Showing posts with label motivasi. Show all posts
Showing posts with label motivasi. Show all posts

Saturday, February 11, 2012

4 Misteri Dibalik Cara Hidup Masyarakat Jepang


Orang Jepang selalu terlihat misterius. Mereka biasanya jarang tersenyum, kaku dan terlihat sering saling tingkah. Mengetahui ada apa dibalik kebiasaan yang sering dilakukan mungkin dapat sedikit menyibak kemisteriusannya.
Kimono, sumo, sumpit dan sake adalah empat hal yang selalu berkaitan dengan Jepang. Ketiga hal itu juga banyak mempengaruhi cara hidup mereka.







1. Kimono



















Kimono misalnya, baju tradisional ini ternyata bukan sekedar penutup tubuh. Banyak falsafah hidup yang terkandung di dalamnya. Mengenakan kimono tidak boleh sembarang. Ada aturan baku yang harus diikuti. Tidak hanya itu, banyak hal unik yang dilakukan masyarakat berkaitan dengan hal-hal tersebut.

2. Sumpit













Sumpit tidak bisa dipisahkan dalam tata cara makan. Sebagian besar orang Jepang akan mematahkan sumpitnya menjadi dua bagian selesai makan. Menurut adat, apabila sumpit tidak dipatahkan, mereka akan terserang suatu penyak
it akibat makanan tersebut. Namun, saat ini tradisi tersebut hanya dilakukan saat bersantap di restoran. Untuk bersantap di rumah, setiap anggota keluarga menyimpan sendiri sumpit masing-masing. Bertukar sumpit tabu dilakukan karena dapat dianggap membawa sial.
Budaya yang dipengaruhi agama Budha juga mempengaruhi pentingnya benda ini. Masyarakat Jepang selalu menyediakan semacam se
saji untuk arwah kerabatnya yang berbentuk semangkuk nasi dengan sepasang sumpit yang tertancap tegak lurus ditengah nasi. Sepintas benda ini akan berbentuk seperti kuburan dengan sumpit sebagai nisannya.

3. Sumo












Kita mungkin bertanya mengapa pemain Sumo selalu berbadan gendut dan besar. Memang , syarat utama pemain Sumo adalah, lelaki dengan struktur tulang besar, dan mampu dan mau menambah berat badannya. tidak semua pemain sumo besar sejak kecil. Malah, banyak yang menjadi besar dan gendut setelah masuk pelatihan khusus. Ketika seseorang sudah diterima sebagai pemain sumo, ia harus mampu menjaga “kebesaran” badannnya.
Banyak anak muda yang bercita-cita sebagai pemain sumo. Hal ini d
apat dimengerti karena seorang juara sumo mendapat tempat istimewa dalam masyarakat. Setiap pemain dianggap dewa daerah asalnya. Dua orang petarung dianggap mewakili Dewa Gunung (Yamasachichiko) dan Dewa Lautan (Umisachichiko). Sebagai juara dia berhak memperoleh fasilitas mobil lengkap dengan bahan bakarnya selama setahun penuh (bensin sangat mahal di Jepang). Ia juga berhak memperoleh seribu jamur shiitake dan seekor sapi setiap kali makan. Selain itu, ia juga berhak mengk
onsumsi minuman cola sesuka hatinya.

4. Sake











Minuman tradisional ini harus diminum dalam cangkir yang kecil. Hal ini berkaitan dengan tradisi Jepang Kuno. Nenek moyang mereka selalu makan dengan tempat yang terbuat dari kulit kerang besar. Sedangkan kulit kerang kcil digunakan sebagai cawan air. Maka, saat ini minuman harus selalu ditempatkan di wadah kecil. Sedangkan makanan dalam wadah yang lebih besar. Setiap orang yang hendak minum, harus menuangkannya untuk temannya terlebih dulu. Pada acara minum, pantang menuangkannya untuk diri sendiri.
Mabuk setelah minum sake adalah hal yang biasa. Apalagi minuman dengan kadar alkohol tinggi ini (sekitar 20%) harus selalu hadir dalam setiap acara. Sejak remaja mereka sudah boleh minum sake. Namun, tentu saja hanya satu atau dua cangkir. Sake selalu disajikan dalam tiga kategori. Dari yang biasa sampai spesial. Jenis sake yang paling biasa disebut nikyu. Kualitas yang diatasnya disebut ikkyu. Sedangkan yang spesial disebut tokkyu. Untuk acara seperti pernikahan, perayaan karena promosi jabatan atau hanya sekedar makan malam romantis tentu saja harus sake spesial. Tingginya kadar alkohol di dalam sake membuat kesan orang Jepang suka sekali mabuk. Selain sake, mereka juga suka sekali minum whiski dan bir.
Selain ketiga hal diatas, banyak tradisi lain yang menarik. Saling bertukar kartu nama seperti yang sering kita lakukan saat bertemu kenalan baru, dipercaya berasal dari Jepang. Oleh karena itu, kartu nama adalah hal yang penting seperti halnya telepon genggam. Sebagian besar perusahaan Jepang mencetak kartu nama karyawannya dengan kertas dan bentuk yang menarik. Semakin bagus kartu namanya, semakin bergengsi perusahaannya.


sumber

Sunday, January 15, 2012

Belajarlah Dari Mahatma Gandhi

Mahatma Gandhi dikenal sebagai tokoh yang revolusioner namun menjalankan aksinya dengan jalan damai. Berbagai teladannya bahkan menginspirasi tokoh dunia lain seperti Martin Luther King, Jr., the Dalai Lama,  Stephen Biko, Aung San Suu Kyi, Nelson Mandela hingga sang presiden Amerika Barack Obama.

Ucapan Gandhi sering menjadi pijakan dalam bertindak sehingga tujuan mencapai dunia yang lebih baik bisa menjadi visi yang jelas.
Ingin menjadi bijak seperti Gandhi? Mungkin kita harus merenungi beberapa quote-nya (telah diterjemahkan secara bebas) berikut ini:


1. Tak ada yang merugikan tubuh selain kekuatiran, dan seseorang yang memilliki iman pada Tuhan seharusnya malu bila kuatir akan segala hal dalam hidupnya.

2. Kualitas terbaik pada pekerjaan kita adalah menyenangkan Tuhan, dan bukan pada kuantitas hasil kerja tersebut.

3. Hiduplah seperti Anda akan mati besok. Belajarlah seolah Anda akan hidup selamanya.

4. Kebahagiaan tergantung pada pikiran kita, perkataan kita, dan yang dilakukan dalam keselarasan.
5. Kebesaran sebuah negara bisa terlihat dari cara mereka memperlakukan hidup hewan. (Nah, jika masih ingat dengan artikel "Pembantaian Orang Utan" dan "Nasib Badak Jawa" rasanya sudah bisa menilai kondisi negara kita seperti apa sekarang ini, ya).

6. Kekuatan tidak datang dari kehebatan fisik, melainkan berasal dari niat yang kuat.

7. Doa adalah alat paling potensial untuk sebuah aksi.

8. Saya tawarkan Anda kedamaian. Saya tawarkan Anda cinta. Saya tawarkan Anda persahabatan. Saya melihat kecantikanmu, mendengar kebutuhanmu, merasakan apa yang kamu rasakan. Kebijakasanaan saya mengalir dari sumber tertinggi. Dan, saya menghormati sumber Anda juga. Jadi, mari kita bekerjasama untuk cinta dan persatuan.


