Showing posts with label filsafat. Show all posts
Showing posts with label filsafat. Show all posts

Tuesday, June 5, 2012

Suatu Landasan Holistis Pengembangan Ilmu

Suatu Landasan Holistis Pengembangan Ilmu―Seperti Psikologi Manusia mengembangkan seperangkat ilmu. Hal ini bersumber pada kenyataan bahwa ia memerlukannya. Karena manusia mau tak mau harus menentukan sendiri bagaimana ia bersikap terhadap prasyarat-prasyarat kehidupannya, dan karena seluruh realitas secara potensial memengaruhinya, ia sedemikian membutuhkan pengetahuan yang setepat-tepatnya dan selengkap-lengkapnya tentang seluruh realitas itu. Ia hanya dapat hidup dengan baik apabila ia menanggapi realitas itu sebagaimana adanya, dan untuk itu ia harus mengetahuinya.[1]
Ilmu-ilmu itu meningkatkan kuantitas dan kualitas pengetahuan manusia. Ilmu-ilmu mengorganisasikan pengetahuan manusia secara sistematis agar efektif, dan mengembangkan metode-metode untuk menambah, memperdalam, dan membetulkannya. Demi tujuan itu, ilmu harus membatasi diri pada bidang-bidang tertentu dan mengembangkan metode-metode setepat mungkin untuk bidangnya masing-masing. Namun, [super-]spesialisasi ilmu-ilmu―berkat positivisme―yang mendasari sukses pesat ilmu-ilmu itu, sekaligus merupakan keterbatasannya. Pertanyaan yang lebih umum, yang menyangkut beberapa bidang atau hubungan interdisipliner, pertanyaan mengenai realitas sebagai keseluruhan, mengenai manusia dalam keutuhannya, tidak dapat ditangani oleh ilmu-ilmu itu karena ilmu-ilmu itu tidak memiliki sarana teoretis untuk membahasnya (Magnis-Suseno, 1988). Justru dalam hal ini diperlukan filsafat ilmu, untuk menangani pertanyaan-pertanyaan mahapenting yang di luar kemampuan metodis ilmu-ilmu spesial itu, secara metodis, sistematis, kritis dan berdasar. Di samping itu, filsafat ilmu diperlukan untuk (1) membantu membedakan ilmu dengan saintisme (yang memutlakkan berlakunya ilmu dan tidak menerima cara pengenalan lain selain cara pengenalan yang dijalankan ilmu), (2) memberi jawab atas pertanyaan”makna” dan ”nilai”, dalam hal mana ilmu membatasi diri pada penjelasan mekanisme saja (Bertens, 2005: 23-26), (3) merefleksi, menguji, mengritik asumsi dan metode keilmuan, sebab ada kecenderungan penerapan metode ilmiah tanpa memerhatikan struktur ilmu itu sendiri (Mustansyir & Munir, 2001), serta (4) dari hubungan historisnya dengan ilmu, filsafat menginspirasikan masalah-masalah yang akan dikaji oleh ilmu. Berdasar seluruh uraian di atas, jelas kiranya hubungan filsafat dengan ilmu. Ringkasnya dapat dikatakan bahwa filsafat dengan tiga bidang utamanya―yakni metafisika (khususnya ontologi), epistemologi, dan aksiologi―merupakan landasan hoslistis pengembangan ilmu. Inilah hal yang merupakan pokok pikiran utama yang sekaligus juga menjadi kerangka tulisan ini.
2
Landasan epistemologis ilmu berkaitan dengan aspek-aspek metodologis ilmu dan sarana berpikir ilmiah lainnya, seperti bahasa, logika, matematika, dan statistika. Landasan ini berangkat dari suatu premis bahwa sesungguhnya alam semesta tidak berbicara (dalam arti formal); ia hanya memanifestasikan diri dalam dan lewat fakta-fakta saja. Agar sains dapat berada, metode-metode (mekanisme-mekanisme) tertentu harus diciptakan, untuk ”menanyai” alam semesta dan bahkan untuk menerima darinya jawaban-jawaban yang signifikatif dan kondusif. Inilah fungsi pokok metode ilmiah yang akan dielaborasi lebih jauh nanti. Dalam konteks ini, hendak dijawab pula pertanyaan: (1) ”Apakah ilmu menjamin diperolehnya kebenaran?”, (2) ”Apakah batas-batas pengetahuan ilmiah itu?” Terhadap pertanyaan pertama, diajukan proposisi bahwa kebenaran itu bukanlah sesuatu yang stabil atau yang sudah ada, melainkan berada dalam sejarah yang senantiasa berubah[2]. Di samping itu, sejarah ilmu menunjukkan bahwa para filsuf dan ilmuwan tidak mampu merumuskan perangkat ketentuan yang universal diterima semua orang untuk menilai kebenaran (Alsa, 2003: 3). Dalam psikologi, hal ini berarti bahwa memahami satu sistem psikologi tertentu menuntut pengetahuan tentang kriteria kebenaran yang dianut oleh sistem tersebut. Dalam psikologi, kriteria itu misalnya: deductive explanation, behavioral control, interpretive consistency, dan intuitive knowing (Alsa, 2003: 3).[3] Berdasarkan uraian di atas, jelas bahwa yang dijamin untuk diperoleh oleh ilmu hanyalah jenis kebenaran ilmiah (scientific truth), meskipun sifat-sifatnya tidak mutlak, tidak samad, melainkan bersifat nisbi (relatif), sementara (tentatif), dan hanya merupakan pendekatan (Wilardjo dalam Suriasumantri, 1997: 239). ”Kebenaran ilmiah” dalam tulisan ini diartikan sebagai kebenaran yang didapat melalui cara-cara baku yang disebut ”metode ilmiah”[4]; jadi, kebenaran yang didapat dengan cara lain tidak disebut kebenaran ilmiah, kecuali aksioma seperti dalam matematika (Marzoeki, 2000: 15).[5] Ada kebenaran lain dan sumber kebenaran lain (filsafat, seni, agama, dsb) (Suriasumantri, 1997: 3). Selanjutnya, terhadap pertanyaan epistemologis kedua, dapat dikemukakan bahwa para ahli sejarah sains dan metodologi ilmiah mengakui adanya jenis masalah yang, meskipun lahir dari dalam sains, namun melampaui batas-batas sains itu (Leahy, 1997: 32-40).[6]
Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa pengetahuan ilmiah itu terbatas setidaknya berdasarkan dua argumen pokok: (1) keterbatasan persepsi, memori, dan penalaran, (2) implikasi saintifik kosmos terhadap pertanyaan-pertanyaan paripurna. Pertama, kiranya sudah sangat jelas bahwa persepsi, ingatan, dan penalaran sebagai sumber pemerolehan pengetahuan manusia mempunyai kelemahan-kelemahan (Suriasumantri, 1997: 17-18). Dalam kaitan ini, kegiatan berpikir
3
dalam ilmu menggunakan objek-objek material berupa gejala-gejala konkret yang dapat diamati secara langsung (Takwin, 2003: 23)[7]. Kedua, terdapatnya batas-batas pengetahuan ilmiah justru mendasarkan diri secara paradoksikal pada sebuah asumsi sebagaimana dinyatakan oleh Paul Davis (dalam Leahy, 2002: 15): Seluruh bangunan ilmiah berdasarkan hipotesis rasionalitas alam semesta ... Sukses sains setidaknya merupakan suatu evidensi tak langsung (circumstantial evidence) bagi rasionalitas alam semesta. Paradoksnya adalah bahwa rasionalitas alam semesta yang ditunjukkan oleh sains menjadi jembatan yang menghubungkan sains itu sendiri―yang sadar batas-batas pengetahuannya―dengan masalah-masalah paripurna mengenai ”makna” yang tinggal jauh di luar ilmu-ilmu empiris. Landasan ontologis ilmu berkaitan dengan hakikat ilmu; secara ontologis, ilmu mengkaji realitas sebagaimana adanya (das Sein). Persoalan yang didalami: ”Apakah yang menjadi bidang telaah ilmu?” Dalam konteks ini, hendak dijawab pula pertanyaan: ”Apakah yang membedakan penjelasan ilmiah dengan penjelasan lainnya?”. Berdasarkan uraian sebelumnya, jelas bahwa terdapat tiga hal distingtif penjelasan ilmiah (scientific explanation): (1) deduktif, (2) probabilistik, (3) fungsional atau teleologis, dan yang keempat, menurut Ernest Nagel (dalam Suriasumantri, 2000: 142-143), adalah (4) genetik.[8] Landasan aksiologis ilmu berkaitan dengan dampak ilmu bagi umat manusia. Persoalan utama yang mengedepan di sini adalah: ”Apa manfaat (untuk apa) ilmu bagi manusia?” (dalam psikologi, lihat juga ”The New Science of Axiological Psychology” oleh Leon Pomeory). Dalam konteks ini, dapat ditambahkan pertanyaan: ”Sejauh mana pengetahuan ilmiah dapat digunakan?”. Dalam hal ini, persoalannya bukan lagi kebenaran, melainkan kebaikan. Secara epistemologis, persoalan ini berada di luar batas pengetahuan sains. Menurut Bertens (dalam Magnis-Seseno et. al., 1992: 49), pertanyaan ini menyangkut etika: ”Apakah yang bisa dilakukan berkat perkembangan ilmu pengetahuan, pada kenyataannya boleh dipraktikkan juga?”. Pertanyaan aksiologis ini bukan merupakan pertanyaan yang dijawab oleh ilmu itu sendiri, melainkan harus dijawab oleh manusia di balik ilmu itu. Jawabnya adalah bahwa pengetahuan ilmiah harus dibatasi penggunaannya, yakni sejauh ditentukan oleh kesadaran moral manusia.[9] Namun, jadi, sejauh mana hak kebebasan untuk meneliti? Hal ini merupakan permasalahan yang pelik.
4
Penulis Juneman, S.Psi. Sarjana Psikologi alumnus Universitas Persada Indonesia Y.A.I., Jakarta. Catatan Kaki [1] Dari historisitasnya, awalnya filsafat lah yang menangani “pengetahuan” itu. Selanjutnya, pada permulaan zaman modern, filsafat dibandingkan dengan pohon yang meliputi seluruh ilmu (Descartes): akar-akarnya adalah metafisika, dan ranting-rantingnya adalah semua ilmu yang lain. Ilmu-ilmu satu per satu memperoleh otonominya, berkembang pesat, dan mengambil alih banyak tugas yang secara tradisional dijalankan filsafat. [2] Dalam analogi ilustratif Louis Leahy (2002: 17), ”Kita naik selangkah demi selangkah dari suatu tangga yang panjang; sehingga dewasa ini kepada kita disajikan suatu perspektif yang dahulu tidak ada, dan yang memungkinkan kita untuk menentukan relasi-relasi antara segi-segi alam semesta.” [3] Argumentasi ini semakin diperumit lagi apabila pemikiran Michel Foucault diikutsertakan, bahwa kebenaran pun ditunjuk dalam setiap wacana ilmiah di mana kuasa strategi dipraktikkan (Kebung, 2002: 35). Demikian pula, kita dapat menjadi semakin pesimis mengenai penjaminan pemerolehan kebenaran oleh ilmu, apabila kita merujuk pada hipotesis Foucault bahwa sejarah pengetahuan tidak begitu saja patuh pada hukum umum kemajuan nalar. Di bawah apa yang diketahui oleh ilmu pengetahuan, ada sesuatu yang tidak diketahuinya, tetapi yang mempunyai hukum dan aturannya sendiri. Tidak mengherankan, Foucault memposisikan psikoanalisis (di samping etnologi) secara khusus, bukan karena berhasil menjadi ilmiah dengan memantapkan landasan positivitasnya, tetapi karena terus mempertanyakan segala sesuatu yang tampak mapan (Leksono, 2002: 31). [4] Versi terbaru atau mutakhir dari apa yang disebut ”kebenaran ilmiah” itu lah yang disebut sebagai ”teori” (Alwasilah, 2002: 45). Menurut Shaw dan Costanzo (dalam Sarwono, 2002: 5), teori merupakan serangkaian hipotesis atau proposisi yang saling berhubungan tentang suatu gejala (fenomena) atau sejumlah gejala. Berdasarkan definisi ini, dapat disimpulkan sedikitnya empat fungsi teori: (1) menjelaskan atau memberi tafsir baru terhadap fenomena, (2) menghubungkan satu konsep/konstruk dengan konsep/konstruk lain, (3) memprediksi gejala, dan (4) menyediakan kerangka yang lebih jembar dari temuan dan pengamatan. Metode ilmiah lah yang merupakan prosedur baku yang berfungsi menghasilkan teori/kebenaran dimaksud. Metode ilmiah merupakan rentetan daur-daur penyimpulan-rampatan (induksi), penyimpul-khasan (deduksi) dan penyahihan (verifikasi/validasi) yang terus menerus tak kunjung usai (Wilardjo dalam Suriasumantri, 1997: 237). Dalam daur ini, terdapat demarkasi yang disebut Karl Popper sebagai falsifiabilitas. Yang harus melewati patok demarkasi pengujian empiris ini adalah hipotesis. Hipotesis merupakan pernyataan dugaan (conjectural) tentang hubungan antara dua variabel atau lebih, yang dapat dirunut atau dijabarkan dari teori dan dari hipotesis lain (Kerlinger, 2003: 32). Apabila hipotesis kerja (yang hendak diuji) bertahan menghadapi semua usaha menolaknya sebagai keliru (false), teori baru (Popper: ”system of hypotheses”; Shaw & Costanzo: ”a set of interrelated hypothesis”) boleh dianggap sudah diperoleh. Jadi, fungsi hipotesis adalah mengarahkan prosedur penelitian ilmiah, dan membawa ilmuwan ”keluar” dari dirinya sendiri (Kerlinger, 2003: 33). Dua atau lebih variabel yang dijalinkan oleh hipotesis merupakan konstruk-konstruk atau konsep-konsep yang memiliki variasi nilai dan terhubung dengan realitas via pengukuran. ”Konsep” mengungkapkan abstraksi yang terbentuk oleh generalisasi dari hal-hal khusus (Kerlinger, 2003: 48), sedangkan ”konstruk” merupakan konsep-konsep yang didefinisikan oleh sebuah jejaring nomologis, yang mengaitkan konstruk-konstruk dan variabel-variabel yang teramati melalui seperangkat relasi-relasi teoritis-sah (Cronbach & Meehl, 1955). Menurut Bunge (1983), konstruk adalah sebuah objek ideal, yang eksistensinya bergantung (predicated) pada mind seseorang; dalam hal ini dikontraskan dengan objek-objek riil, yang eksistensinya tidak bergantung pada mind. Dalam definisi yang lain, konstruk merupakan sebuah properti mental ("Assessing statistically", 2004). Fungsi konsep adalah sebagai alat identifikasi fenomena yang diobservasinya (Effendi dalam Singarimbun & Effendi, 2006: 95); misalnya, ”konsep prestasi akademis” mengungkapkan sejumlah observasi tentang hal-hal yang lebih atau kurang ”prestatif”. Sedangkan konstruk berfungsi membantu kita mengerti esensi fenomena yang sedang diteliti (Christensen, Johnson, & Horn, 2008: 288); misalnya, ”konstruk prestasi” menolong kita mengenali kenyataan bahwa prestasi akademis merupakan fungsi dari inteligensi dan motivasi. [5] Suatu pernyataan teoretis mesti berlandaskan pada pernyataan sebelumnya. Pernyataan sebelumnya harus berlandaskan pernyataan sebelumnya lagi, dan seterusnya, sehingga kita dapat sampai pada pernyataan yang paling pangkal diajukan. Pernyataan ini dianggap terbukti dengan sendirinya (self-evident) dan diterima umum sebagai kebenaran (universally recognized as truth) disebut aksioma (Marzoeki, 2000: 17). Contoh aksioma dalam Psikologi Sosial: (1) manusia mengkonstruksi realitasnya sendiri, dan (2) pengaruh-pengaruh sosial bersifat pervasif (Smith & Mackie, 2000: 14). Nampak bahwa fungsi aksioma adalah membantu ilmuwan untuk mengorientasikan aktivitas ilmiahnya secara
5
tepat, sehingga data, penyelidikan, dan interpretasi menjadi harmonis dengan aksioma orisinalnya. Menurut Kantor (1983), ”No intellectual work can be organized into a system of interpretation and explanation without the operation of axioms as basic assumptions.” Di samping itu, fungsi aktual aksioma adalah untuk menjelaskan fenomena yang dideskripsikan oleh teorema-teorema dari sebuah sistem ilmu (Lakatos, 1978: 27). [6] Misalnya: ”(1) Ahli fisikia, yang menghadapi soal hubungan antara subjek dan objek, yang bersifat filosofis; (2) Ahli biologi, yang menemui program DNA, ... , seakan-akan materi ”dipikirkan” ke arah prestasi yang melampaui kemampuan materi murni; (3) Kasus Hellen Keller, yang menunjukkan bahwa semua usaha untuk merendahkan kesadaran intelektual kepada derajat suatu psikologi empiris atau sensualis saja, sama sekali kalah. (Kasus ini) ... tidak dapat dimengerti tanpa melihat dalam inteligensi sebuah dimensi yang memang supra-material.” [7] Sehubungan dengan ini, Tennant (1968: 364) menyatakan: Science can only know …. the Real through and as the phenomenal. It is precluded from making statements, positive or negative, as to the ontal, and from claiming absolute knowledge or non-phenomenal knowledge of the absolute. [8] Contoh: Penjelasan probabilistik ditarik secara induktif dari sejumlah kasus yang dengan demikian tidak memberikan kepastian seperti penjelasan deduktif, melainkan penjelasan yang bersifat peluang, seperti ”kemungkinan”, ”kemungkinan besar”, atau ”hampir dapat dipastikan”. Penjelasan fungsional atau teleologis meletakkan sebuah unsur dalam kaitannya dengan sistem secara keseluruhan yang mempunyai karakteristik atau arah perkembangan tertentu (Suriasumantri, 2000: 142). Dewasa ini telah ditemukan model-model penjelasan ilmiah yang membedakannya dengan penjelasan non-ilmiah, yakni Deductive-Nomological (DN), Statistical Relevance (SR), Causal Mechanical (CM), dan Unificationist models ("Scientific explanation", 2009). Dalam model DN, sebagai contoh, ilmu bertanggung jawab untuk menyediakan jawaban yang memuaskan atas pertanyaan "mengapa". Suatu jawaban atas pertanyaan "mengapa" baru dapat disebut penjelasan ilmiah apabila ia memiliki struktur yang logis dalam argumennya, yaitu terdiri atas premis-premis dan kesimpulan yang memiliki relasi satu sama lain. Kesimpulan yang ada di dalamnya merupakan fenomena yang perlu dijelaskan (explanandum), sedangkan premis-premisnya adalah fakta yang bisa digunakan untuk mendukung kesimpulan tersebut (explanans). Untuk dapat memberikan penjelasan, ilmu memiliki argumen deduktif dengan minimal satu hukum umum sebagai premis dan satu explanandum sebagai konklusi. Explanans memberikan penjelasan ilmiah terhadap explanandum hanya apabila: (1) Explanandum merupakan konsekuensi logis dari konjungsi explanans; (2) Tidak ada surplus explanans yang tidak perlu dalam rangka eksplanasi; (3) Pernyataan-pernyataan explanans harus memiliki isi empiris; (4) Semua pernyataan explanans harus benar (Ruben, 1990). Ada karakteristik lain dari model DN, yaitu bahwa sebuah eksplanasi dapat digunakan untuk memperkirakan, dan sebuah prediksi adalah sebuah eksplanasi yang sah karena kepersisan struktur logisnya. Model ini sangat jelas membedakan antara ilmu dan bukan-ilmu. [9] Bagaimana, misalnya, sikap ilmuwan terhadap eksperimen psikologis yang mengobjekkan manusia? Menurut Magnis-Suseno (1995: 60-61), ”Ilmuwan tidak pernah boleh semata-mata merupakan ilmuwan.” Ilmuwan harus mengembangkan suatu tanggungjawab sosial, dengan tidak begitu saja melepaskan kekuatan-kekuatan yang kemudian tidak dapat dikuasai manusia lagi. Menurut Bertens (1992: 56, 2001: 291), pembatasan (sejauh mana) penggunaan pengetahuan ilmiah menuntut penanganan yang menyeluruh, yang biasanya ditetapkan oleh negara (biomedis), perjanjian internasional (persenjataan nuklir), atau komisi-komisi etis. Hal ini karena individu-individu ilmuwan itu sendiri tidak berdaya menangani masalah-masalah etis, khususnya yang berat. Kepustakaan Alsa, A. (2003). Pendekatan kuantitatif dan kualitatif serta kombinasinya dalam penelitian psikologi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Alwasilah, A. C. (2002). Pokoknya kualitatif. Jakarta: Pustaka Jaya. Assessing statistically and clinically meaningful construct deficiency/saturation: Recommended criteria for content coverage and item writing. (2004, Spring). Rasch Measurement Transactions, 17(4). Ditemukembali pada 7 November 2009, dari http://www.rasch.org/rmt/rmt174.pdf Bertens, K. (1992). Umat Katolik dan bioetika. Dalam Magnis-Suseno, F., Lajar, L. L., Bertens, K., Bagus, L., & Mardiatmadja, B. S., Iman dan ilmu: Refleksi iman atas masalah-masalah aktual. Yogyakarta: Kanisius. Bertens, K. (2001). Etika. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Bertens, K. (2005). Panorama filsafat modern (Edisi revisi). Jakarta: Teraju. Bunge, M. A. (1983). Epistemology & methodology. Hingham, MA: Reidel. Christensen, C. M., Johnson, C., & Horn, M. (2008). Disrupting class: How disruptive innovation will change the way the world learns. McGraw-Hill. Cronbach, L. J., & Meehl, P. E. (1955). Construct validity in psychological tests. Psychological Bulletin, 52(4), 281-302. Kantor, J. R. (1983). Axioms and their role in psychology. Revista Mexicana de Análisis de la Conducta, 7(1), 5-11.
6
Kebung, K. (2002, Januari-Februari). Kembalinya moral melalui seks. Basis, No. 01-02, Th. 51, 32-41. Kerlinger, F. N. (2003). Asas-asas penelitian behavioral. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Lakatos, I. (1978). Mathematics, science and epistemology. Philosophical Papers, 2. Leahy, L. (1997). Sains dan agama dalam konteks zaman ini. Yogyakarta: Kanisius. Leahy, L. (2002). Horizon manusia: Dari pengetahuan ke kebijaksanaan. Yogyakarta: Kanisius. Leksono, K. (2002, Januari-Februari). Berakhirnya manusia dan kebangkrutan ilmu-ilmu. Basis, No. 01-02, Th. 51, 22-31. Magnis-Suseno, F. (1995). Filsafat-kebudayaan-politik: Butir-butir pemikiran kritis. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Magnis-Suseno, F. (1988). Etika politik: Prinsip-prinsip moral dasar kenegaraan modern. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Magnis-Suseno, F. (1995). Filsafat-kebudayaan-politik: Butir-butir pemikiran kritis. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Marzoeki, D. (2000). Budaya ilmiah dan filsafat ilmu. Jakarta: Grasindo. Mustansyir, R, & Munir, M. (2001). Filsafat ilmu. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Ruben, D. (1990). Explaining explanation. London & New York: Routledge. Sarwono, S. W. (Ed.) (2002). Teori-teori psikologi sosial (Edisi revisi). Jakarta: RajaGrafindo Persada. Scientific explanation. (2009, 16 Januari). Standford Encyclopedia of Philosophy. Ditemukembali pada 7 November 2009, dari http://plato.stanford.edu/entries/scientific-explanation/ Singarimbun. M., & Effendi, S. (Ed.) (2006). Metode penelitian survai (Edisi revisi). Jakarta: LP3ES. Smith, E. R., & Mackie, D. M. (2000). Social psychology. Psychology Press. Suriasumanti, J. (Ed.) (1997). Ilmu dalam perspektif: Sebuah kumpulan karangan tentang hakekat ilmu. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. Suriasumantri, J. (2000). Filsafat ilmu: Sebuah pengantar populer. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan. Takwin, B. (2003). Filsafat Timur: Sebuah pengantar ke pemikiran-pemikiran Timur. Yogyakarta & Bandung: Jalasutra. Tennant, F. R. (1968). Philosophical theology. London, N.W.: Cambridge University Press. Wilardjo. L. (1997). Ilmu dan humaniora. Dalam Suriasumanti, J. (Ed.), Ilmu dalam perspektif: Sebuah kumpulan karangan tentang hakekat ilmu. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Sunday, January 15, 2012

