Research and Public Health, menunjukkan bahwa hai ini mungkin karena adanya perubahan pada air kolam, tempat di mana katak-katak tinggal.
Grant mempelajari katak-katak yang hidup di sebuah kolam dekat L’Aquila, Italia, pada tahun 2009, di hari-hari sebelum bencana gempa bumi melanda. Dalam beberapa hari sebelum gempa itu terjadi, ia mencatat bahwa katak-katak itu mulai pergi. Jumlah mereka menurun dari hanya di bawah seratus, hingga ke nol, dan Grant menulis tentang pengamatannya ini dalam Journal of Zoology.
Setelah beberapa percobaan di laboratorium, para peneliti menulis bahwa ketika bebatuan bawah tanah berada di bawah tekanan sebagai akibat dari proses geologis, mereka melepaskan partikel-partikel bermuatan. Partikel-partikel tersebut dapat sangat cepat naik ke atas permukaan bumi, mempengaruhi berbagai hal seperti air kolam dan bahan-bahan biologis di dalamnya.
Dalam kasus kolam di Italia, katak-katak itu mungkin bereaksi terhadap perubahan yang mereka rasakan dalam air itu sendiri sebagaimana ion-ion berinteraksi dengan bereaksi membentuk sejumlah hidrogen peroksida. Atau mungkin ion-ion berinteraksi dengan bahan organik di dalam kolam yang menyebabkan zat-zat yang dirilis cukup beracun atau kurang berbahaya, namun cukup menjengkelkan. Yang jelas, katak-katak itu menyingkir sebelum gempa terjadi.
Masalahnya, untuk membuktikan teori ini, tentu saja mereka harus tahu kapan dan di mana kira-kira gempa akan terjadi sehingga memungkinkan mereka untuk mendirikan pengujian sebelumnya. Mungkin yang terbaik yang bisa dilakukan pada titik ini adalah menyebarkan informasi tersebut ke seluruh dunia, sehingga jika ada yang kebetulan tinggal di dekat kolam, dan menyadari bahwa katak-katak yang tinggal di situ mulai bepergian, mungkin cukup bijaksana baginya untuk mengikuti hewan-hewan itu.
Kredit: Open University
Jurnal: Rachel A. Grant, Tim Halliday, Werner P. Balderer, Fanny Leuenberger, Michelle Newcomer, Gary Cyr, Friedemann T. Freund. Ground Water Chemistry Changes before Major Earthquakes and Possible Effects on Animals. Journal of Environmental Research and Public Health, 2011, 8(6), 1936-1956. DOI: 10.3390/ijerph8061936

Studi Menunjukkan, Peningkatan Pendidikan Mengurangi Tingkat Kejahatan

"Dalam hal pengurangan kejahatan, kebijakan yang menaikkan tingkat kelulusan sekolah tinggi atau yang meningkatkan kualitas sekolah dan kesempatan belajar anak usia dini, khususnya pada masyarakat yang kurang beruntung, cenderung lebih berhasil daripada kebijakan yang bertujuan meningkatkan ketersediaan kampus dan universitas."

Penelitian terbaru dari Pusat CIBC untuk Kapital dan Produktivitas Manusia di University of Western Ontario menunjukkan bahwa pendidikan, dan yang terkait inisiatif berbasis pendidikan, dapat mengurangi tingkat kejahatan, meningkatkan kesehatan, tingkat kematian yang lebih rendah, dan meningkatkan partisipasi politik.
“Manfaat-manfaat sosial dari pengurangan tingkat kejahatan dan kematian tampaknya cukup besar,” kata Lochner. “Sebagai contoh, perkiraan menunjukkan bahwa naiknya tingkat kelulusan sekolah tinggi di Amerika Serikat pada tahun 1990 menghasilkan hampir 100.000 kejahatan lebih sedikit, memberikan manfaat tahunan senilai lebih dari 2 miliar dolar. Manfaat sosial dari penurunan angka kematian kemungkinan akan sama besarnya.”
Perkiraan manfaat dari pengurangan kejahatan adalah serupa di Amerika Serikat dan Eropa namun diperkirakan dampak-dampak pendidikan pada kesehatan, kematian, dan partisipasi politik tampaknya lemah di Eropa.
“Kasus terkuat bagi tindakan pemerintah didasarkan pada efek pendidikan terhadap kejahatan karena eksternalitasnya yang signifikan,” tambah Lochner. “Dalam hal pengurangan kejahatan, kebijakan yang menaikkan tingkat kelulusan sekolah tinggi atau yang meningkatkan kualitas sekolah dan kesempatan belajar anak usia dini, khususnya pada masyarakat yang kurang beruntung, cenderung lebih berhasil daripada kebijakan yang bertujuan meningkatkan ketersediaan kampus dan universitas.”
Kredit: University of Western Ontario
Jurnal: Lance Lochner. The Impacts of Education on Crime, Health and Mortality, and Civic Participation. CIBC Centre for Human Capital and Productivity, 3 Desember 2011. [pdf]

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...