Sumber: squidoo.com

Saturday, January 14, 2012

Fakta Kenapa Bayi lebih cerdas dari yang kita pikirkan

Bayi ternyata lebih cerdas dari yang kita pikirkan. Sebuah penelitian baru menemukan bahwa bayi yang berusia kurang dari setahun bisa mengetahui orang dewasa bisa dipercaya atau tidak. Penelitian itu diungkapkan di Infant Behavior and Development.
"Hmmm.... bohong nggak ya?"
Foto source: foreangelsonly.blogspot
"Bahkan di usia yang masih belia, anak-anak tidak menelan informasi dengan membabi buta," kata Diane Poulin-Dubois, ketua peneliti dan guru besar psikologi di Pusat Penelitian Perkembangan Manusia Universitas Concordia. Informasi yang meragukan atau berlawanan secara otomatis disaring oleh sistem kognisi anak-anak.

Untuk menentukan apakah bayi-bayi itu mencerna mentah-mentah atau melihat kredibilitas orang di sekitarnya, Poulin-Dubois dan koleganya melakukan sebuah percobaan menarik yang melibatkan 60 bayi berusia antara 13 dan 16 bulan. 
Separo bayi itu berinteraksi dengan orang dewasa "yang bisa dipercaya", sisanya berinteraksi dengan orang dewasa "yang tak bisa dipercaya". Mereka bermain dengan kotak yang dalam beberapa kasus berisi mainan dan lainnya kosong.

Pada percobaan pertama, orang dewasa akan melihat di dalam kotak dan menampakkan keceriaan dan kebahagiaan. Kemudian bayi-bayi itu suruh melihat ke dalam kotak untuk mengetahui apa yang membuat orang dewasa bermimik seperti itu. 
Orang dewasa "yang tidak dipercaya" berkomentar "ooo" dan "ah" jika melihat kotak kosong, sementara orang dewasa "yang bisa dipercaya" membuat keributan hanya jika di dalam kotak ada mainan.

Percobaan kedua menggunakan pasangan bayi-orang dewasa yang sama. Kali ini orang dewasa menggunakan dahi selain tangannya untuk menyalakan sebuah lampu. Idenya adalah bahwa bayi yang percaya kepada teman orang dewasanya akan mencoba meniru perilaku mereka.
 
"bayi-bayi lebih suka menggunakan dahi mereka"





Benar saja, bayi-bayi lebih suka menggunakan dahi mereka untuk menyalakan lampu saat mereka bermain permainan "apa yang ada di dalam kotak?" dengan orang dewasa "yang bisa dipercaya" dibandingkan ketika mereka bermain dengan orang dewasa "yang tidak bisa dipercaya".

Untuk anak kecil, itu semua berkaitan dengan bagaimana bertahan hidup. "Kita adalah makhluk sosial dan keturunan manusia tergantung pada pengasuh mereka untuk waktu yang lama. Belajar dari orang lain merupakan kunci untuk belajar budaya tetapi hal itu mengandung risiko juga seperti informasi yang tidak tepat. 
Kemampuan untuk melacak orang-orang 'tidak biasa' atau 'tak bisa dipercaya' menjadi senjata untuk melindungi bayi-bayi itu saat memperoleh informasi salah," jelas Poulin-Dubois.
Nah, mulai sekarang berhati-hati deh, jangan suka membohongi anak kecil, ya bila tidak mau dicap orang yang tak bisa dipercaya...
Sumber: Intisiari Online

Semangat tanpa disiplin adalah penyebab kebingungan, dan impian tanpa tindakan adalah sumber kegalauan

Saturday, December 17, 2011

Beginilah Wajah Remaja Pada Zaman Batu

London – Pernah membayangkan seperti apa wajah orang dari 5.500 Sebelum Masehi (SM)? Kini,para ahli berhasil merekonstruksi seperti apa wajah orang dari zaman batu itu.
Mahasiswa MSc Jenny Barber dari University of Dundee memanfaatkan teknik mutakhir polisi yang biasa digunakan merekonstruksi dan mengidentifikasi tubuh yang membusuk untuk membuat ulang wajah remaja 15 tahun Viste Boy.
Remaja ini tinggal di gua Vistehola dekat Stavanger di Norwegia pada 7.500 tahun silam dalam sebuah klan beranggotakan 10-15 orang. Seiring kian canggihnya teknologi polisi, hasil rekonstruksi ini menjadi salah satu visi akurat dari moyang manusia.

Barber menggunakan sinar-x dan hasil pindai laser fragmen tengkorak untuk membuat model komputer 3D tengkorak. Karena hasil pindai sangat detail, Barber menambahkan beberapa informasi tambahan mengenai Viste Boy ini.
“Tujuan saya membuat sesuatu semirip mungkin dengan aslinya,” ujarnya seperti dikutip DM.
Hasil rekonstruksi menunjukkan, remaja ini cukup berotot dan sehat, lanjutnya. [mor]
Sumber

Thursday, December 15, 2011

8 Miliuner Muda Berbagi Tips Kesuksesanm

Setiap tahunnya, beberapa orang berhasil menjadi miliuner baru. Kebanyakan dari mereka adalah warga negara Amerika. Yang lebih mencengangkan lagi, sebagian dari mereka sudah menjadi miliuner bahkan saat masih menjadi anak sekolahan. Visi, kecerdasan, dan keteguhan adalah 3 dari beberapa hal yang membuat mereka berhasil. Apa kata mereka mengenai keberhasilan yang mereka raih? Siapa tahu bisa Anda jadikan pegangan juga untuk menjalani rencana Anda menjadi wirausahawan:

Mark Zuckerberg
Di tahun 2007, ketika berusia 23 tahun, pria ini mengembangkan sebuah sistem yang kini sangat terkenal, Facebook. Dalam sekejap, ia menjadi salah satu miliuner paling kenamaan. Belum lagi namanya makin melambung setelah kisah suksesnya diabadikan dalam film "Social Network". Pria ini memandang bahwa anak-anak muda itu kreatif dan memiliki kecerdasan. Ia punya harapan tinggi terhadap anak-anak muda.

Michael Dell
Di usia 19, Dell keluar dari kuliahnya di University of Texas tak lama setelah ia memulai sebuah perusahaan komputer yang menjual langsung kepada konsumen dengan harga yang lebih rendah ketimbang pesaing di ritel. Begitu ia mencapai usia 24 tahun, perusahaan yang dikenal dengan Dell memiliki pemasukan sekitar 258 juta dollar AS.

Nasihat dari pria yang kini berusia 45 tahun itu untuk para wirausahawan, "Anda harus memiliki gairah terhadap usaha Anda. Saya rasa orang-orang yang mencari ide-ide besar di luar sana untuk mendapatkan uang tidak sesukses orang-orang yang mencaritahu apa gairahnya yang terdalam untuk kemudian dibuat menjadi usaha."

Catherine Cook
Sekarang Catherine Cook sudah berusia 20 tahun, dan selama 2 tahun terakhir ia sudah menjadi miliuner. Ia, bersama kakaknya, David dan Geoff memulai sebuah situs jejaring sosial yang populer di antara remaja Amerika, namanya myYearbook saat mereka masih duduk di bangku sekolah.