Menguak Misteri Tentang "DeJA VU"

Senin, 31 Oktober 2011 - Déjà vu ada kalanya membangkitkan keingintahuan kita terhadap persepsi kita sendiri beserta kemisteriusan di baliknya. Tapi adakah sisi ilmiah yang menjelaskan fenomena unik ini?

Anda pernah berada di suatu tempat yang sama sekali tidak pernah Anda kunjungi, namun timbul perasaan bahwa Anda pernah mengunjungi tempat tersebut sebelumnya? Atau dalam contoh kasus lain, Anda tenggelam dalam sebuah percakapan dengan seorang teman dan tiba-tiba merasa pernah terlibat dalam percakapan itu sebelumnya? Jika pernah, artinya Anda pernah mengalami fenomena yang dikenal sebagai déjà vu.
Hampir semua orang pernah mengalami perasaan ini setidaknya sekali dalam hidup. Pemandangan, suara, rasa atau bahkan bau sesuatu, dalam situasi tertentu, membuat kita berpikir bahwa kita pernah mengalaminya meskipun kita tahu bahwa kita tidak mungkin pernah mengalaminya.
Déjà vu adalah bahasa Perancis, yang artinya ”pernah melihat”, didefinisikan sebagai pengalaman timbulnya perasaan pernah menyaksikan atau mengalami suatu situasi saat ini, meskipun keadaan dari pengalaman sebelumnya tidak pasti dan tidak terbayangkan. Istilah ini berasal dari seorang peneliti psikis Perancis, Émile Boirac (1851-1917) dalam bukunya yang berjudul L’Avenir des sciences psychiques (Masa Depan Ilmu Psikis).
Kepercayaan tentang déjà vu umumnya dikaitkan dengan pengalaman inkarnasi, kehidupan masa lalu individu, yang bisa terefleksi ke dalam ingatan saat kita mengalami situasi-situasi tertentu. Tapi jika Anda ingin meninjaunya dari sisi ilmiah, Anda tidak akan menemukan istilah ‘reinkarnasi’, atau ‘telepati’, atau ‘wahyu’ dan sebagainya. Umumnya, para peneliti memandang déjà vu sebagai kesalahan persepsi memori, munculnya kesan palsu di saat sebuah pengalaman menjadi “teringat” – semacam ‘sulap tangan’ otak saat memilah secara kolektif fitur-fitur sebuah pengalaman untuk menimbulkan ingatan masa lalu sehingga menipu pikiran kita seolah-olah kita pernah mengalaminya.
Sigmund Freud secara khas mengungkapkan fenomena ini dari segi kesadaran dan bawah sadar. Sebuah memori yang direpresi dapat mendorong perasaan déjà vu ketika sesuatu dalam pengalaman sadar menyentuhnya – pengalaman “sebelumnya” paling sering terkait dengan mimpi, meskipun dalam beberapa kasus terdapat pula perasaan tegas yang dialami benar-benar pernah terjadi di masa lalu.
‘Kenangan’ dari sumber lain
Kita memiliki banyak kenangan yang tersimpan, yang hadir dari berbagai aspek kehidupan kita, tidak hanya pengalaman kita sendiri namun juga termasuk film, gambar yang pernah kita lihat, atau buku-buku yang pernah kita baca. Kita dapat memiliki kenangan yang sangat kuat dari hal yang pernah kita baca atau melihat tanpa benar-benar mengalaminya, dan seiring waktu, kenangan ini dapat terdorong kembali ke dalam pikiran kita. Ketika kita melihat atau mengalami sesuatu yang sangat mirip dengan salah satu kenangan, maka muncullah perasaan déjà vu.
Sebagai contoh; Herman Sno, salah satu ahli psikologi terkemuka asal Belanda, telah mengusulkan bahwa memori tersimpan dalam format yang mirip dengan yang digunakan untuk menyimpan gambar holografik. Aspek holografi yang menjadi pusat tesis Sno ini adalah bagaimana hologram menyimpan informasi.
Secara khusus, Sno menunjukkan bahwa, tidak seperti halnya fotografi tradisional, setiap bagian hologram mengandung semua informasi yang dibutuhkan untuk memproduksi keseluruhan gambar. Semakin kecil bagian yang digunakan, maka semakin berkurang ketepatan (atau semakin kabur) gambar yang dihasilkan. Menurut Sno, memori manusia bekerja dengan cara analog. Pengalaman déjà vu terjadi ketika suatu situasi saat ini, secara menipu, cocok dengan salah satu gambar-gambar kabur dari peristiwa masa lalu. Ini agak seperti meyakinkan diri sendiri bahwa Anda mengenali seseorang dalam gambar kamera keamanan yang buram.
Proses pengolahan informasi
Teori lain adalah berdasarkan pada cara otak kita memproses informasi baru dan bagaimana menyimpan memori jangka panjang dan jangka pendek. Robert Efron menguji gagasan ini di Rumah Sakit Veteran di Boston pada tahun 1963, dan bertahan sebagai teori yang paling valid hingga saat ini. Ia mengusulkan bahwa respon neurologis yang tertunda dapat menyebabkan déjà vu. Karena informasi masuk ke dalam pusat-pusat pengolahan otak melalui lebih dari satu jalur, maka bisa saja terjadinya pencampuran informasi yang tidak tersinkronkan secara tepat.
Efron menemukan bahwa lobus temporal pada otak kiri bertanggung jawab untuk menyortir informasi yang masuk. Ia juga menemukan bahwa lobus temporal ini menerima informasi yang masuk dua kali dengan sedikit penundaan (dalam skala milidetik) di antara transmisi – sekali secara langsung dan sekali lagi setelah jalan memutar melalui belahan kanan otak. Jika transmisi kedua mengalami penundaan sedikit lebih panjang, maka otak mungkin menempatkan cap yang salah pada sedikit informasi dan mendaftarkannya sebagai memori sebelumnya karena sudah diproses. Hal ini bisa menjelaskan perasaan akrab yang tiba-tiba.
Dalam sebuah studi yang dilakukan oleh psikolog Alan Brown dan Elizabeth Marsh, dipublikasikan dalam Psychological Science di tahun 2009, secara signifikan memperluas teori “persepsi ganda” yang menghasilkan déjà vu, menunjukkan bahwa kilasan adegan bisa terasa tampak akrab bila sepenuhnya dirasakan beberapa saat kemudian. Katakanlah, Anda masuk ke dalam sebuah museum baru, sambil melirik karya seni Anda berbicara di ponsel. Setelah menutup telepon, Anda melihat sekeliling dan rasanya Anda sudah ada di tempat tersebut sejak lama.
Berdasarkan teori persepsi ganda, kilasan awal menciptakan memori lemah tanpa konteks ruang-waktu. Bila Anda kemudian secara sadar mendaftarkan adegan tersebut, maka otak menghubungkan dua memori – dan di situlah Anda memperoleh perasaan yang aneh.
Brown dan Marsh menciptakan ulang pengalaman ini dalam laboratorium dengan menggunakan simbol-simbol unik. Dalam percobaan mereka, simbol-simbol itu melintas pada tingkat subliminal di layar komputer, diikuti dengan pandangan jangka panjang simbol yang sama atau berbeda, atau sama sekali tidak ada simbol.
Saat kilasan tersebut diikuti dengan simbol-simbol yang identik, para partisipan lima kali lebih mungkin untuk mengatakan bahwa mereka sudah pernah melihat simbol-simbol tersebut sebelum percobaan.
Jadi, Anda masih berpikir bahwa déjà vu berhubungan dengan hal-hal mistis sementara ada penjelasan yang lebih masuk akal? Jika Anda merasa perlu mencari jawaban yang lebih memuaskan, satu hal yang perlu diingat: Pikiran Anda bisa menipu Anda sendiri.

sumber: FaktaIlmiah.com

REFERENSI:
  • Berrios, G.E. (1995). Déjà vu and other disorders of memory during the nineteenth century. Comprehensive Psychiatry 36: 123–129
  • Brown, Alan S. (2004). The Déjà Vu Experience. Psychology Press. ISBN 1841690759
  • Herman N Sno,  Don H Linszen. The déjà vu experience: Remembrance of things past? American Journal of Psychiatry, Vol 147(12), Dec 1990, 1587-1595
  • Robert Efron. TEMPORAL PERCEPTION, APHASIA AND DÉJÀ VU. American Physiological Society, Volume 86 ( 3 ): 403, Oxford University Press – Sep 1, ISSN 1963 0006-8950
  • Alan S. Brown, Elizabeth J. Marsh. Creating Illusions of Past Encounter Through Brief Exposure. Psychological Science, May 2009 20: 534-538, DOI: 10.1111/j.1467-9280.2009.02337.x

Pentingnya Jaringan Pengetahuan Sebagai Filsafat Sains

Metode ilmiah harus melibatkan sejumlah besar gagasan. Sebuah teori dinilai oleh hubungannya dengan banyak pengamatan dan banyak teori. Pengetahuan ilmiah harus merupakan jaringan pernyataan yang koheren, baik secara empiris maupun teoritis.
Beberapa pengujian lebih penting dari yang lain, dan beraneka bukti adalah aspek penting pengujian empiris. Ini bukanlah hal mengejutkan. Metode ilmiah harus dinilai.
Pertanyaannya adalah apakah metode ilmiah tidak dapat semata informasi objektif dalam pengamatan dan logika. Harusnya pengamatan dan logika, dan sesuatu yang lain. Apakah sesuatu yang lain ini subjektif, dan karenanya kontribusi pribadi ilmuan? Jawaban singkatnya tidak.
Penilaian kita berikan untuk mempertanyakan pentingnya data dan relevansinya, tidak peduli prasangka atau cita rasa terhadap faktanya. Ia tidak merujuk pada subjektivitas pribadi. Ia merujuk pada otoritas teori ilmiah yang telah ada dan kebutuhan untuk mempertahankan koherensi keseluruhan dalam sistem keyakinan. Bukan pengaruh pribadi yang menentukan penilaian, namun pengaruh teori. Itu mengapa penilaian ilmiah bukan berada di tangan siapapun yang ada di jalan. Ia ada di tangan para pakar, karena kepakaran memberi mereka konteks teoritis untuk membuat keputusan sarat teori.
Klaim ilmiah bukan hanya harus konsisten, namun juga harus kooperatif. Hal ini tidak seteliti konsistensi logis, namun membutuhkan bukan hanya kesesuaian dalam jaringan gagasan, namun juga hubungan antar gagasan. Klaim teoritis menjelaskan pengamatan, dan kadang menjelaskan klaim teoritis lainnya. Satu teori berpartisipasi dalam peran penopang dalam mempertimbangkan bukti teori lainnya. dst. Ada aneka jenis hubungan antara gagasan ilmiah. Dan jaringan klaim koheren saling hubung ini adalah sebuah tantangan sekaligus sebuah pencapaian.
Sumber

Friday, January 13, 2012

Humanisasi Dalam Kehidupan

Dalam Ilmu Sosial Profetik, humanisasi artinya memanusiakan manusia, menghilangkan “kebendaan”, ketergantungan, kekerasan dan kebencian dari manusia. Humanisasi sesuai dengan semangat liberalisme Barat. Hanya saja perlu segera ditambahkan, jika peradaban Barat lahir dan bertumpu pada humanisme antroposentris, konsep humanisme Kuntowijoyo berakar pada humanisme teosentris. Karenanya, humanisasi tidak dapat dipahami secara utuh tanpa memahami konsep transendensi yang menjadi dasarnya.
Humanisme Barat lahir dari pemberontakan terhadap kekuasaan Gereja yang bersifat dogmatis pada abad Pertengahan. Pandangan antroposentris beranggapan bahwa kehidupan tidak berpusat pada Tuhan tapi pada manusia. Etosnya adalah semangat menghargai nilai-nilai yang dibangun oleh manusia sendiri. Peradaban antroposentris menjadikan manusia sebagai tolok ukur kebenaran dan kepalsuan, untuk memakai manusia sebagai kriteria keindahan dan untuk memberikan nilai penting pada bagian kehidupan yang menjanjikan kekuasaan dan kesenangan manusia. Antroposentrisme menganggap manusia sebagai pusat dunia, karenanya merasa cukup dengan dirinya sendiri. Manusia antroposentris merasa menjadi penguasa bagi dirinya sendiri. Tidak hanya itu, ia pun bertindak lebih jauh, ia ingin menjadi penguasa bagi yang lain. Alam raya pun lalu menjadi sasaran nafsu berkuasanya yang semakin lama semakin tak terkendali.
Dengan rasio sebagai senjatanya, manusia antroposentris memulai sejarah kekuasaan dan eksploitasi atas alam tanpa batas. Modernisme dengan panji-panji rasionalismenya terbukti menimbulkan kerusakan alam tak terperikan terhadap alam dan manusia. Ilmu akal adalah ilmu perang yang metode dan taktik perangnya telah ditulis dengan amat cerdas oleh Descartes melalui semboyannya “Cogito Ergo Sum”. Melalui ilmu perang Descartes, peradaban modern menciptakan mesin-mesin perang terhadap alam berupa teknologi canggih untuk menaklukkan dan mengeksploitasi alam tanpa batas, juga mesin-mesin perang terhadap manusia berupa senjata-senjata canggih supermodern, bom, bahkan juga senjata pemusnah masal. Jadi, alih-alih humanisme antroposentris itu berhasil melakukan proses humanisasi, yang terjadi justru adalah proses dehumanisasi.
Kuntowijoyo lalu mengusulkan humanisme teosentris sebagai ganti humanisme antroposentris untuk mengangkat kembali martabat manusia. Dengan konsep ini, manusia harus memusatkan diri pada Tuhan, tapi tujuannya adalah untuk kepentingan manusia (kemanusiaan) sendiri. Perkembangan peradaban manusia tidak lagi diukur dengan rasionalitas tapi transendensi. Humanisasi diperlukan karena masyarakat sedang berada dalam tiga keadaan akut yaitu dehumanisasi (obyektivasi teknologis, ekonomis, budaya dan negara), agresivitas (agresivitas kolektif dan kriminalitas) dan loneliness (privatisasi, individuasi).

Transendensi

Transendensi merupakan dasar dari dua unsurnya yang lain. Transendensi hendak menjadikan nilai-nilai transendental (keimanan) sebagai bagian penting dari proses membangun peradaban. Transendensi menempatkan agama (nilai-nilai Islam) pada kedudukan yang sangat sentral dalam Ilmu Sosial Profetik.
Ekses-ekses negatif yang ditimbulkan oleh modernisasi mendorong terjadinya gairah untuk menangkap kembali alternatif-alternatif yang ditawarkan oleh agama untuk menyelesaikan persoalan-persoalan kemanusiaan. Manusia produk renaissance adalah manusia antroposentris yang merasa menjadi pusat dunia, cukup dengan dirinya sendiri. Melalui proyek rasionalisasi, manusia memproklamirkan dirinya sebagai penguasa diri dan alam raya. Rasio mengajari cara berpikir bukan cara hidup. Rasio menciptakan alat-alat bukan kesadaran. Rasio mengajari manusia untuk menguasai hidup, bukan memaknainya. Akhirnya manusia menjalani kehidupannya tanpa makna.
Di sinilah transendensi dapat berperan penting dalam memberikan makna yang akan mengarahkan tujuan hidup manusia. Islam dapat membawakan kepada dunia yang sekarat, bukan karena kurang alat atau teknik, akan tetapi karena kekurangan maksud, arti dari masyarakat yang ingin merealisir rencana Tuhan. Nilai-nilai transendental ketuhanan inilah yang akan membimbing manusia menuju nilai-nilai luhur kemanusiaan.
Transendensi adalah dasar dari humanisasi dan liberasi. Transendensi memberi arah kemana dan untuk tujuan apa humanisasi dan liberasi itu dilakukan. Transendensi dalam Ilmu Sosial Profetik di samping berfungsi sebagai dasar nilai bagi praksis humanisasi dan liberasi, juga berfungsi sebagai kritik. Dengan kritik transendensi, kemajuan teknik dapat diarahkan untuk mengabdi pada perkembangan manusia dan kemanusiaan, bukan pada kehancurannya. Melalui kritik transendensi, masyarakat akan dibebaskan dari kesadaran materialistik-di mana posisi ekonomi seseorang menentukan kesadarannya-menuju kesadaran transendental. Transendensi akan menjadi tolok ukur kemajuan dan kemunduran manusia.