Nasihatnya bagi para pengusaha muda, "Berhentilah berpikir dan mulailah melakukan. Saat masih muda adalah waktu paling tepat untuk memulai usaha, karena belum ada tanggung jawab yang harus didapuk seperti saat seseorang mencapai usia dewasa. Yang paling parah bisa terjadi adalah Anda gagal. Tetapi Anda bisa belajar dari kegagalan dan mengubahnya menjadi keberhasilan di upaya berikutnya."

Sean Belnick
Di usia 16, Sean sudah menjadi miliuner dengan cara menjual kursi-kursi kantor lewat online, di situs BizChair.com. Sambil menjalaninya, ia melanjutkan pendidikan di Emory University's Goizueta Business School. Kini ia sudah mencapai usia 23 tahun.

"Tak pernah ada kata memulai terlalu cepat. Ada begitu banyak informasi yang hebat di internet. Lakukan riset dan cari cara untuk mencari tahu apa yang ingin Anda lakukan," saran Sean.

Jermaine Griggs
Pria yang kini berusia 27 tahun ini berhasil menjadi miliuner di usia 23 tahun dengan mengejar gairahnya untuk menjadi guru musik. Situsnya, HearAndPlay.com didesain untuk membantu orang belajar memainkan piano, gitar, dan drum tanpa perlu membaca not balok. Lebih dari 2 juta pelajar mengunduh pelajarannya setiap tahun.

Kata-kata yang ia sampaikan buat para pemula, "Mengertilah kekuatan penjualan, jangan hanya mengerti siapa Anda dan ide Anda. Pelajari bisnisnya. Pelajari bagaimana orang-orang sebelum Anda berhasil menjalaninya, cari pula orang-orang yang memiliki mimpi serta aspirasi yang sama dengan Anda."

Matt Mickiewicz
Di usia 22, ia berhasil mencapai gelar miliuner lewat 3 situs yang ia ciptakan; SitePoint, 99Designs, dan Flippa.com. Menurut Mickiewicz, internet memberikan para wirausahawan umpan balik yang langsung kepada para pelanggan, membuatnya jadi lebih murah untuk mengetes dan meluncurkan ide. Nasihatnya untuk para pengusaha muda, "Orang yang mengatakan bahwa dibutuhkan modal besar untuk mencetak banyak uang hanyalah orang yang mencari-cari alasan. Ciptakan nilai besar untuk orang lain dengan menyediakan solusi yang belum pernah ada sebelumnya."

Juliett Brindak
Di usia 19 tahun, wanita ini sudah mencetak diri menjadi miliuner. Ia mulai menggambar tokoh-tokoh remaja perempuan sejak usia 10 tahun. Kemudian, ia menggunakan karakter-karakter tersebut dalam situsnya, MissO and Friends. Nasihatnya untuk para pemula, "Isi tim Anda dengan orang-orang yang percaya pada ide Anda. Jika ada yang mulai meragukan perusahaan Anda sebaiknya segera disingkirkan."

Cameron Johnson
Di usia 9 tahun, ia mulai membuat perusahaan pembuatan kartu ucapan di rumahnya. Di usia 12, ia membantu saudarinya yang membuat koleksi Beanie Baby dan meraih untung sekitar 50 ribu dollar AS. Kini, di usia 25 tahun, ia sudah berhasil meluncurkan lebih dari puluhan situs. Ia bahkan memiliki acara televisi sendiri di BBC, bertajuk, "Beat the Boss".

Nasihatnya untuk yang ingin memulai usaha sendiri, "Mulailah bergerak. Lakukan sesuatu, mulai dari kecil. Semakin kecil modalnya, semakin mudah untuk mendapatkan keuntungan. Ciptakan nilai lebih untuk orang lain, dan Anda akan mendapatkan hasil lebih."



Pengaruh Emotional Quotient dalam Kesuksesan....

         Tak semua orang menyadari bahwa kemampuan kita dalam mengelola emosi bisa sangat mempengaruhi kondisi keuangan kita. Dalam konsep Kecerdasan Emosi ada sebuah istilah yang disebut dengan “Delay Gratification”.  Jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia Delay Gratification kurang lebih berbicara mengenai kemampuan kita dalam menunda pemuasan hasrat (keinginan) kita karena menyadari ada kepentingan yang jauh lebih besar.
            seorang ahli pernah menlakukan sebuah percobaan menarik  terhadap sekelompok anak-anak, berusia 4 tahun. Mereka secara bergiliran, satu-persatu dimasukkan ke dalam ruangan yang berisi banyak permen (marshmallow). Kemudian mereka disuruh duduk menghadap sebuah meja, dan di atas meja itu diletakkan sebuah permen yang paling disukai semua anak-anak. Anak itu dijelaskan, jika ia sanggup menahan untuk tidak memakan permen itu selama 15 menit, maka ia akan mendapatkan permen yang sama dalam jumlah yang berlipat-lipat lebih banyak. Ternyata hasilnya sungguh mengherankan, lebih dari 50% anak-anak tidak mampu menahan godaan untuk memakan permen itu.
          Dan penelitian lebih lanjut dilakukan selama 14 tahun ke depan. Ternyata anak-anak yang mampu menahan diri tidak makan permen itu, mereka berhasil bersekolah di sekolah-sekolah yang lebih bagus dan memiliki kualitas kehidupan yang lebih baik, sementara anak-anak yang gagal menahan diri dan memakan permen sebelum waktunya, umumnya menjadi orang-orang yang suka membuat onar dan beberapa dari mereka memiliki masalah dengan narkoba. Itulah kesimpulan eksperimen marshmallow yang pertama kali dilakukan oleh Walter Mischel dari Stanford University di ear 60-an.
Penelitian ini adalah sebuah tes untuk memperlihatkan kemampuan dalam melakukan Delay Gratification. Pada usia anak-anak, hasil tersebut sebenarnya masih bisa dimaklumi karena otak mereka belum berkembang sepenuhnya, namun, para ahli mengatakan bahwa seharusnya orang dewasa memiliki kemampuan Delay Gratification yang jauh lebih tinggi. Tapi kenyataannya? Banyak sekali kita jumpai orang-orang yang tidak mampu menahani diri untuk membeli barang-barang yang mereka inginkan padahal mereka tahu bahwa ada kebutuhan lain yang sebenarnya lebih perlu untuk dibeli.

Sering juga kita  mendengar ratusan cerita dari orang-orang yang harus ngutang kesana-kemari dan rela kelaparan berminggu-minggu gara-gara uangnya habis hanya untuk membeli Handphone baru padahal Handphone-nya yang lama masih sangat “sehat” dan masih bisa dipakai. Saya juga menjumpai banyak orang yang tingkat keuangannya hanya segitu-segitu saja karena setiap bulan ia sibuk menghabiskan uangnya untuk shopping, makan di restoran mahal, dan terus membeli barang-barang mewah. Sebagian dari mereka adalah orang-orang berpendidikan tinggi yang harusnya cukup “cerdas” untuk mengetahui bahwa perbuatan mereka tergolong konyol dan “kurang cerdik”. Ketidakmampuan kita untuk melakukan Delay Gratification bisa berpengaruh besar terhadap kesehatan finansial kita. Fenomena seperti ini jelas sekali mengatakan kepada kita bahwa IQ saja tidak cukup untuk menjadi sukses dan menjadi kaya! Anda butuh kecerdasan emosi juga!
Pertanyaannya sekarang, bagaimana caranya untuk meningkatkan kemampuan Delay Gratification kita? Ada 5 tips ringan yang bisa membantu

Pertama, hindari bertemu dengan “permen” itu. Artinya, jika Anda tahu bahwa Anda selalu “kebobolan” setiap kali masuk ke mal, maka yang harus Anda lakukan adalah kurangilah frekuensi pergi ke mal! Jika Anda tahu bahwa keuangan Anda sedang tidak bagus, hindarilah untuk bertemu dengan keadaan-keadaan yang bisa memancing Anda untuk menjadi boros. Kadangkala bukan salah para penjual yang gencar berpromosi, melainkan salah kita sendiri yang “mengantarkan” diri kita sendiri mendekati perangkap yang sudah jelas-jelas kita ketahui lokasinya.
Kedua, bayangkan Keuntungannya! Setiap kali Anda tergoda untuk mengeluarkan uang Anda untuk hal-hal yang tidak perlu, segeralah membayangkan betapa banyak uang yang bisa Anda simpan dan kenikmatan yang jauh lebih besar yang bisa Anda peroleh jika Anda berhasil menahan diri. Misalnya, jika Anda ingin membeli Handphone baru, bayangkanlah diri Anda bisa membeli Handphone yang jauh lebih canggih dan mahal jika Anda bisa menahan diri. Selalulah berkata pada diri-sendiri, “Tahan sebentar sekarang, nanti bisa mendapat yang jauh lebih baik”.
Ketiga, tunda! Cobalah untuk menunda membelinya. Carilah berbagai alasan untuk Anda menundanya. Entah itu mencari tempat lain yang lebih murah, menyelidiki barang serupa yang mungkin lebih bagus tapi harganya lebih murah, mencoba survey kepada teman yang sudah memilikinya, atau menyelidiki dulu spesifikasinya apakah benar-benar bagus. Katakan pada diri sendiri, “Aku pasti akan membelinya, tapi jangan sekaranglah…” Bersikaplah seolah-olah Anda memang berniat membelinya tapi tidak sekarang.
Keempat, berlatihlah dari hal-hal lain yang lebih sederhana. Latihlah kemampuan Delay Gratification ini dari hal-hal simpel, misalnya belajar mengantri, melakukan puasa, belajar lebih sabar dalam berkendaraan dan menyalip, dan berbagai hal sederhana lainnya.
Kelima, selalulah pergi dengan perut kenyang! Penelitian mengatakan bahwa ketika kita lapar, maka kecenderungan kita untuk menjadi lebih boros akan bertambah besar. Itu sebabnya, jika Anda akan bepergian, akan lebih bijaksana jika Anda mengisi perut Anda dahulu. Apalagi jika berangkat berbelanja. Lapar adalah salah satu kondisi yang terbukti berpengaruh besar pada impuls emosional yang tidak terkendali. Betapa sering ketika berbelanja dengan perut kosong dan sekembalinya ke rumah, kita pun menyesalinya.
Akhirnya, keenam. Kelolalah Stres . Penelitian juga menyatakan bahwa orang yang mengalami stres akan lebih royal dalam membelanjakan uangnya karena pikirannya terlalu lelah untuk mempertimbangkan konsekuensi tindakannya. Itu sebabnya, sangat penting sekali untuk melakukan stress management agar Anda selalu punya awareness terhadap semua tindakan Anda.
Jadi, ingin menjadi lebih cepat kaya? Tingkatkanlah kecerdasan emosi Anda sekarang juga! Akhirnya, mari kita tutup dengan apa yang dikatakan oleh Jim Rohn, salah satu motivator terkemuka, “Formal education will make you a living, but self-education will make you a fortune.
semoga bermanfaat...