Arah dan Tantangan Psikologi Islam


By Hasan Mawardi

Dalam perspektif Alquran (Islam), manusia adalah makhluk unik. Di satu sisi, ia disanjung sedemikian tinggi, bahkan melebihi ketinggian malaikat sebagai makhluk spiritual sampai mereka disuruh Tuhan untuk bersujud dan mengakui keunggulannya. Sedangkan di sisi yang lain, ia dicerca, direndahkan serta dihinakan, bahkan lebih hina dari binatang.
Karena keunikannya itu, berbagai disiplin ilmu pengetahuan tentang manusia kemudian lahir. Salah satu disiplin ilmu pengetahuan tersebut adalah psikologi. Yaitu ilmu yang melihat dan menempatkan manusia sebagai obyek kajiannya, khususnya perilaku manusia. Bahkan, karena keunikannya itu pula, mazhab-mazhab psikologi seperti Psikoanalisa, Behaviorisme, dan Humanisme antroposentris tidak bisa memberikan jawaban tuntas tentang perilaku manusia. Masing-masing mazhab hanya mampu melihat manusia dari satu sisi pandang saja.
Sebagai disiplin ilmu baru, Psikologi Islam lahir sebagai antitesis terhadap berbagai Madzhab Psikologi Barat modern. Dalam wataknya yang terbuka, saat ini, disiplin ilmu Psikologi Modern harus mere-definisi dirinya, sehingga Psikologi Islam bisa menjadi salah satu alternatif yang dapat ditawarkan. Meskipun Psikologi Barat berfokus pada ego sebagai subjek dan objek yang menjadi landasan sentral paham hedonisme dan individualisme Barat, sedangkan Psikologi Islam mendasarkan pada spiritualisme, namun keduanya memiliki titik singgung dimana manusia sebagai obyek kajiannya.
Seiring dengan kesadaran kembali spiritualisme di dunia Barat, agama kini mulai dilirik kembali sebagai solusi alternatif. Di Indonesia, beberapa universitas seperti UI, UIN, UMS, UII, UGM, Unisba dan lainnya menawarkan mata kuliah Psikologi Islam. Asosiasi Psikologi Islam (API) bahkan sudah menjadi bagian dari HIMPSI, dan International Association of Muslim Psychologist. Namun, bangunan konsepsi Psikologi Islam yang integral belum berdiri, kerangka teori belum utuh, penjabaran terapan belum baku, bahkan penelitian-penelitian empirik yang ekstensif untuk mendukung teori dan terapannya belum dilakukan secara massif. Selain itu, fokusnya masih diarahkan pada wilayah Psikoanalisis.
Jika kita amati, wilayah kajian Psikoanalisis dalam pengembangan Psikologi Islam memang yang paling menyolok, karena menyediakan perbedaan yang paling kontras dengan konsepsi Alquran tentang manusia. Hampir setiap hal yang dikemukakan oleh psikoanalisis merupakan kebalikan dari apa yang menjadi konsepsi dasar Islam tentang manusia. Sementara psikoanalisis bukan aliran pemikiran yang dominan di dalam psikologi modern.
Dalam konsepsi Islam, tingkah laku adalah ekspresi jiwa manusia. Dari dulu manusia bertanya apa itu jiwa? Ilmu yang berbicara tentang jiwa antara lain; filsafat, tasawuf, dan psikologi. Kalau Psikologi yang lahir di Barat dimensinya hanya bersifat horizontal karena basic-nya sekuler. Sedangkan dalam Islam jiwa dibahas dalam konteks hubungan manusia dengan manusia, dan hubungan manusia dengan Tuhan.

Psikologi Barat Vs Islam
Dalam psikologi Barat, psikologi bekerja mengurai tentang tingkah laku, memprediksi dan terkadang mengendalikan tingkah laku yang bersifat horisontal. Sementara dalam Islam yang diwakili ilmu akhlak dan tasawuf --dua Ilmu yang berbicara tentang jiwa-- berbicara bagaimana mengubah tingkah laku menjadi baik dan bagaimana jiwa dekat dengan Tuhan. Jika Psikologi Barat berbicara tentang perilaku yang nampak (nyatanya), Psikologi Islam berbicara tentang manusia seutuhnya (ideal) dengan mengembangkan potensi-potensi kemanusiaan yang dimiliki.
Dalam tinjauan agak spesifik, Psikologi Barat sudah tidak lagi memadai untuk meneliti kejiwaan keberagamaan seseorang, seperti kegagalannya memahami fenomena revolusi Islam Iran pada masa Khomaeni. Pada saat itu, kematian sebagai syahid menjadi dambaan setiap masyarakat Iran, sehingga lahirlah gagasan atau aliran the indigenous psikologi atau psikologi pribumi sebagai revisi terhadap kekeliruan psikologi Barat.
Perbedaan lain antara keduanya adalah pada ranah metodologi. Kalau Psikologi Barat adalah hasil renungan dan eksperimen labolatorium, sedangkan psikologi Islam, sumber informasi utamanya adalah Alquran, Hadis Nabi saw, filsawat dan tasawuf untuk kemudian dijadikan barometer penghayatan dan pengalaman kejiwaan, serta eksperimentasi labolatorium sebagai upaya verifikasi, falsifikasi dan perbandingan seperti yang dilakukan para psikolog Barat.
Karena itu, --paling tidak untuk sementara ini-- dibanding eksperimentasi labolatorium, ahli-ahli psikologi Islam lebih banyak mengutip dalil Alquran dan Hadis serta warisan-warisan (turats) klasik Islam. Ketika berbicara kecerdasan spiritual misalnya, psikologi Barat nampak kering. Tetapi psikologi Islam yang berbasis wahyu, kecerdasan spiritual itu dibahas sangat mendalam, luas dan indah. Kenapa? Karena dimensi spiritual merupakan wilayah agama.
Namun kita harus akui, meskipun baju Psikologi Barat nampak ada bolong di sana-sini, kiprahnya hingga kini tetap masih dominan dan populer. Karena kepopuleran dan kekokohan bangunan teorinya, sebagian besar psikolog berbasis psikologi Barat tidak mau mengakui kelahiran ”adik” barunya, Psikologi Islam. Bahkan oleh mereka, adik baru ini dianggap sebagai ”anak haram” yang tidak ilmiah. Sebagian mereka nampak tidak dewasa, cemburu, tidak suka dan khawatir keberadaan sang adik nanti akan melindas eksistensinya yang sudah mapan. Sebagian lagi nampak lebih dewasa, bahkan menaruh harapan baru pada sang adik, Psikologi Islam, yang baru lahir begitu didambakan oleh banyak orang. Mereka dengan gembira menyambut kehadirannya dan menerimanya sebagai anggota baru dari The big family of psychology. Sang adik diharapkan dapat menjadi mazhab pelengkap dan alternatif dari mazhab-mazhab psikologi yang ada sekarang, terutama pada tingkat psikologi terapan.
Maka, terlepas dari pro dan kontra kakak-kakaknya, Psikologi Barat sangat berjasa besar terhadap kelahiran Psikologi Islam. Tanpa Psikologi Barat, kelahiran Psikologi Islam pasti akan terus menjadi wacana, dan karena itu, ia tidak dapat berdiri sendiri. Jadi, sebesar apapun kelak Psikologi Islam eksis, secara historis, tidak akan pernah bisa lepas dari psikologi Barat. Ia datang sebagai alternatif dan pelengkap, bukan sebagai saingan atau lawan.
Namun, di tengah optimisme kelahiran Psikologi Islam sebagai disiplin keilmuan yang kokoh, kita patut merenungkan apa yang pernah dilontarkan oleh P. Huntington, Profesor di Harvard University, dalam bukunya “The Crash of Civilization”. Ia menyebutnya akan ada benturan antar peradaban dunia Islam dengan Barat. Ia meramalkan secara simplistis bahwa peta peradaban dunia akan berubah menjadi tiga sekte besar: Islam, Kristen dan Konfusianisme. Islam mewakili masyarakat dan pikiran kaum muslimin (yang sebagian di negara ketiga dan dunia belahan Timur) dan Kristen mewakili budaya dan masyarakat dunia Barat dan Eropa, serta Konfusianisme mewakili China, Jepang dan sejenis ajarannya.
Terlepas dari akan terbukti atau tidak hipotesis Huntington tersebut, para ilmuan, pemerhati dan peminat psikologi Islam patut mengantisipasi, bagaimana jika hal ini benar-benar terjadi? Setelah runtuhnya komunisme, maka musuh terbesar Barat diramalkan adalah Islam. Paling tidak, dunia Barat nampak berusaha mengarahkan perkembangan dunia ke arah prediksi P. Huntington, dan menganggap Islam --minimal Iran saat ini-- sebagai ancaman terbesar dunia Barat ke depan<>

MENELUSURI HAKIKAT SEHAT DAN SAKIT

Oleh Thobib Al-Asyhar
(Mahasiswa Program Doktor Psikologi Islam UIN Jakarta)


Sehat dan sakit adalah keadaan biopsikososial yang menyatu dengan kehidupan manusia. Pengenalan manusia terhadap kedua konsep ini kemungkinan bersamaan dengan pengenalannya terhadap kondisi dirinya. Keadaan sehat dan sakit tersebut terus terjadi, dan manusia akan memerankan sebagai orang yang sehat atau sakit.
Konsep sehat dan sakit merupakan bahasa kita sehari-hari, terjadi sepanjang sejarah manusia, dan dikenal di semua kebudayaan. Meskipun demikian untuk menentukan batasan-batasan secara eksak tidaklah mudah. Kesamaan atau kesepakatan pemahaman tentang sehat dan sakit secara universal adalah sangat sulit dicapai.
Pengertian
Sehat (health) adalah konsep yang tidak mudah diartikan sekalipun dapat kita rasakan dan diamati keadaannya. Misalnya, orang tidak memiliki keluhankeluahan fisik dipandang sebagai orang yang sehat. Sebagian masyarakat juga beranggapan bahwa orang yang “gemuk” adalah otrang yang sehat, dan sebagainya. Jadi faktor subyektifitas dan kultural juga mempengaruhi pemahaman dan pengertian orang terhadap konsep sehat.
Sebagai satu acuan untuk memahami konsep “sehat”, World Health Organization (WHO) merumuskan dalam cakupan yang sangat luas, yaitu “keadaan yang sempurnan baik fisik[2], mental maupun sosial, tidak hanya terbebas dari penyakit atau kelemahan/cacat”. Dalam definisi ini, sehat bukan sekedar terbebas dari penyakit atau cacat. Orang yang tidak berpenyakit pun tentunya belum tentu dikatakan sehat. Dia semestinya dalam keadaan yang sempurna, baik fisik, mental, maupun sosial.
Pengertian sehat yang dikemukan oleh WHO ini merupakan suatau keadaan ideal, dari sisi biologis, psiologis, dan sosial. Kalau demikian adanya, apakah ada seseorang yang berada dalam kondisi sempurna secara biopsikososial? Untuk mendpat orang yang berada dalam kondisi kesehatan yang sempurna itu sulit sekali, namun yang mendekati pada kondisi ideal tersebut ada.[3]
Dalam kaitan dengan konsepsi WHO tersebut, maka dalam perkembangan kepribadian seseorang itu mempunyai 4 dimensi holistik, yaitu agama, organobiologik, psiko-edukatif dan sosial budaya.Keempat dimensi holistik tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:

a.Agama/spiritual, yang merupakan fitrah manusia. Ini merupakan fitrah manusia yang menjadi kebutuhan dasar manusia (basic spiritual needs), mengandung nilai-nilai moral, etika dan hukum. Atau dengan kata lain seseorang yang taat pada hukum, berarti ia bermoral dan beretika, seseorang yang bermoral dan beretika berarti ia beragama (no religion without moral, no moral without law).
b.Organo-biologik, mengandung arti fisik (tubuh/jasmani) termasuk susunan syaraf pusat (otak), yang perkembangannya memerlukan makanan yang bergizi, bebas dari penyakit, yang kejadiannya sejak dari pembuahan, bayi dalam kandungan, kemudian lahir sebagai bayi, dan setrusnya melalui tahapan anak (balita), remaja, dewasa dan usia lanjut.
c.Psiko-edukatif, adalah pendidikan yang diberikan oleh orang tua (ayah dan ibu) termasuk pendidikan agama. Orang tua merupakan tokoh imitasi dan identifikasi anak terhadap orang tuanya. Perkembangan kepribadian anak melalui dimensi psiko-edukatif ini berhenti hingga usia 18 tahun.
d.Sosial-budaya, selain dimensi psiko-edukatif di atas kepribadian seseorang juga dipengaruhi oleh kultur budaya dari lingkungan sosial yang bersangkutan dibesarkan.[4]
Sebagai kebalikan dari keadaan sehat adalah sakit. Konsep “sakit” dalam bahasa kita terkait dengan tiga konsep dalam bahasa Inggris, yaitu disease, illness, dan sickness. Ketiga istilah ini mencerminkan bahwa kata “sakit” mengandung tiga pengertian yang berdimensi psikososial. Secara khusus, disease berdimensi biologis, illness berdimensi psikologis, dan sickness berdimensi sosiologis. (Calhoun, dkk, 1994).
Disease penyakit berarti suatu penyimpangan yang simptomnya dikatahui melalui diagnosis. Penyakit berdimensi biologis dan obyektif. Penyakit ini bersifat independen terhadap pertimbangan-pertimbangan psikososial, dia tetap ada tanpa dipengaruhi keyakinan orang atau masyarakat terhadapnya, seperti tumor, influensa, AIDS dan lain-lain.
Illness adalah konsep psikologis yang menunjuk pada perasaan, persepsi, atau pengalaman subyektif seseorang tentang ketidaksehatannya atau keadaan tubuh yang dirasa tidak enak. Sebagai pengalama subyektif, maka illness ini bersifat individual. Seseorang yang memiliki atau terjangkit suatu penyakit belum tentu dipersepsi atau dirasakan sakit oleh seseorang tetapi oleh orang lain hal itu dapat dirasakan sakit.
Sedangkan Sickness merupakan konsep sosiologis yang berakna sebagai penerimaan sosial terhadap seseorang sebagai orang yang sedang mengalami kesakitan (illness atau disease). Dalam keadaan sickness ini orang dibenarkan melepaskan tanggung jawab, peranm atau kebiasaan-kebiasaan tertentu yang dilakukan saat sehat karena danya ketidaksehatannya.Kesakitan dalam konsep sosiologis ini berkenaan dengan peran khusus yang dilakukan sehubungan dengan perasaan kesakitannya dan sekaligus memiliki tanggung jawab baru, yaitu mencari ksembuahn.
Karena pengertian “sakit” itu dapat berdimensi subyektif-kulturalistik, maka setiap masyarakat memiliki pengertian sendiri tentang sakit sesuai pengalaman dan kebudayaannya. Peran sakit hanya dilakukan dan diakui oleh masyarakatnya jika sesuai dengan pertimbangan nilai, keyakinan dan norma sosialnya.[5]