Cara Sukses Paling Jitu!!!Mencintai Pekerjaan untuk Menuju Sukses


Mencintai Pekerjaan,Menuju Sukses
       Bekerja membuat manusia mampu mengeksplorasi segenap potensinya sehingga berhasil meraih kesuksesan. Sayangnya, itu tak cukup hanya dengan mau bekerja. Kesuksesan butuh lebih dari itu. Salah satu jawabnya adalah bekerja secara profesional.
"KETIKA bekerja, sesungguhnya engkau sedang mewujudkan mimpi terindah milik dunia, yang selalu menuntut kepadamu, kapan mimpi itu akan terwujud," ujar Khalil Gibran dalam salah satu puisinya. Gibran juga berpendapat, orang akan tersingkir dari dunia apabila dia tidak bekerja. Tapi, kerja saja tidak cukup. Kecintaan pada pekerjaanlah yang membuat seseorang dapat mewujudkan mimpi terindah milik dunia itu.
       Pendapat Gibran barangkali ada benarnya. Apalagi manusia, siapa pun itu, dibekali Tuhan dengan beragam potensi yang seharusnya dapat diaktualisasikan ketika ia bekerja. Memang tidak semua orang memandang kerja sebagai sarana eksplorasi dan bagian dari aktualisasi diri. Bahkan, sebagian besar orang berpendapat, kerja adalah sebuah keharusan. Karena, bila tidak bekerja, bagaimana mungkin kebutuhan hidup bisa terpenuhi.
        Sama seperti yang diungkapkan Gibran, ternyata bekerja saja tidak cukup. Paling tidak, pekerjaan yang dikerjakan dengan terpaksa tidak akan membuahkan kesuksesan. Bekerja pada dasarnya juga membutuhkan rasa cinta dan sebuah kesanggupan untuk bersikap profesional.
        Lalu, apa yang dibutuhkan agar seseorang menjadi profesional? Jansen Sinamo dalam bukunya 8 Etos Kerja Profesional, Navigator Anda Menuju Sukses menjawabnya. Menurut Jansen, kesuksesan, terutama kesuksesan dalam bekerja, membutuhkan sesuatu. Dan, sesuatu itu adalah etos kerja.
       Sebenarnya apa yang dimaksud dengan etos kerja? Mengapa ia begitu dibutuhkan dalam bekerja? Secara etimologi, etos berasal dari bahasa Yunani. Mula-mula artinya adat istiadat atau kebiasaan. Sejalan dengan waktu, kata etos berevolusi dan berubah makna.
       Webster Dictionary mendefinisikan etos sebagai guiding beliefs of a person, group or institution. Sedangkan, McKean dalam The New Oxford Dictionary mendefinisikan etos sebagai the characteristic spirit of a culture, era, or community as manifested in it's attitudes and aspirations.
       Jansen sendiri mendefinisikan etos kerja profesional sebagai seperangkat perilaku kerja positif yang berakar pada kesadaran yang kental, keyakinan yang fundamental, disertai dengan komitmen yang total pada paradigma kerja yang integral. Menurutnya, jika seseorang, suatu organisasi, atau suatu komunitas menganut paradigma kerja, memercayai, dan berkomitmen pada paradigma kerja tersebut, semua itu akan melahirkan sikap dan perilaku kerja mereka yang khas. Itulah yang akan menjadi etos kerja dan budaya kerja.
       Terdapat tiga unsur konsep etos yang mengangkat etos menjadi roh keberhasilan. Satu, etos mencetak prestasi dengan motivasi superior. Jansen mencontohkan, bila ada seratus orang pekerja lulusan sekolah dasar (SD) dan satu orang mempunyai motivasi superior, dia akan lebih unggul dibandingkan dengan sembilan puluh sembilan pekerja lainnya.
         Dua, etos relevan dengan pembangunan masa depan dengan kepemimpinan visioner. Yang dimaksud dengan kepemimpinan di sini tidak terbatas pada organizational leadership, tapi lebih kepada self leadership. Tiga, etos menciptakan nilai baru dengan inovasi kreatif. Jensen menyebut tiga unsur ini sebagai Tri Darma Mahardika, yang dalam bahasa Sanskerta berarti tiga jalan keberhasilan.
       Pertanyaannya, bagaimana mewujudkan tiga jalan keberhasilan itu? Ternyata, bisa dengan beragam cara dan berbagai jalan. Salah satu jalan yang ditempuh Jensen adalah dengan membaca berbagai buku literatur, kitab, hingga dongeng. Dari bacaan tersebut, ia menemukan bahwa jawaban atas berbagai keberhasilan tak lain adalah sejumlah perilaku positif. Perilaku positif ini kemudian dijabarkannya dalam delapan etos kerja.
       Etos pertama, kerja adalah rahmat. Ya, hidup dan kerja ternyata harus dimaknai sebagai rahmat dari-Nya. Apakah rahmat itu? Rahmat adalah kebaikan yang diterima seseorang karena kasih sayang Sang Pemberi. Rahmat merupakan tanda cinta Tuhan. Apa pun jenis pekerjaan seseorang, dia harus mensyukuri sekaligus menganggapnya sebagai rahmat yang tak terhingga.
        Dengan menganggap pekerjaan sebagai rahmat, niscaya akan memengaruhi karakter kita, seperti rela menolong orang lain yang ditimpa kesusahan, tidak pelit, dan tidak takut kekurangan (harta atau kekayaan). Orang yang menghayati paradigma rahmat juga akan selalu percaya bahwa rezeki diatur oleh Sang Maha Pencipta. Sehingga, dia tidak akan merasa takut dan jauh dari sikap mudah putus asa.
       Kerja juga amanah. Inilah etos kedua yang disebut Jansen. Jika menganggap kerja sebagai amanah, orang tentu akan bekerja dengan benar, tekun, dan penuh tanggung jawab. Menurut Jansen, amanah akan melahirkan manusia yang antikorupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN). Karena, bagaimanapun KKN berorientasi pada kepentingan sendiri dan merugikan orang lain.
       Etos ketiga, kerja adalah panggilan. Dengan prinsip ini, seseorang akan bekerja sampai tuntas dan penuh integritas. Banyak contoh orang yang menjalankan etos kerja ini, yaitu mengabdikan diri untuk pekerjaan yang dianggapnya menjadi bagian hidupnya. Siapa yang tidak kenal Yap Thiam Hien? Tokoh satu ini menghayati profesi advokatnya dengan menegakkan kebenaran dan keadilan sepenuh hati.
       Etos keempat adalah kerja sebagai aktualisasi. Dalam kehidupan memang selalu ada rintangan. Anehnya sebagian orang menyerah. Sebagian lain malah tidak melakukan apa-apa dan hanya berpangku tangan. Di lain pihak, ada orang yang sedemikian bersemangat hingga mampu mewujudkan sesuatu yang bagi kebanyakan orang tidak mungkin menjadi kenyataan.
       Walaupun demikian, Jansen tidak menganjurkan orang untuk kecanduan kerja (workaholic). Menurutnya, pekerja keras tidak sama dengan orang yang kecanduan kerja. Orang yang kecanduan kerja akan menenggelamkan diri dalam pekerjaan untuk mendapatkan rasa aman dari ketidakpastian hidup atau melarikan diri dari suatu masalah. Orang seperti ini akan menghindari komitmen dan tanggung jawab hidup lainnya.
       Bekerja dengan penuh kecintaan merupakan kunci dari kerja sebagai ibadah. Etos kelima menurut  Jansen ini menegaskan bahwa agama mengajarkan manusia agar berbuat baik sebanyak-banyaknya dan menjauhi kemungkaran sebisanya. Dengan menganggap kerja sebagai ibadah, niscaya seseorang selalu berpikir untuk memberikan yang terbaik dalam bekerja.
       Etos keenam, kerja adalah seni. Menurut Jansen, kerja seperti ini mendatangkan kesenangan dan kegairahan kerja sehingga lahirlah daya cipta, kreasi baru, dan gagasan inovatif. Etos ketujuh, kerja adalah kehormatan. Jika memiliki etos kerja ini, seseorang akan berkarya dengan kemampuannya sendiri. Sehingga, lingkungannya menilai bahwa dia telah memberi kontribusi sekaligus dianggap produktif.
       Hasilnya, kehormatan dirinya terjaga dengan baik. Imbas selanjutnya, orang itu mampu menciptakan atau menghasilkan karya-karya yang unggul supaya diakui sekitarnya. Meski, untuk mewujudkan kualitas unggulan itu dibutuhkan sejumlah strategi, kreativitas, serta imajinasi yang baik.
       Etos kedelapan, kerja adalah pelayanan. Etos ini mengajarkan kita untuk bekerja dengan kerendahan hati. Melalui pelayanan, pekerjaan kita termuliakan, termasuk akhlak, budi pekerti, dan kepribadian. Siapa pun kita, rasanya perlu merenungkan kembali siapa diri kita sebenarnya dan apa tujuan kita bekerja. Apakah kita hanya bekerja demi uang? Ataukah, untuk menggapai kesuksesan belaka?.
       Apa pun jawaban Anda, rasanya kita perlu merenungkan kata-kata Nimrod Sitorus, salah seorang direktur Bank Mandiri. Yaitu, bahwa sesungguhnya kita terpanggil bekerja dalam rangka menggenapi rencana Tuhan yang sempurna atas diri kita masing-masing. Renungkanlah. 
Sukses Bisa Berarti Tragedi
     KESUKSESAN tidak selalu berarti kemudahan. Lihatlah Donald Trump. Pengusaha yang sukses di bisnis real estate, penerbangan, hiburan, dan kasino ini dalam waktu kurang dari 20 tahun mampu mengumpulkan omzet miliaran dolar per tahun. Dalam waktu singkat, namanya pun mengglobal.
       Ketika masih di puncak kesuksesan, kehidupan Donald tidak seenak yang dibayangkan orang. "Di atas sana ternyata hanya sedikit kebebasan. Misalnya, saya tidak berani menonton di bioskop sendirian. Biasanya dua pengawal membeli karcis lebih dulu dan duduk di tempat saya. Begitu lampu padam, tanda pertunjukan segera dimulai, barulah saya menyelinap masuk. Dengan begitu, (saya) tidak akan dikenali orang," ujarnya.
       Paradigma sukses yang dianut banyak orang ternyata tidak selamanya benar. Orang kadang tidak menyadari bahwa kesuksesan bisa saja berarti tragedi dan ironi. Tentunya bila seseorang tidak bisa memanage kesuksesan itu.
       Pesan moral yang dapat kita ambil dari kisah Donald Trump adalah jangan terobsesi secara berlebihan pada kesuksesan. Kalaupun kelak Anda sukses, berbahagialah. Jalani kesuksesan itu dengan bijaksana. Dan, jangan lupakan orang-orang di sekitar Anda.
      Sukses yang benar mendatangkan sukacita dan ketentraman batin serta menjadi berkah bagi sesama dan alam. Bukan kesuksesan yang akan dicemburui orang dan menjauhkan manusia dari lingkungannya. Sebaliknya, sukses yang keliru akan mendatangkan ketidakpuasan batin dan rasa tak pernah cukup. Ini akan memicu keserakahan, membuahkan kebencian dari lingkungan sekitar, dan akhirnya mendatangkan kehancuran bagi diri sendiri.

Thursday, November 17, 2011

Cerdas Dalam Mengambil Keputusan

Sekelompok anak kecil sedang bermain di dekat dua jalur kereta api. Jalur yang pertama adalah jalur aktif (masih sering dilewati KA), sementara jalur kedua sudah tidak aktif. Hanya seorang anak yang bermain di jalur yang tidak aktif (tidak pernah lagi dilewati KA), sementara lainnya bermain di jalur KA yang masih aktif. Tiba-tiba terlihat ada kereta api yang mendekat dengan kecepatan tinggi!
Kebetulan Anda berada di depan panel persimpangan yang mengatur arah KA tersebut. Apakah Anda akan memindahkan arah KA tersebut ke jalur yang sudah tidak aktif dan menyelamatkan sebagian besar anak kecil yang sedang bermain? Namun hal ini berarti Anda mengorbankan seorang anak yang sedang bermain di jalur KA yang tidak aktif. Atau Anda akan membiarkan kereta tersebut tetap berada di jalur yang seharusnya?
Mari berhenti sejenak dan berpikir keputusan apa yang sebaiknya kita ambil...
........
Sebagian besar orang akan memilih untuk memindahkan arah kereta dan hanya mengorbankan jiwa seorang anak. Anda mungkin memiliki pilihan yang sama karena dengan menyelamatkan sebagian besar anak dan hanya kehilangan seorang anak adalah sebuah keputusan yang rasional.
Namun sadarkah Anda bahwa anak yang memilih untuk bermain di jalur KA yang sudah tidak aktif, berada di pihak yang benar karena telah memilih untuk bermain di tempat yang aman? Di samping itu, dia harus dikorbankan justru karena kecerobohan teman-temannya yang bermain di tempat berbahaya. Dilema semacam ini terjadi di sekitar kita setiap hari. Di kantor, di masyarakat, di dunia politik dan terutama dalam kehidupan demokrasi, pihak minoritas harus dikorbankan demi kepentingan mayoritas. Tidak peduli betapa bodoh dan cerobohnya pihak mayoritas tersebut.
Dalam cerita di atas, nyawa seorang anak yang memilih untuk tidak bermain bersama teman-temannya di jalur KA yang berbahaya bisa jadi telah dikesampingkan. Dan bahkan mungkin tidak kita tidak akan menyesalkan kejadian tersebut.
Seorang teman yang membaca cerita ini berpendapat bahwa dia tidak akan mengubah arah laju kereta karena dia percaya anak-anak yang bermain di jalur KA yang masih aktif sangat sadar bahwa jalur tersebut masih aktif. Mereka akan segera lari ketika mendengar suara kereta mendekat. Jika arah laju kereta diubah ke jalur yang tidak aktif maka seorang anak yang sedang bermain di jalur tersebut pasti akan tewas karena dia tidak pernah berpikir bahwa kereta akan menuju jalur tersebut.
Di samping itu, alasan sebuah jalur KA dinonaktifkan kemungkinan karena jalur tersebut sudah tidak aman. Bila arah laju kereta diubah ke jalur yang tidak aktif maka kita telah membahayakan nyawa seluruh penumpang di dalam kereta. Dan mungkin langkah yang telah ditempuh untuk menyelamatkan sekumpulan anak dengan mengorbankan seorang anak, akan mengorbankan lagi ratusan nyawa penumpang di kereta tersebut.
Kita harus sadar bahwa HIDUP penuh dengan keputusan sulit yang harus dibuat. Dan mungkin kita tidak akan menyadari bahwa sebuah keputusan yang cepat tidak selalu menjadi keputusan yang benar.
"Ingatlah bahwa sesuatu yang benar tidak selalu populer dan sesuatu yang populer tidak selalu benar".
***
Cerita ini telah dikembangkan oleh tim Andrie Wongso ke dalam bentuk komik!

Tuesday, June 7, 2011

Kecerdasan seseorang tidak diukur dari tingkatan jenjang pendidikan sekolah/kuliah

Tidak tertutup kemungkinan anak smp lebih pintar daripada lulusan pasca sarjana S2 dan S3 karena kecerdasan orang itu tidak melihat dari tingkat pendidikan terakhir ataupun usia. selama orang itu punya kemampuan menghapal yang super, maka dosen dan guru serta praktisi pun keok kalah telak dibuatnya.
Jadi jangan berkecil hati buat yang tidak dapat melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi karena dengan terus mengasah kemampuan dan keterampilan diri sendiri, maka suatu saat mungkin akan banyak perusahaan yang mencari karena bukan ijazah yang diperlukan tetapi skill alias kemampuan. Banyak pula pengusaha sukses yang tidak memiliki gelar sarjana dan banyak pula lulusan sarjana yang tidak maju-maju.

Friday, May 27, 2011

Bagaimana Mendapatkan Gelar Ph.D dengan bersumber Al-Quran?