A. Sudut Pandang Metafisika/Fisik

Dari sudut pandang fisika dan kajian metafisika telah dihipotesiskan bahwa “titik” hubungan antara Khalik dan makhluk adalah bion, berupa timbunan daya (energi) yang menjadi pembawa hayat. Dugaan ini telah diungkapkan oleh dokter Paryana Suryadipura dalam bukunya Manusia dengan Atomnys dalam Keadaan Sehat dan Sakit. Perkataan bion itu berasal dari kata bio-ion yang artinya ion yang hidup, yang dengan perkataan lain disebut bio-elektricitet. Dalam bahasa Sansekerta dinamakan prana, dan dalam bahasa Arab disebut ruh.
Semua fungsi hayati dilaksanakan oleh bion yang dilepaskan oleh badan rohani yang dikenal dengan jismul latifah, yang dalam istilah metafisika disebut tubuh bioplasmatik. Energi ruh itu mengalir ke dalam tubuh kasar melalui pusaran energi yang disebut cakra.Choa Koh Sui, dalam bukunya, The Ancient Science and Art of Pranic Healing, menjelaskan panjang lebar mengenai cakra ini; begitu pula Ric A. Weinman dalam bukunya, Your Hands Can Heal, Learn to Channel healing Energi. Dari kajian mereka, dapat disimpulkan, ada tujuh cakra mayor yang merupakan kompenen utama dari tubuh elektrik manusia, yaitu cakra dasar, cakra seks, cakra solar plexus, cakra jantung, cakra tenggorokan, cakra alis, dan cakra mahkota.
Cakra Dasar
Cara ini merupakan cakra kelangsungan hidup yang terletak di dasar tulang punggung. Cakra ini berfungsi mengatur keberadaan fisik dan naluri kelangsungan hidup, karena itu rasa takut mati muncul di sini. Cakra ini mempengaruhi kelenjar adrenal, ginjal, kandung kemih, dan semua organ yang berkaitan dengan rasa takut. Bila hidup selalu merasa aman dan terjamin maka cakra ini akan bercahaya terang. Akan tetapi, kalau cakra ini redup, maka akan timbul penyakit pada fisik, di antaranya kanker, leukimia, mudah alergi, vitalitasi rendah, lemah syahwat, anemia, dan gangguan psikologis.
Cakra Seks
Cakra ini tidak hanya bertugas membangkitkan gairah keasmaraan tetapi juga semua bentuk hubungan intim dan emosi antarpribadi. Cakra ini sangat berpengaruh pada ketenangan dan kedamaian perasaan yang bertempat di atas tulang kemaluan. Jika seseorang merasa terangsang secara seksual, banyak energi bergerak menuju dan memancar dari cakra ini. Cakra ini juga terlibat dalam sistem reproduksi. Jika terdapat hambatan di sini, cakra ini pada akhirnya akan mempengaruhi organ seksual, klenjar prostat, dan daerah panggul sekitarnya.
Cakra Solar Plexus
Cakra ini merupakan pusat keinginan dan kemauan pribadi, bertempat di daerah perut. Karena itu, stres mental, emosi dan semua permasalahan timbul karena desakan keinginan atau kemauan, seperti frustasi, marah, persaingan, pertahanan diri, cemas bahkan kebencian. Ketegangan yang diakibatkan oleh hal-hal tersebut dapat mempengaruhi lambung, hati, kandung empedu, terutama kelenjar pankreas. Maka kegagalan cakra ini dapat menimbulkan sakit lever, kencing manis, maag, dan macam-macam penyakit yang disebabkan oleh kadar asam urat tinggi.
Cakra Jantung
Cakra ini merupakan tempat cinta spiritual tanpa pamrih. Cinta asmara yang emosional meluap dari cakra kedua yang beresonansi dengan cinta spiritual. Bila cakra keempat ini terbuka, maka energinya akan beresonansi dengan cakra yang yang lebih tinggi, dan bila ada hambatan maka akan meluap rasa asing diri, rasa benci diri akibat trauma emosional yang dalam. Sebaliknya cakra ini mempengaruhi sistem kekebalan tubuh, dengan cara melepaskan emosional itu. Terhadap badan fisik cakra ini mempengaruhi kelenjar thymus yang terletak dekat cakra ini, yaitu di sekitar jantung. Cakra inilah yang pertama-tama berhubungan dengan aspek spiritual. Kegagalan cakra ini dapat menimbulkan sakit jantung yang berhubungan dengan peredaran darah.
Cakra Tenggorokan
Cakra ini terletak di dasar tenggorokan yang mengendalikan kreatifitas, komunikasi, dan kemampuan waskita. Banyak para medium yang dapat menerima berita kegaiban lalu menginformasikan melalui cakra ini. Cakra ini mempengaruhi kelenjar tiroid dana paratiroid yang memproduksi hormon tiroksin yang penting untuk pertumbuhan, serta melancarkan kerja susunan saraf; juga hormon parathormon yang berfungsi merangsang pengeluaran kalsium dari dalam tulang. Kurang berfungsinya cakra ini, dapat menimbulkan penyakit gondok, suara serak, dan sesak napas (asma), yaitu penyakit yang menghambat kemunikasi/informasi.
Cakra Alis
Cakra yang mengendalikan pewaskitaan dan persepsi psikis ini merupakan pintu penerima getaran dari alam gaib. Karena itu, cakra ini dianggap sebagai “mata batin” atau “mata ketiga”. Ada juga yang memberinya istilah “mata indera keenam”. Terhadap tubuh fisik, cakra ini mempengaruhi kelenjar pituitary dan pineal. Kurang berfungsinya cakra ini, dapat menimbulkan penyakit kanker, alergi, dan sebagian penyakit yang berhubungan dengan kelenjar endokrin.
Cakra Mahkota
Cakra ini terletak di atas puncak kepala. Bila cakra ini penuh energi, pusarannya akan membesar melingkari kepala seperti mahkota. Para ahli metafisikan menganggap cakra ini merupakan yang tertinggi; energinya dapat menangkap getaran intelegenci universal. Dengan cakra inilah para nabi menerima wahyu. Energi cakra ini dapat dipakai untuk penyembuhan telepatik. Kekurangan energi pada cakra ini dapat menyebabkan sakit gangguan jiwa.
Demikianlah fungsi cakra- cakra tersebut yang erat hubungannya dengan jasmani dan ruhani. Dengan analisis ini, dapat terjawab pertanyaan tentang mengapa manusia itu sakit.[6]
Dalam perspektif reiki sufistik, cakra-cakra merupakan pintu gerbang spirtual yang harus dibersihkan dan diselaraskan agar mampu menatik energi ilahi untuk melakukan evolusi spiritual. Setap cakra memiliki potensi-potensi psikospirtual yang jika berkembang maka akan bermanfaat dalam peningkatan kesehatan tubuh fisik, ketenagan (muthmainnah) tubuh psikis, keseimbangan mental (tawazun) dan kesempurnaan spiritual (insan kamil). Praktik reiki sufistik merupakan salah satu praktik spirtual menarik energi ilahi untuk pembersihan dan penylelarasan cakra-cakra sebagai basis bagi peninbgkatan kualitas manusia, baik sebagai khalifah fil ardl yang harus memiliki ketangguhan mengelola alam maupun sebagai ‘abd (hamba) yang harus menyembah-Nya dengan kesungguhan.
Cakra-cakra merupakan pusat aktivitas manusia. Masing-masing cakra memilki kemampuan psikis yang luar biasa. Sebagai pusat aktivitas manusia, cakra akan sangat menentukan pola-pola dan bentuk-bentuk aktivitas manusia. Cakra yang bersih akan mendorong keyakinan yang lurus (al-aqidah al-hanafiyah), Syariah yang benar (as-Syariah al-Shahihah) dan moralitas luhur (al-akhlaqul karimah). Begitu juga sebaliknya, cakra yang kotor akan menyebabkan manusia berperangai buruk (al-akhlaqul madzmumah). Cakra yang bersih akan senantiasa berhubungan dengan cahaya, sebaliknya kegelapan akan menjadi karakter manusia yang cakra-cakranya kotor, sehingga terjatuh dalam kehidupan binatang ternak (nafsu syahwatiyyah), binatang buas (nafsu ammarah) atau bahkan kehidupan setan (nafsu syaithaniyyah).
Di dalam reiki sufistik, istilah cakra biasa disebut dengan lathifah (sesuatu yang lembut), karena memang cakra bersifat halus (bukan organ tubuh fisik). Lathifah (organ-organ lembut) sifatnya halus dan tidak empiris.[7]
Di dalam tubuh manusia terdapat cakra mayor, cakra minir dan cakra mini yang secara keseluruhan terdapat 365 cakra. Ada juga yang menyebutkan jumlah cakra secera keseluruhan termasuk cakra-cakra yang mini sebanyak 88.000. Tetapi cakra-cakra yang efektif mengendalikan dan memberi energi kepada organ vital dan organ mayor tubuh manusia hanya 7 (tujuh) cakra seperti yang telah disebut diatas, yang sering disebut sebagai cakra mayor.[8]
Sedangkan, sehat dan sakit dilihat dari sudut pandang fisika dikatakan bahwa di Matahari, setiap terjadi letupan yang berakibat bertambahnya tekanan elektronis di alam. Bila tekanan itu mengenai bumi, akan timbul kegoncangan elektrostatika, sehingga lapangan magnetik teganggu, telegram diterima dengan tidak jelas, penrimaan radio terganggu, udara bergesek menjadi petir, udara naik dan dingin lalu jadi hujan, badai bertiup maka laut bergelombang , dab banyak lagi akibat lain yang tidak disebutkan. Ini semua disebabkan oleh tekanan elektron. Badai elektron yang melanggar dunia sebagai akibat letupan di matahari dinamakan catalysmen. Badai elektron itu disebut cylon. Tekanan elektron ini tidak hayan mempengaruhi alam, benda, tetapi juga jiwa menusia, karena di dalam diri manusia juga ada elektron. Hal itu dapat mengakibatkan zat colloid –yang merupakan lendir itu—menjadi beku, sehingga kuman penyakit akan berkembang biak di atasnya.
Memang setiap orang membawa berjuta bakteri dan virus berbagai jenis dinatas kulitnya, namun tidak semua jadi sakit karenanya. Sebab, datangnya penyakit itu sering terjadi akibat ketidakseimbangan antara elektron dari luar diri. Seperti, atmosfer yang lembab akan menjadi pengantar listrik yang dapat mengambil banyak elektron dari permukaan kulit, yang akan menimbulkan kegoncangan pada keseimbangan daya listrik pada kulit/organ tubuh, terutama otot. Akibatnya, timbul penyakit reumatik. Melalui kaki basah, seseorang dapat kehilangan elektron sehingga menimbulkan penyakit, misalnya penyakit nephritis dan cytitis.Bagaimana mengupayakan agar energi yang mengalir di dalam saraf yang halus itu berjalan dengan ukuran tekanan yang normal? Bagaimana jalan yang telah ditemukan tinggal memilih mana yang lebih tepat untuk diri kita maisng-masing.[9]
B. Sudut Pandang Biologi
Kita sudah mengetahui bahkan akal pikiran dan emosi menusia selalu berubah-ubah dari hari ke hari, dari jam ke jam, malah dari menit ke menit. Hari ini seseorang merasa berduka yang dalam, tapi esoknya ia sudah senang, gembira, tapi satu jam berikutnya ia sudah optimis malah ada yang patah semangat. Apa penyebab semua perubahan ini?
Tidak lain karena terjadi perubahan hormon yang merupakan unsur dasar dalam harmonisasi kesadaran dan perasaan hati manusia. Penyakit gila[10] –sering dianggap akibat kelainan jiwa atau gangguan saraf—disebabkan oleh ketidakseimbangan hormon di dalam tubuh. Kadangb kekurangan atau kelebihan hormon, misalnya kekuarangan adrenalin dan kelebihan noradrenalin, kekuarang hormon yang diproduksi kelenjar seks, mungkin pula kelenjar hypopise atau epifise yang gagal, bisa terjadi perubahan tingkah laku atau kelainan fisik. Ada jenis hormon lain yang dikeluarkan oleh adrenal –disebut kortizon— yang berfungsi mempersiapkan tubuh untuk melawan kelesuan. Kalau hormon ini tidak diproduksi, seseorang akan merasa tererangkap dalam kelesuan yang berkepanjangan dan tidak dapat diatasinya. Kalau diusut, mengapa kelenjar ini bisa gagal? Tidak lain karena kelenjar ini terlalu letih bekerja. Misalnya, jika tubuh kita mendapat tekanan dalam jangka waktu yang lama, maka kelenjar adrenal mendapat tugas yang berat memproduksi kebutuhan tubuh yang mendesak ini; lama kelamaan ia menjadi cape dan gagal. Apabila kelenjar ini gagal melaksanakan tugasnya, hidup menusia akan terancam bahaya, yang berarti malapetaka akan mengintai.
Kalau kita usut lagi, siapa pula ang megontrol pekerjaan kelenjar ini? Yang mengntrol ini adalah sifat keturunan yang terdapat di dalam gen yang ada dalam sel. Sel sebagai satuan hidup dasar makhluk hidup terdiri atas sitoplasma yang di tengah-tengahnya terdapat sel initi. Inti sel ini mengandung suatu jaringan dan pada jaringan inilah terdapat “gen” (pembawa sifat keturunan). Gen-gen terdapat dalam persenyawaan kimia yang stabil: disiniulah tersimpannya “rahasia kehidupan yang penuh misteri”. Persenyawaan kimia gen ini merupakan disket yang didalamnya telah terpogram sifat bawaan manusia, apakah ia pengecut, pemberani, berhati mulia, berandalan, kuat atau lemah. Persenyawaan kimia ini dinamai Deoxrybo Nucleat Acid (DNA).
Sifat berani ditimbulkan oleh kadar hormon noradrenalin yang tinggi dengan sedikit adrenalin; sifat penakut adalah kebalikannya. Tinggi rendahnya kadar hormon ini bergantung pada perintah yang dikeluarkan oleh sifat keturuan dan jenis DNA yang terdapat dalam inti sel. Molekul-molekul DNA ini tersusun dari gula, asam fosfor, dan empat macam jenis basa: adenin, sitosin, guanin dan tiamin. Kempatnyua tersususn dalam dua buah pita berbentuk spiral. Pita-pita itu sendiri terbuat dari gula dan fosfor lalu basa tadi terlekat di sana. Jadi, bagian terkecil dalam tubuh kita adalah molekul DNA yang menghasilkan eplika dirinya. DNA memulai prosesnya dengan membuka resleting tubuhnya.
Semua jaringan hidup tersebut terbuat dari asam amino yang membentuk protein. Protein merupakan kombinasi dari kira-kira dua puluh asam amino; perbedaan-perbedaan jenis protein itu hanyalah perupakan perbedaan kombinasi yang diuntai dalam susunan tertentu. DNA-lah yang menentukan susunan itu.
Jadi, cakra-caka tertentu merupakan distributor-distributor tubuh rohani yang bertugas mendistribusikan energi untuk kelenjar tertentu di tubuh fisik. Kelenjar bekerja untuk memproduksi hormon di bawah kontrol gen. Di dalam gen terdapat persenyawaan kimia yang stabil yang dinamai DNA. Jadi hidup kita secara keseluruhan adalah hasil dari proses kimia belaka.[11]
Para Penguasa di Kerajaan Tubuh
Kalau dalam tubuh manusia terjadi keadaan yang tidak normal –-seperti cebol—pertumbuhan melebihi normal, atau seorang perempuan tiba-tiba menjadi gemuk, cepat menjadi tua, gerak-geriknya yang nervous, dagu seorang perempuan ditumbuhi jenggot atau tanda kelaki-lakian, itu menunjukkan adanya ketidaknormalan proses kimia tubuh atau produksi hormon tertentu yang tidak normal karena kegagalan kelenjar.
Akhir-akhir ini, para ahli telah berhasil menemukan berjenis-jenis kelenjar hormon yang terdapat dalam tubuh manusia. Kelenjar-kelenjar hormon ini memproduksi hormon yaitu zat khusus yang merupakan persenyawaan kimia hasil produksi kelenjar tubuh yang berfungsi mengatur berbagai proses kimia jaringan organ tubuh. Di antara sekian banyak kelenjar di dalam tubuh manusia, ada tujuh yang utama, yaitu sebagai berikut:

1.Kelenjar pituitary, disebut juga kelenjar hipofise atau kelenjar lendir. Fungsi kelenjar ini adalah: mengatur kegiatan kelenjar tiroid; mengatur sekresi dari kelenjar adrenal; mengatur sekresi kelenjar pembiakan; mengatur pertumbuhan tubuh pada umumnya; mengatur jumlah air yang dibunagn ginjal; merangsang produksi susu ibu, dan merangsang kontraksi rahim pada waktu melahirkan.
2.Kelenjar tiroid, berfungsi sebagai berikut: Mengatur kecepatan dalam mengubah makanan jadi panas dan tenaga di dalam sel; Membantu pertumbuhan agar normal dan melancarkan kerja susunan saraf. Kelenjar ini terletak di bagian leher;
3.Kelenjar paratiroid, yang berfungsi merangsang pengeluaran kalsium dari dalam tulang dan mengatur kadar kalsium di dalam darah. Kelenjar ini juga terletak di bagian leher;
4.Kelenjar adrenal, berfungsi: memperkuat hasil tanggapan susunan saraf terhadap perangsangan takut , marah atau gembira; Melawan rasa tertekan dan kegoncangan jiwa; Mengatu kesimbangan garam dan air dalam darah. Kelenjar ini terdapat di atas anak ginjal yang peranannya sebagai komandan pada komando strategi di dalam kerajaan tubuh. Karena itu, hubungannya sangat erat dengan panglima tertinggi kelenjar pituitary.
5.Kelenjar pankreas, berfungsi: mengatur penggunaan glukosa dalam tubuh; menghasilkan enzim-enzim pencernaan. Kelenjar ini terdapat pada bagian kanan belakang lambung.
6.Kelenjar limfoid (getah bening), berfungsi dalam: Menghasilkan antibodi (protein pembunuh) yang menolong mengatasi kuman, jamur, dan parasit lain agar tidak menimbulkan infeksi; Mempercepat proses penyembuhan.Kelenjar ini tersebar di berbagai bagian tubuh yang merupakan angkatan bersenjata yang senantiasa siap siaga dalam mempertahankan kondisi tubuh agar tetap prima.
7.Kelenjar kelamin (seks), berfungsi dalam: Mengatur perkembangan masa akil baligh; Menghentikan perkembangan tulang yang memanjang; Mempersiapkan rahim untuk kehamilan; Membentuk sel-sel kelamin.

Semua kelenjar tersebut di atas dapat bertugas menjalankan fungsinya masing-masing dengan cara mengeluarkan hormon-hormon. Misalnya ketika anda dalam keadaan takut, yang menstabilkan perasaan takut oranda itu adalah kelenjar andrenal. Kelenjar ini mengeluarkan hormon andrenalin sehingga anda dapat berlari kencang untuk menghindari kejaran anjing.
Sehingga, dalam pandangan biologi, sehat atau sakitnya manusia disebabkan oleh harmonis atau tidaknya hormon-hormon yang dipengaruhi oleh fungsi kelenjar-kelenjar. Oleh karena itu, untuk mengantisipasinya, hendaklah menjaga kesehatan sebelum sakit, memelihara hidup sebelum kematian datang.[12]

C. Sudut Pandang Psikologi

Sejak lama para ahli psikologi menduga bahwa di dalam jiwa manusia itu terdapat perasaan, kemauan, dan akal pikiran. Heymans mengistilahkan dengan emosionalitas, aktifitas dan fungsi skunder. Emosionalitas bersumber dari hati, sedangkan aktifitas bersumber dari hawa nafsu. Keduanya merupakan inti jiwa. Adapun akal merupakan kulit jiwa; karena itu, ia disebut fungsi skunder. Muatan kekuatan ketiga macam potensi kejiwaan ini tidak sama.
Karena itulah, menurut Heymans, ada delapan sifat dasar manusia: Tipe amorf, adalah orang yang kurang daya pikirannya, picik, pembeo, dan kaku dalam pergaulan. Tipe sanguinis, adalah orang yang bersikap kekanak-kanakan namun cekatan dan berani (karena kemauannya positif). Tipe flegmatis, adalah orang yang bersikap tenang, dapat menguasai emosi, bijaksana serta optimis (karena kemauan dan akalnya posisitf). Tipe apatis, adalah tipe manusia robot, sukar bergaul dan suka menyendiri tetapi pikirannya tajam (hanya akalnya yang aktif). Tipe nerves, adalah orang yang sangat dipengaruhi emosi, jiwanya sukar diduga, berpikir dangkal dan tidak sabar (hanya emosi yang berkuasa). Tipe koleris, adalah orang yang punya aktivitas tinggi, lincah, sangat perasa tetapi agak tumpul pikirannya (perasaan dan kemauan positif). Tipe gepassioner, adalah orang yang stabil antara emosi, kemauan, dan akalnya, berwatak garang, pemberani, perasa, pengkritik, tidak sabaran, suka curiga tetapi tekun dan ulet dalam bekerja. Tipe sintimental, adalah orang yang perayu, rapuh, mudah tersinggung, pencinta alam dan seni tetapi kurang ulet (karena kemauannya kurang kuat).
Dari kedelapan tipe ini, kita dapat melihat tipe 5, nerves adalah orang yang sangat dipengaruhi oleh emosi yang jiwanya sukar diduga, berpikiran dangkal. Orang seperti inilah yang mudah terkena goncangan jiwa. Mereka selalu mendengarkan suara hati tanpa pertimbangan akal sehingga kesadarannya dapat dikalahkan oleh kekuatan bawah sadarnya.[13]Dalam kehidupan modern ini sering muncul tingkah laku yang tidak wajar, seperti tindakan kriminal, manipulasi, korupsi, kejahatan seksual dan perbuatan penyimpangan sosial lainnya diakibatkan oleh persaingan hidup yang sedemikian ketat. Hal ini menimbulkan banyak kegelisahan, keresahan, ketakutan, dan ketegangan batin pada manusia. Akibatnya, tidak sedikit orang yang menderita ketegangan syaraf dan mengalami stres[14], yang meledak menjadi simpton penyakit mental. Jadi ketegangan serta ketakutan yang dialami manusia menjadi persemaian yang subur sekali bagi timbulnya bermacam-macam penyakit mental.
Apabila jiwa terguncang, pikiran menjadi tidak setabil, akibatnya mempengaruhi fisik manusia dan dapat menimbulkan penyakit yang disebut psikosomatik. Penderita psikosomatik bukan hanya membutuhkan terapi medis atau terapi fisik semata, tetapi juga membutuhkan terapi sufistik dengan salah satu metodenya, yaitu tobat.Uraian ini bertolak dari pemikiran bahwa sumber penyakit psikosomatik dapat disebabkan oleh konflik-konflik psikis atau dapat juga disebabkan oleh gangguan yang sifatnya organis.
Untuk memahami penyebabnya itu, kita harus melihat semua aspek yang mempengaruhi timbulnya gangguan psikosomatik. Diantaranya adalah aspek bio-psikososio dan spiritual. Apabila penyebabnya berasal dari aspek spiritual, seperti perasaan dosa, cara untuk menghilangkan keresahan jiwa tersebut adalah dengan bertobat, sebab tobat dapat membersihkan dan menjadikan terapi bagi jiwa yang sakit.[15] Karena memang kesehatan jasmani sangat bisa dipengaruhi oleh kesehatan mental. Untuk mengetahui lebih jauh terhadap hubungan antara kesehatan jasmani dengan mental, kita harus terlebih dahulu mengerti apa itu kesehatan mental. Kesehatan mental (mental hygiene) adalah ilmu yang meliputi sistem tentang prinsip-prinsip, peraturan-peraturan serta prosedur-prosedur untuk mempertinggi kesehatan ruhani. Orang yang sehat mentalnya ialah orang yang dalam ruhani atau dalam hatinya selalu merasa tenang, aman, dan tenteram.
Menurut H. C. Witherington, permasalahan kesehatan mental menyengkut pengetahuan serta prinsip-prinsip yang terdapat dalam lapangan psikologi, kedokteran, psikitari, biologi, sosiologi dan agama.[16] Dalam ilmu kedokteran dikenal istilah psikosomatik (kejiwabanan). Dimaksudkan dengan istilah tersebut adalah untuk menjelaskan bahwa terdapat hubungan yang erat antara jiwa dan badan. Jika jiwa berada dalam kondisi yang kurang normal seperti susah, cemas, gelisah, dan sebagainya, maka badan turut menderita.[17] Dalam sebuah ungkapan hadits Nabi dinyatakan, bahwa kesehatan mental yang dukung oleh kualitas kesehatan tubuh kita akan meningkatkan kesalehan ritual dan sosial: Akal (mental) yang sehat itu tergantung dari tubuh yang sehat (Al-Hadits) Beberapa temuan di bidang kedokteran dijumpai sejumlah kasus yang membuktikan adanya hubungan tersebut, jiwa (psyche) dan badan (soma). Orang yang merasa takut, langsung kehilangan nafsu makan, atau buang-buang air. Atau dalam keadaan kesal dan jengkel, perut seseorang terasa menjadi kembung. Dan istilah “makan hati berulam jantung” merupakan cerminan tentang adanya hubungan antara jiwa dan badan sebagai hubungan timbal balik, jiwa sehat badan segar dan badan sehat jiwa normal.[18]