Bagaimana Mendapatkan Gelar Ph.D dengan bersumber Al-Quran?[i]
Kita ketahui bersama bahwa gelar Ph.D. atau PhD atau bahasa latinnya philosophiæ doctor
adalah gelar bergengsi dan gelar tertinggi yang bisa di dapatkan oleh manusia yang diberikan manusia (tentunya selain gelar alm.). Yang artinya adalah Guru Filosofi atau filsuf atau juga sering dengan julukan Dr.Phil. Banyak universitas yang menambahkan program kelulusan master ini. Namun di Indonesia tentu merupakan suatu hal yang sulit di dapatkan.
Seorang kandidat untuk mendapatkan gelar Ph.D. haruslah mengajukan desertasi atau thesis yang merupakan bidang ilmu yang sangat dikuasainya dan kandidat tersebut harus membela thesisnya dihadapan para penguji. Para penguji biasanya memberikan beberapa pertanyaan, yang diharapkan jawaban yang didapat adalah sesuatu hal yang baru bagi ilmu pengetahuan dan dapat diterima dan dapat dipertanggung jawabkan. Dan pertanyaannya bukanlah sesuatu hal yang mudah bahkan sangat sulit untuk diketemukan jawabannya, butuh biaya minimal Rp 20 juta dan bereksperimen dari 3 – 5 tahun untuk mendapatkan jawabannya dari pertanyaan yang diajukan tersebut.[ii]
Terkadang dari kalangan akademisi muslim maupun non-muslim banyak yang ragu atau malu mengutip ayat ayat dari Al-Quran untuk mendukung penelitiannya. Jangankan untuk mendapat gelar Phd untuk gelar D3 S1 S2 tidak banyak yang berani mengutip penelitiannya lewat Al-Quran. Karena dianggap tendensius agama tertentu dibandingkan sebagai sumber ilmu pengetahuan. Namun pendapat ini telah digugurkan oleh penelitian yang dilakukan oleh DR.Zaid Kasim Mohammad Ghazzawi. Bahwa suatu keniscayaan mengutip Al-Quran sebagai bahan penelitian di bidang yang dikuasainya.
Pengalaman mendapatkan gelar Ph.D dengan bersumber inspirasi jawaban dari Al-Quran ini dialami oleh DR.Zaid Kasim Mohammad Ghazzawi[iii] dalam penelitiannya untuk mendapatkan gelar Ph.D di Britain. Beliau adalah ahli dalam bidang ilmu BioMekanik. Zaid Kasim menunjukkan betapa Allah SWT membimbingnya untuk mendapatkan jawabannya dalam Al-Quran dalam beberapa menit dibandingkan bertahun tahun lamanya mencari ilmunya dari orang lain.
Pertanyaannya untuk gelar Ph.D nya adalah :
“Apakah muatan dasar dari tulang manusia?”
Sepertinya pertanyaan ini adalah untuk menemukan bahan dasar dari tulang manusia semenjak tulang memiliki fungsi pergerakan dan fungsi psikologis (figur 1) dan sepertinya ada struktur ketika bahan dasar tulang itu terbentuk dari 3 muatan yaitu : Kompresi (tekanan), tensi (tegangan), atau bending (bengkokan) (figur 2). Jadi bahan muatan yang manakah dari ketiga bahan tersebut yang ada di tulang ketika terjadi pergerakan?


Munculnya pemikiran tentang struktur mesin tulang manusia dimulai sejak abad 1900 (lebih dari 100 tahun dari sekarang) dan belum ada pernyataan dan jawaban resmi hasil penelitian dari pertanyaan tersebut di atas. Padahal jawaban untuk pertanyaan tersebut di atas adalah sangat penting dalam kepentingan bidang system prosthetic, sehingga jika telah diketahui tulang manusia termuat bahan tertentu, maka bagian prosthetic tulang bisa didesain untuk mengoptimalkan muatan tulang tersebut sehingga bisa meningkatkan kekuatan tulang setelah dilakukan implant dan meminimalisir dari risiko kerusakan tulang.

Jawabannya telah ada di abad 14 yang lalu (lebih dari 500 tahun dari sekarang) dari Al-Quran :
Allah SWT Yang Maha Pengampun memberitahukan beliau tentang jawaban dari pertanyaan yang telah eksis 100 tahun yang belum ada jawaban tersebut. Beliau dalam waktu beberapa menit sebelumnya memulai dari mengambil dua ayat dalam Al-Quran dengan sangat hati hati. Seperti dalam surat Ar-Rahman ke 55 ayat ke 14 yang menyatakan :
“Dia menciptakan manusia dari tanah kering seperti tembikar”
Yang demikian jika kita mengambil pengertian secara hati hati dari ayat ini dan tidak melulu sekedar menceritakan tentang bahwa Allah SWT mengajarkan kepada kita bahwa Dia membuat kita dari bahan materi tanah (Dalam hal ini seperti Materi bahan tanah Keramik ) yang menjadi bahan dasar pembuatan tembikar dan oleh karena itu kita bisa mengambil kesimpulan bahwa tulang manusia terbuat dari bahan dasar tanah keramik. Kesimpulan ini telah dibuktikan dengan eksperimen seperti dalam figur 4.

Figur 4 : Kesamaan yang sempurna dari proses respon tulang dan proses respon keramik.
Seperti terlihat dalam figur 4, bahwa proses respon tulang untuk menjadi tulang kuat sangat indentik dengan proses respon bahan keramik untuk menjadi keramik yang kuat. Sekarang sebuah materi keramik bisa menjadi pokok pembelajaran dalam bahan tekanan proses kompresi, tensile, flexural dan pertanyaan sebelumnya tersebut yang masih menyisakan pertanyaan yang belum terjawab yaitu:
“Dari ketiga proses tekanan tersebut, manakah yang berada di tulang manusia?”
Dan jawaban untuk pertanyaan ini juga terdapat di dalam Al-Quran dalam Surat :At-Tin 95:4 yang menyatakan :
“Sungguh , kami menciptakan manusia dalam bentuk sebaik-baiknya”
Sepertinya Allah SWT ingin mengajarkan kita bahwa Dia menciptakan manusia dalam keadaan yang paling optimal dengan maksud bahwa tulang manusia dibentuk dengan proses yang paling optimal atau maksimal yang menunjukkan tingkat kekakuan dan kekuatan maksimal, Kemudian dengan mengetahui bahwa keramik juga merupakan hasil kompress bahan tanah dengan tingkat kekakuan dan kekuatan maksimal, maka dari itu kita bisa menyimpulkan bahwa bahan pembentuk tulang adalah dengan kompress.Dan inilah jawaban dari pertanyaan tersebut yang lama dinanti nantikan di dunia science selama 100 tahun.
Lebih lanjut lagi dengan modelling Komputer :
Dengan bimbingan Allah SWT untuk menunjukkan bahwa bahan tulang manusia telah terkompress, beliau membuat modelling komputer tulang rahang bawah manusia.

Setelah membuat model tulang rahang manusia seperti dalam figur 5, beliau menambahkan otot otot dan kekuatan lainnya secara menyeluruh dalam gerakan mengunyah seperti dalam figur 6 :

Setelah langkah modelling dan mengunyah dalam figur 6, komputer telah mengkalkulasikan tekanan secara umum di dalam model tulang rahang tersebut dan hasilnya bisa dilihat dalam figur 7 yang menunjukkan bahwa tekanan di dalam tulang adalah tekanan kompress, yang sangat tepat ditarik kesimpulannya dengan Al-Quran.

Hal ini menunjukkan wahai sister brother, bagaimana Allah SWT mengajarkan kita semua tentang segala hal melalui Al-Quran yang merupakan suatu kebanggaan dan kehormatan bagi mereka yang meyakini. Banyak orang berbicara adanya Gap ilmu pengetahuan antara kaum muslimin dan kaum barat, namun demikian, kita bisa melihat dalam artikel ini bahwa Allah SWT tidak saja menghilangkan Gap tersebut tapi juga memberikan pembelajaran dari orang orang yang yakin kepada yang lainnya. Dan alasan mengapa kaum muslimin sekarang di dalam dunia keterbelakangan adalah karena mereka meninggalkan Al-Quran ke padang pasir.
Tentu saja Allah SWT juga menginginkan bahwa dengan adanya ilmu pengetahuan ini diharapkan dapat menarik perhatian bagi mereka yang ragu tentang Al-Quran dan jalan lurusNYA. Ini seperti ketika orang-orang non muslim menemukan dirinya belajar tentang ilmu permesinan dan semua cabang ilmu pengetahuan dari Al-Quran dan kemudian mereka akan menemukan kebahagiaan di dalam kehidupan ini dan kehidupan selanjutnya. Dan ini menunjukkan kebenaran firman Allah SWT dalam ayat 53 surat ke 41 (Fussilat) yang menyatakan :
“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kebesaran) Kami di segenap penjuru dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al-Quran itu adalah benar. Tidak cukupkah (bagi kamu) bahwa Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu?”