D. Sudut Pandang Tasawuf

Sehat dan sakit dalam pandangan tasawuf memiliki titik singgung dengan pandangan menurut psikologi karena terkait dengan kejiwaan (mental). Namun dalam pandangan tasawuf, kejiwaan manusia memiliki cakupan yang lebih luas. Dalam pandangan tasawuf, jiwa manusia mencakup unsur-unsur roh, akal, nafs, dan qalb. Dalam pandangan tasawuf, roh itu bagaikan lampu, sedangkan kehidupan laksana cahaya. Gerakan roh dan penyebarannya ke seluruh tubuh bagaikan gerakan lampu di dalam rumah. Inilah yang dimaksudkan dengan “roh” oleh para dokter. Akan tetapi, para dokter yang ingin membimbing roh menuju wilayah suci tidak menerima makna ini. Arti kedua dari makna roh adalah latifatul mudrikah atau sebuah organ pengetahuan. Inilah yang disebut Alquran dalam QS: Al-Isra/17: 85) yang artinya: “katakanlah bahwa roh itu urusan Tuhan”.
Karena terkait dengan aspek kejiwaan (roh, akal, nafs dan qalb), sehat dan sakit dalam pandangan tasawuf kita bisa kaitkan antara kesehatan jiwa[19] dengan aspek agama. Dr. Muhammad Mahmud Abdul Qadir telah membahas hubungan antara agama dan kesehatan mental melalui pendekatan teori biokimia. Menurutnya, di dalam tubuh manusia terdapat sembilan jenis kelenjar hormon yang memproduksi persenyawaan-persenyawaan kimia yang mempunyai pengaruh biokimia tertentu, disalurkan lewat pembuluh darah dan selanjutnya memberi pengaruh kepada eksistensi dan berbagai kegiatan tubuh. Persenyawa-persenyawaan itu disebut hormon.
Lebih jauh Muhammad Mahmud Abdul Qadir berkesimpulan bahwa segala bentuk gejala emosi seperti bahagian, rasa dendam, rasa marah, takut, berani, pengecut yang ada dalam diri manusia adalah akibat dari pengaruh persenyawaan-persenyawaan kimia hormon, di samping persenyawaan lainnya. Tetapi dalam kenyataannya, kehidupan akal dan emosi manusia senantiasa berubah dari waktu ke waktu. Karena itu, selalu terjadi perubahan-perubahan kecil produksi hormon-hormon yang merupakan unsur dasar dari keharmonisan kesadaran dan rasa hati manusia, tepatnya perasaannya.
Tetapi, jika terjadi perubahan yang terlampau lama, seperti panik, takut, dan sedih yang berlangsung lama, akan timbul perubahan-perubahan kimia lain yang akan mengakibatkan penyakit syaraf yang bersifat kejiwaan. Hubungan penderita dengan dunia luar terputus, akalnya tertutupi oleh waham dan khayal yang membawanya jauh dari kenyataan hidup normal. Penderitaan selalu hidup dalam keadaan cemas dan murung, kebahagiaan hilang, penuh keraguan, takut, rasa berdosa, dengki, dan rasa bersalah.Timbulnya penyakit emosi seperti itu akibat dari kegoncangan dan hilangnya keseimbangan kimia tubuh seseorang.
Jika seseorang berada dalam keadaan normal, seimbang hormon dan kimiawinya, maka ia akan selalu berada dalam keadaan aman. Perubahan yang terjadi dalam kejiawaan itu disebut oleh Abdul Qadir sebagai spektrum hidup. Dan pergeseran arah ke kiri atau ke kanan dari pusat bila terjadi perubahan dalam proses pemikiran, akan terjadi perubahan kimia dan biologi tubuh. Dan besar kecilnya perubahan itu tergantung dari kemampuan manusia untuk menanggapi pengaruh itu. Kalau terjadi keseimbangan, maka akan kembali menjadi normal. Adapun terjhadinya pergeseran dari kondisi normal ke daerah yang berbahaya itu, menurut Abdul Qadir sangat tergantung dari derajat keimanan yang tersimpan di dalam diri manusia, disamping faktor susunan tubuh serta dalam atau dangkalnya rasa dan kesadaran manusia itu. (Muhammad Mahmud Abdul al-Qadir, 1979).
Penemuan Muhammad Mahmud Abdul Qadir, seorang ulama dan ahli biokimia ini, setidak-tidaknya memberi bukti akan adanya hubungan antara keyakinan agama dengan kesehatan jiwa.
Barangkali hubungan antara kejiwaan dan agama dalam kaitannya dengan hubungan antara agama sebagai keyakinan dan kesehatan jiwa terletak pada sikap penyerahan diri seseorang terhadap suatau kekuasaan Yang Maha Tinggi. Sikap pasrah yang serupa itu diduga akan memberi sikap optimistis pada diri seseorang sehingga muncul perasaan positif seperti bahagian, rasa senang, puas, sukses, merasa dicintai atau rasa aman. Sikap emosi yang demikian merupakan bagian dari kebutuhan asasi manusia sebagai makhluk yang ber-Tuhan. Maka, dalam kondisi yang serupa itu, manusia berada dalam keadaan tenang dan nromal, yang oleh Abdul Qadir disebutnya berada dalam keseimbangan persenyawaan kimia dan hormon tubuh. Dengan kata lain, kondisi yang demikian menjadi manusia pada kondisi kodratinya, sesuai dengan fitrah kejadiannya, sehat jasmani dan ruhani.
Agaknya cukup logis kalau setiap ajaran agama mewajibkan penganutnya untuk melaksanakan ajarannya secara rutin. Bentuk dan pelaksanaan ibadah agama, paling tidak akan ikut berpengaruh dalam menanamkan rasa sukses sebagai pengabdi Tuhan yang setia. Tindak ibadah setidak-tidaknya akan memberi rasa bahwa hidup menjadi lebih bermakna. Dan manusia sebagai makhluk yang memiliki kesatuan jasmani dan ruhani secara tak terpisahkan memerlukan perlakukan yang dapat memuaskan keduanya.[20]
Dari aspek pembinaan manusia agar memiliki mental yang utuh disinilah peran agama menemui urgensinya atas sehat tidaknya mental seseorang. Karena agama adalah sumber dari segala sumber nilai dan norma yang memberi petunjuk, mengilhami dan mengikat masyarakat yang bermoral. Salah satu cara untuk menemukan fungsi agama adalah jalan tasawuf yang memiliki tujuan agar bagaimana manusia dapat mengerti makna hidup, mengerti akan posisi diri sebagai hamba dan dekat dengan Tuhannya yang Maha Kuasa. Sehingga penyeimbangan antara kebutuhan jasmani yang kasar dan kebutuhan ruhani (kejiwaan) yang sangat halus dapat dipenuhi dengan baik. Dengan jalan spirit tasawuf, suasana kejiwaan manusia dapat dikendalikan dengan baik setelah melalui proses-proses riyadhah (olah spirit), sehingga dapat terhindar dari sakit kejiwaan yang berakibat langsung terhadap sakitnya jasmani. Dan yang perlu diingat adalah bahwa spiritualitas (kedalaman ruhaniah) manusia sangat berhubungan dengan hati (qalb) karena hati merupakan inti dari segala aktifitas jiwa. Jika hati seseorang sakit, menjadi sakitlah aktivitas kerohaniahannya. Dan hati adalah obyek dari ajaran tasawuf.
Hati yang sakit berati mentalnya pun sakit. Mental yang sakit ini akan mempengaruhi seluruh aktifitas manusia. Oleh karena itu, banyak ahli mencoba merumuskan pendekatan-pendekatan dalam upaya menemukan pengobatan mental manusia yang sedang terkena penyakit. Disinilah kemudian berkembang psikoterapi.
Jadi, dalam pandangan tasawuf, sehat dan sakit merupakan gambaran kejiwaan seseorang. Jiwa yang sakit akan menampakkan gejala fisiknya yang lesu, lemah, tanpa semangat yang dapat diatasi dengan pendekatan tasawuf. Sebaliknya, jiwa yang sehat akan terlihat kondisi fisiknya yang energik, bertenaga dan bebas dari penyakit

DAFTAR PUSTAKA
Al-Ahmad, Abdul Aziz bin Abdullah, Kesehatan Jiwa: Kajian Korelatif pemikinan Ivbnu Qayyin dan Psikologi Modern, (Pustaka Azzam: Jakarta), Januari, 2006
El-Quussiy, Abdul Aziz, Prof. Dr., Pokok-pokok Kesehatan Jiwa/Mental, (Bulan Bintang: Jakarta), 1974
Dadang Hawari, Prof. Dr., Psikiater, Al-Quran: Ilmu Kedokteran Jiwa dan Kesehatan Jiwa, (PT Dana Bhakti Prima Yasa, Yogyakarta), Juni, 2004
Darmawan, Rahmat, Kundalini Dharnayoga (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama), 2004
H. Jalaluddin, Prof., Dr., Psikologi Agama: Memahami Perilaku Keagamaan dengan Mengaplikasikan Prinsip-prinsip Psikologi, (PT. Raja Grafindo Persada: Jakarta), Edisi Revisi, Cetakan ke-9, 2005
Judith Swarth, MS, RD, Stres dan Nutrisi (Bumi Aksara: Jakarta), Juli, 2004, Cetakan ke-3.
Moelyono dan Latipun, Kesehatan Mental, Konsep dan Penerapan, (UMM: Malang), 2001
M. Sholihin, Dr., M. Ag. Terapi Sufistik, Penyembuhan Penyakit Kejiwaan Prespektif Tasawuf, (Pustaka Setia: Bandung), Nop., 2004
Nakamura, Kojiro, Metode Zikir dan Doa Al-Ghazali, Edisi Terj., Uzair Fauzan (Bandung: Mizan), 2004
Salaby, Mas Rahim, Mengatasi Kegoncangan Jiwa Perspektif Al-Quran dan Sains, (Rosda Karya: Bandung), Mei, 2001
________________________________________
[2] Kesempurnaan fisik merupakan gambaran kesehatan jasmani yang diartikan sebagai keserasian yang sempurna antara bermacam-macam fungsi jasmani, disertai dengan kemampuan untuk menghadapi kesukaran-kesukaran yang biasa, yang terdapat dalam lingkungan , disamping secara positif merasa gesit, kuat dan bersemangat. Lihat Prof. Dr. Abdul Aziz el-Qussiy, Pokok-pokok Kesehatan Jiwa/Mental, (Bulan Bintang: Jakarta), 1974, hal. 12
[3] Moelyono dan Latipun, Kesehatan Mental, Konsep dan Penerapan, (UMM: Malang), 2001, hal. 3-4.
[4] Prof. Dr. Dadang Hawari, Psikiater, Al-Quran: Ilmu Kedokteran Jiwa dan Kesehatan Jiwa, (PT Dana Bhakti Prima Yasa, Yogyakarta), Juni, 2004, hal. 33-34
[5] Op. Cit, hal 5
[6] Mas Rahim Salaby, Mengatasi Kegoncangan Jiwa Perspektif Al-Quran dan Sains, (Rosda Karya: Bandung), Mei, 2001, hal. 3-8
[7] Kojiro Nakamura, Metode Zikir dan Doa Al-Ghazali, Edisi Terj., Uzair Fauzan (Bandung: Mizan), 2004, hal, 63
[8] Uraian lebih lengkap baca juga Rahmat Darmawan, Kundalini Dharnayoga (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama), 2004, hal. 17
[9] Ibid, hal. 9
[10]A. Scott (1961) melakukan penelitian secara mendalam tentang berbagai pengertian ganguan mental. Dia mengelompokkan terdapat enam macam kriteria untuk menentukan seseorang mengalami gangguan mental, yaitu: (a) orang yang memperoleh pengobatan psikiatris, (b) salah penyesuaian (maladjusment) sosial, (c) hasil diagnosis psikiatris, (d) ketidakbahagiaan subyektif, (e) adanya simpton-simpton psikologis secara objektif dan (f) kegagalan adaptasi secara positif. Lihat dalam Moelyono dan Latipun, Kesehatan Mental, Konsep dan Penerapan, (UMM: Malang), 2001, hal. 43.
[11] Op. Cit, hal. 9-12
[12] Ibid, hal. 16
[13] Mas Rahim Salaby, hal 17-19
[14] Stres adalah suatu kekuatan yang memaksa seseorang untuk berubah, bertumbuh, berjuang, beradaptasi atau mendapatkan keuntungan. Semua kejadian dalam kehidupan, bahkan yang bersifat positif juga menyebabkan stres. Tidak semua stres bersifat merusak karena rangsangan, tantangan dan perubahan akan memberikan keuntungan bagi kehidupan seseorang. Meskipun demikian, sebagian besar mendertita stres yang berlebihan dan kemampuan mengatasinya terbatas. Lihat dalam Judith Swarth, MS, RD, Stres dan Nutrisi (Bumi Aksara: Jakarta), Juli, 2004, Cetakan ke-3, hal. 1-2
[15] Dr. M. Sholihin, M. Ag. Terapi Sufistik, Penyembuhan Penyakit Kejiwaan Prespektif Tasauf, (Pustaka Setia: Bandung), Nop., 2004, hal. 123
[16] H. Jalaluddin, Prof., Dr., Psikologi Agama: Memahami Perilaku Keagamaan dengan Mengaplikasikan Prinsip-prinsip Psikologi, (PT. Raja Grafindo Persada: Jakarta), Edisi Revisi, Cetakan ke-9, 2005, hal. 156.
[17] Ibid
[18] Ibid, hal 157
[19] Ibnu Qayyim al-Jauziyah menekankan pentingnya kesehatan jiwa yang disistilahkan dengan “kebahagiaan jiwa” atau pola hidup yang baik dan sehat kaitannya dengan manusia. Menurutnya, istilah hidup yang sehat atau kebahagiaan jiwa sebagai ungkapan kesehatan jiwa. Baginya, wahyu adalah sumber kehidupan roh, sedangkan roh merupakan sumber kehidupan jasmani. Karenanya, barang siapa yang kehilangan roh, maka ia akan kehilangan kehidupan yang bermanfaat di dunia dan akhirat. Lihat Abdul Aziz bin Abdullah al-Ahmad, Kesehatan Jiwa: Kajian Korelatif pemikinan Ibnu Qayyim dan Psikologi Modern, (Pustaka Azzam: Jakarta), Januari, 2006, hal. 72
[20] Ibid.

PEMBENTUKAN KARAKTER MANUSIA MENURUT PARA AHLI

Dalam buku The Psychology of Moral Development (1927), Lawrence Kohlberg menyimpulkan terhadap hasil penelitian empiriknya terhadap perkembangan moralitas anak-anak dari berbagai latar belakang agama, yaitu Yahudi, Kristen, Hindu, Budha, dan Islam, bahwa agama dan institusi agama tidak memiliki pengaruh terhadap perkembangan moral seseorang. Teori yang dihasilkan dari penelitian Kohlberg dikenal dengan teori kognitif-developmental, yaitu 3 (tiga) tingkatan dan 6 (enam) tahapan perkembangan moral yang menegaskan bahwa pada intinya moralitas mewakilil seperangkat pertimbangan dan putusan rasional yang berlaku untuk setiap kebudayaan, yaitu prinsip kesejahteraan dan prinsip keadilan. Menurutnya, prinsip keadilan merupakan komponen pokok dalam proses perkembangan moral yang kemudian diterapkan dalam proses pendidikan moral.

Pendekatan Kohlberg yang sangat empirik tersebut tidak mempertimbangkan potensi suci (homo devinans and homo religious) yang dimiliki oleh setiap manusia yang sangat berpengaruh dalam proses perkembangan moral dan pembentukan perilaku. Kohlberg lebih menitikberatkan pada adanya interaksi sosial dan perkembangan kognitif seseorang. Ini dapat dimaklumi sebagai tradisi ilmiah Barat yang hanya menumpukan pada konsep empirisme, apa yang terlihat oleh analisis penelitian. Sementara potensi fitrah merupakan konsep keagamaan yang dianggap tidak empirik karena di dalamnya memuat keyakinan tentang struktur jiwa manusia, seperti ruh, akal, qalb dan nafs.

Sementara jauh sebelumnya, Sigmund Freud memiliki pendapat tentang potensi pada diri manusia yang sangat berpengaruh terhadap karakternya, yaitu: id, ego, dan superego (es, ich, ueberich). Menurutnya, perilaku manusia itu ditentukan oleh kekuatan irrasional yang tidak disadari dari dorongan biologis dan dorongan naluri psiko-seksual tertentu pada enam tahun pertama dalam kehidupannya. Berdasarkan teorinya tersebut, Freud menyimpulkan bahwa moralitas merupakan sebuah proses penyesuaian antara id, ego, dan superego. Titik lemah terbesar Freud dan para penganutnya bukan pada kesalahan teorinya, tetapi adalah over generalisasi dari teori tersebut, sehingga dalam kacamata Freud, manusia dapat dikatakan tidak berbeda dengan binatang, bahkan lebih menderita karena tidak sebebas binatang dalam melampiaskan nafsunya.

Di sisi lain, ada tokoh psikologi Barat, William James, berpendapat dalam bukunya The Varieties of Religious Experience (1982) yang menyebutkan bahwa manusia dikaruniai insting religius (naluri beragama), yaitu makhluk yang bertuhan dan beragama. James tidak menyetujui pandangan para pakar yang menganggap fenomena keagamaan ruhaniah manusia selalu berkaitan dengan –bahkan berawal dari-- kondisi psiko-fisiologis dan kesehatan seseorang. Ia menentang pandangan materialisme medis yang mereduksi agama dan pengalaman religius yang sifatnya spiritual, menjadi sesuatu yang bersumber dari gangguan syaraf. Menurut telaah James terhadap pengalaman spiritual-religius, bahwa pengalaman religius individu-individu berkaitan dengan integritas kepribadian yang baik. Penghayatan seperti itulah oleh William James disebut sebagai pengalaman religi atau keagamaan (the existence of great power). Artinya, adanya pengakuan terhadap kekuatan di luar diri yang serba Maha dapat dijadikan sebagai sumber nilai-nilai luhur abadi yang mengatur tata hidup manusia dan alam semesta raya ini.

Di dalam Islam, Al-Ghazali memiliki pandangan unik tentang pebentukan karakter manusia dalam kitab al-Maqshad al-Asna Syarh Asma Allah al-Husna (tt). Ia menyatakan bahwa sumber pembentukan karakter yang baik itu dapat dibangun melalui internalisasi nama-nama Allah (asma’ al-Husna) dalam perilaku seseorang. Artinya, untuk membangun karakter yang baik, sejauh kesanggupannya, manusia meniru-niru perangai dan sifat-sifat ketuhanan, seperti pengasih, penyayang, pengampun (pemaaf), dan sifat-sifat yang disukai Tuhan, sabar, jujur, takwa, zuhud, ikhlas beragama, dan sebagainya. Sumber kebaikan manusia terletak pada kebersihan rohaninya dan taqarub kepada Tuhan. Karena itu, Al-Ghazali tidak hanya mengupas kebersihan badan lahir tetapi juga kebersihan ruhani.

Dalam penjelasannya yang panjang lebar tentang sholat, puasa, dan haji, dapat disimpulkan bahwa bagi Al-Ghazali semua amal ibadah yang wajib itu merupakan pangkal dari segala jalan pembersihan ruhani. Akhlak yang dikembangkan Al-Ghazali bercorak teleologis (ada tujuannya), sebab ia menilai amal dengan mengacu kepada akibatnya. Corak etika ini mengajarkan, bahwa amal itu baik ketika menghasilkan pengaruh pada jiwa yang membuatnya menjurus ke tujuan itu. Mengenai tujuan pokok etika Al-Ghazali ditemui dalam semboyan tasawuf yang terkenal al-takhalluq bi-akhlaqillahi ‘ala thaqatil basyariyah, atau pada semboyan yang lain, al-shifatir-rahman ala thaqalil–basyatiyah.

Sementara dalam kitabnya, Tahdzib al-Akhlaq, Ibnu Makawaih menunjukkan fakta-fakta kompleksitas konseptual dalam pembentukan watak seseorang. Watak yang baik dapat dibentuk melalui tindakan yang benar, terorganisir dan sistematis. Menurutnya, jiwa adalah abadi dan substansi bebas yang mengendalikan tubuh. Jiwa adalah intisari berlawanan pada tubuh, sehingga tidak mati karena terlibat dalam satu gerakan lingkaran dan gerakan abadi, direplikasi oleh organisasi dari surga. Gerakan ini berlangsung dua arah, baik menuju alasan ke atas dan akal yang aktif atau terhadap masalah kebawah. Kebahagiaan timbul melalui gerakan keatas, kemalangan melalui gerakan dalam arah berlawanan. Menurutnya, kebaikan merupakan penyempurnaan dari aspek jiwa (yakni, alasan manusia) yang merupakan inti dari kemanusiaan dan membedakan dari bentuk keberadaan rendah.

Pendapat tersebut diperkuat oleh Muhammad Usman Najati dalam bukunya berjudul al-Quran wa Ilm an-Nafs (2005) bahwa dalam kepribadian manusia terkandung sifat-sifat hewan yang tercermin dalam berbagai kebutuhan fisik yang harus dipenuhi, dalam rangka menjaga diri dan keberlangsungan hidupnya. Selain itu, dalam kepribadiannya juga terkandung sifat-sifat malaikat yang tercermin dalam kerinduan ruhaninya untuk mengenal Tuhan, beriman kepadaNya, menyembah kepadaNya dan mensucikannNya.

Dengan demikian, dalam karakter penciptaan manusia terdapat kecenderungan untuk berbuat baik dan jahat; kecenderungan untuk menuruti hawa nafsu fisiknya dan tenggelam dalam menikmati kesenangan; dan kecenderungan untuk mencapai puncak keutamaan, ketakwaan, cita-cita luhur kemanusiaan, dan amal baik, serta ketenangan jiwa dan kebahagiaan spiritual yang diwujudkannya. Dalam pandangan Usman Najati, bahwa pola pembentukan kepribadian manusia tidak terlepas dari kedua potensi tersebut dan akan berkembang sesuai dengan proses kehidupannya. Namun, terdapat potensi fitrah yang sangat berperan, selain konsep sosial dalam proses pembentukan karakter seseorang.

Dari berbagai pendangan para ahli tersebut, dapat disimpulkan bahwa konsep pembentukan karakter manusia dapat dilihat dari banyak aspek. Menurut ilmuan Barat lebih memandang manusia dari kaca mata empiristik. Sedangkan dalam perspektif Islam, manusia dipahami sebagai makhluk yang memiliki potensi fitrah dimana terdapat daya-daya yang dapat memunculkan sebuah sikap dan perilaku yang tidak lepas dari stimulus dari luar. Artinya, Islam memandang, karakter manusia tidak murni karena faktor potensi, tetapi juga faktor lingkungan yang mempengaruhinya.

Mengetahui Tentang Ego Spiritual Orang Saleh

Oleh Thobib Al-Asyhar

Selepas dari pesantren pada tahun 1992, penulis melanjutkan kuliah di IAIN Jakarta. Sebagai alumni pesantren yang merasa memiliki bekal agama, penulis beranggapan bahwa hidup di Jakarta harus penuh hati-hati, karena gaya hidup orang Jakarta sudah sangat tercemar oleh budaya hedonisme.

Ketika pamit kepada sang kyai, penulis diwasiatkan agar tidak menanggalkan kopyah yang telah menjadi budaya di pesantren.

Untuk menjalankan amanat sang kyai, penulis berusaha untuk konsisten menggunakan kopyah dimanapun, seperti ketika sholat, kuliah, mengajar privat di suatu tempat, atau sekedar keluar membeli makanan di Warteg sekalipun. Sehingga ada orang yang menyindir penampilan penulis saat itu sebagai “makhluk gua”. Sedih? Pasti! Bukan hanya penampilan fisik saja, sikap sehari-hari penulis juga betul-betul dijaga dengan perilaku yang khas santri, tawadhu, menjaga pandangan, dan tentu saja menjalankan ritual secara konsisten, seperti sholat berjamaah, membaca al-Quran selepas maghrib, wirid panjang, dan hidup sederhana.

Namun, di balik “kesalehan” itu, dalam diri penulis seperti ada ego tinggi sebagai orang “saleh”. Melihat teman yang tidak sholat tepat waktu, misalnya, dalam hati terbesit celaan, wah ini orang males banget ya? Apalagi melihat tukang bangunan yang merokok pada bulan Ramadhan, penulis sering bergumam, sudahlah hidup di dunia susah, tidak sholat, nggak mau puasa, bagaimana nanti di akhirat? Bahkan dalam hati sering berkhayal menjadi seorang tentara dengan gagah berani menghajar tukang-tukang bangunan yang tidak menghargai bulan puasa itu. Jadi, sebagai orang yang memiliki ego “saleh” saat itu, penulis menganggap orang yang secara kasat mata melanggar aturan agama sebagai orang perilaku buruk yang kelak pasti masuk neraka. Ya Allah, ampunilah dosa-dosa atas semua prasangka masa laluku.

Setelah penulis kuliah di IAIN yang mengajarkan tentang banyak perspektif dalam beragama, kemudian penulis menyadari bahwa di awal tinggal di Jakarta, penulis mengalami “sentimen” kesalehan. Hal ini dapat dimaklum, karena pesantren mengajarkan agama dari sedikit sudut pandang, khususnya Islam ala mazhab syafii dan ritualisme sebagai simbol kesalehan itu sendiri. Dari kesadaran ini, kemudian penulis memaknai pesan kyai yang tidak boleh menanggalkan kopyah sebagai nilai kesalehan yang harus dipegang, dimanapun berada. Karena mengenakan kopyah di semua momen, disamping secara fisik cukup merepotkan, seperti ketika naik Metro Mini berpotensi kesenggol dan terinjak-injak penumpang lain, kopyah hanyalah budaya masyarakat pesantren yang tidak berkorelasi dengan kesalehan sejati.

Dari pengalaman hidup penulis tersebut, dapat diambil pelajaran bahwa orang yang merasa dirinya “saleh” cenderung memiliki ego sebagai orang baik yang merasa lebih unggul dibandingkan orang lain. Perasaan inilah yang penulis istilahkan sebagai ego-spiritual. Munculnya ego-spiritual disebabkan karena kuatnya perasaan saleh dalam diri seseorang, sehingga dia merasa pantas menilai orang lain sesuai persepsinya, meskipun dalam banyak kasus, dia melakukan pelanggaran-pelanggaran norma agama. Kejadian seperti ini sering menimpa orang yang menganggap kesalehan dari aspek lahir saja. Contoh yang paling sederhana adalah orang yang menggunakan kopyah putih, berbalut sorban, berbaju gamis, berjenggot, yang secara lahir saleh, namun di antara mereka justru ada yang melakukan kekerasan atas nama agama, seperti menyerang kafe, diskotik, atau kelompok orang yang dianggap menyimpang. Bahkan sebagian telah mewujud dalam aksi-aksi terorisme.

Demikian juga orang yang berpenampilan fisik seperti kyai, ustadz, baik cara berpakaian, tutur kata atau bahkan jidatnya terdapat titik hitam seperti bekas sujud dan sering memberikan dakwah dimana-mana, ternyata dalam kesehariannya tidak menunjukkan perilaku saleh sebagaimana seharusnya seorang kyai atau ustadz. Betapa banyak orang semacam ini yang ternyata masih mau mengambil harta yang bukan haknya, misalnya, seperti melakukan mark-up anggaran, atau bahkan melakukan korupsi dalam arti konvensional di lingkungan birokrasi.

Di lingkungan masyarakat, betapa banyak orang semacam ini yang melakukan kebohongan kepada istri dan anak-anaknya dengan berpoligami di bawah tangan. Meskipun boleh secara agama, namun jelas menyakiti keluarganya. Sementara di luaran sana mereka mengajarkan tentang kejujuran, kesantunan, dan nilai-nilai baik lainnya. Ini menunjukkan bahwa perasaan saleh dalam diri mereka telah menutup mata hati untuk menyadari kelemahan-kelemahan diri, sehingga merasa telah menjadi orang saleh. Padahal tanpa sadar, kesehariannya justru sering melakukan perbuatan yang bertentangan dengan nilai-nilai yang selalu diajarkan.

Ada ungkapan menarik dari seorang sufi yang berbunyi: zayyinu anfusakum bi al-ma’shiyyah, wala tuzayyinu anfusakum bi al-maghfirah (hiasilah dirimu dengan merasa banyak dosa/maksiat, dan janganlah menghiasi dirimu dengan merasa banyak ampunan). Ungkapan sufi ini begitu bijaknya, karena merasa dirinya saleh adalah penyakit batin yang luar biasa. Imam al-Ghazali menyebutnya sebagai penyakit ‘ujub yang dikategorikan sebagai sifat yang merusakkan amal baik (al-aushaf al-muhlikat). Sedangkan perasaan diri banyak dosa/maksiat, merupakan sifat tawadhu’ yang sangat dianjurkan oleh Islam.

Bukankah semua ritual agama bertujuan untuk melembutkan hati, dan membimbing kerendahan hati dengan menutupi amal baiknya dan selalu mengingat kebaikan orang lain. Intinya, orang beragama yang benar adalah ketika di dalam hatinya tidak ada ego-spiritual yang mengandung unsur kesombongan diri. Dalam sebuah ayat al-Quran disebutkan: janganlah kalian merasa beriman, sementara kalian sedang diuji. Dalam ayat lain disebutkan: Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kalian dengan sebenar-benar takwa, dan janganlah sekali-kali kalian mati kecuali dalam keadaan Islam (kepasrahan total).

Oleh karena itu, orang yang benar-benar beriman, apalagi yang seakan-akan beriman, perlu mengevaluasi sikap dan perilakunya, agar jalan spiritualnya tidak dihinggapi ego yang tinggi yang dapat merusakkan kesalehan sejati. Sekarang waktunya mengevaluasi diri, adakah ego-spiritual di dalam diri kita, meskipun hanya sebesar biji sawi (dzarrah)? Kalau bukan sekarang, kapan lagi? Wallahu a’lam.

Thobib Al-Asyhar, alumni pesantren Futuhiyyah Mranggen Demak, penulis buku-buku keislaman, kandidat doktor bidang Pengkajian Islam UIN Jakarta.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...