Tujuh Kebiasaan (model guru manajemen dan kepemimpinan)

Tujuh Kebiasaan model guru manajemen dan kepemimpinan Stephen Covey adalah sebuah teori yang berlaku untuk kehidupan pribadi kita, kehidupan sosial kita dan hidup kita bekerja. Namun kerangka Tujuh Kebiasaan sangat berlaku bagi para pemimpin dan manajer. Menurut Covey, paradigma kita mempengaruhi bagaimana kita berinteraksi dengan orang lain, yang pada gilirannya mempengaruhi cara mereka berinteraksi dengan kami. Oleh karena itu Covey berpendapat bahwa setiap program self-help yang efektif harus dimulai dengan pendekatan "inside-out", daripada melihat ke arah masalah kita sebagai "berada di luar sana" (sebuah luar-dalam pendekatan). Kita harus mulai dengan memeriksa karakter kita sendiri, paradigma, dan motif. Tujuh Kebiasaan Covey

   
1. Jadilah proaktif. Ini adalah kemampuan untuk mengendalikan lingkungannya, bukan sebaliknya, sebagaimana yang sering terjadi. Manajer perlu untuk mengendalikan lingkungan mereka sendiri, dengan menggunakan penentuan nasib sendiri dan kemampuan untuk menanggapi berbagai keadaan.
   
2. Mulailah dengan akhir dalam pikiran. Ini berarti bahwa manajer harus mampu melihat hasil yang diinginkan, dan untuk berkonsentrasi pada kegiatan yang membantu untuk mencapai tujuan itu.
   
3. Pasang pertama hal pertama. Seorang manajer harus mengelola orang sendiri. Pribadi. Dan manajer harus melaksanakan kegiatan yang bertujuan untuk mencapai kebiasaan kedua. Covey mengatakan bahwa kebiasaan 2. adalah penciptaan pertama, atau mental, kebiasaan 3 adalah ciptaan kedua, atau fisik.
   
4. Berpikir menang-menang. Ini adalah aspek yang paling penting dari kepemimpinan interpersonal, karena prestasi yang paling didasarkan pada usaha bersama. Oleh karena itu tujuan harus win-win solution untuk semua.
   
5. Carilah pertama untuk memahami dan kemudian untuk dipahami. Dengan mengembangkan dan mempertahankan hubungan positif melalui komunikasi yang baik, manajer dipahami oleh orang lain, dan dia bisa memahami bawahan.
   
6. Bersinergi. Ini adalah kebiasaan kerjasama kreatif: prinsip yang bekerjasama dalam mencapai suatu tujuan sering mencapai lebih, daripada yang dapat dicapai oleh individu bekerja secara independen.
   
7. Mempertajam melihat. Kita harus belajar dari pengalaman kami sebelumnya. Dan kita harus mendorong orang lain untuk melakukan hal yang sama. Covey melihat pembangunan sebagai salah satu aspek yang paling penting untuk mampu mengatasi tantangan, dan untuk calon terhadap kemampuan tingkat yang lebih tinggi.
Pada tahun 2004 bukunya: "Kebiasaan ke-8: Dari Efektivitas untuk Keagungan", Covey memperkenalkan kebiasaan kedelapan tambahan:

   
8. Temukan suara Anda dan mengilhami orang lain untuk menemukan mereka. Berjuang menuju "kebesaran", berarti untuk bertindak dengan integritas sebagai individu dan untuk membantu orang lain untuk melakukan hal yang sama. Menurut Covey, kebiasaan ini merupakan 3 dimensi modelnya. Keagungan adalah tumpang tindih:

    
* Kebesaran pribadi. Menerapkan 7 kebiasaan dalam bentuk: visi, disiplin, gairah dan hati nurani.
    
* Kepemimpinan kebesaran. Menerapkan 4 peran kepemimpinan, yang memodelkan 7 kebiasaan:
          
o Path menemukan. Membuat cetak biru itu.
          
o Menyelaraskan. Menciptakan sistem kerja teknis elegan.
          
o Memberdayakan. Melepaskan bakat, energi, dan kontribusi orang.
          
o Pemodelan. Untuk membangun kepercayaan dengan orang lain. Inti dari kepemimpinan yang efektif.
    
* Kebesaran Organisasi. Ini kebesaran berubah menjadi visi, misi dan nilai-nilai. Hal ini membawa kejelasan, komitmen, penerjemahan, sinergi, dan memungkinkan akuntabilitas.

The Seven Habits (model of management and leadership)

The Seven Habits model of management and leadership guru Stephen Covey is a theory that is applicable to our personal life, our social life and our working life. However the Seven Habits framework is highly applicable for leaders and managers. According to Covey, our paradigms affect how we interact with others, which in turn affects how they interact with us. Therefore Covey argues that any effective self-help program must begin with an "inside-out" approach, rather than looking towards our problems as "being out there" (an outside-in approach). We must start with examining our own character, paradigms, and motives.
The Seven Habits of Covey

1. Be proactive. This is the ability to control one's environment, rather than the opposite, as is so often the case. Managers need to control their own environment, by using self-determination and the ability to respond to various circumstances.
2. Begin with the end in mind. This means that the manager must be able to see the desired outcome, and to concentrate on activities which help to achieve that end.
3. Put first things first. A manager must manage his own person. Personally. And managers should implement activities which aim to achieve the second habit. Covey says that habit 2. is the first, or mental creation; habit 3 is the second, or physical creation.
4. Think win-win. This is the most important aspect of interpersonal leadership, because most achievements are based on shared effort. Therefore the aim needs to be win-win solutions for all.
5. Seek first to understand and then to be understood. By developing and maintaining positive relationships through good communications, the manager is understood by others, and he can understand the subordinates.
6. Synergize. This is the habit of creative cooperation: the principle that collaborating towards attaining a purpose often achieves more, than could be achieved by individuals working independently.
7. Sharpen the saw. We should learn from our previous experiences. And we should encourage others to do the same. Covey sees development as one of the most important aspects for being able to cope with challenges, and for aspiring towards higher levels of ability.

In his 2004 book: "The 8th Habit: From Effectiveness to Greatness", Covey introduces an additional eighth habit:

8. Find your voice and inspire others to find theirs. Striving towards "greatness", means to act with integrity as an individual and to help others to do the same. According to Covey, this habit represents the 3rd dimension of his model. Greatness is the overlap of:

* Personal greatness. Applying the 7 habits in the forms of: vision, discipline, passion and conscience.
* Leadership greatness. Applying the 4 roles of leadership, which are modeling the 7 habits:
o Path finding. Creating the blueprint.
o Aligning. Creating a technically elegant system of work.
o Empowering. Releasing the talent, energy, and contribution of people.
o Modeling. To build trust with others. The heart of effective leadership.
* Organizational greatness. This is greatness turned into a vision, mission and values. This brings clarity, commitment, translation, synergy, and enables accountability.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...