Friday, May 27, 2011

Bagaimana Mendapatkan Gelar Ph.D dengan bersumber Al-Quran?

Bagaimana Mendapatkan Gelar Ph.D dengan bersumber Al-Quran?[i]
Kita ketahui bersama bahwa gelar Ph.D. atau PhD atau bahasa latinnya philosophiæ doctor
adalah gelar bergengsi dan gelar tertinggi yang bisa di dapatkan oleh manusia yang diberikan manusia (tentunya selain gelar alm.). Yang artinya adalah Guru Filosofi atau filsuf atau juga sering dengan julukan Dr.Phil. Banyak universitas yang menambahkan program kelulusan master ini. Namun di Indonesia tentu merupakan suatu hal yang sulit di dapatkan.
Seorang kandidat untuk mendapatkan gelar Ph.D. haruslah mengajukan desertasi atau thesis yang merupakan bidang ilmu yang sangat dikuasainya dan kandidat tersebut harus membela thesisnya dihadapan para penguji. Para penguji biasanya memberikan beberapa pertanyaan, yang diharapkan jawaban yang didapat adalah sesuatu hal yang baru bagi ilmu pengetahuan dan dapat diterima dan dapat dipertanggung jawabkan. Dan pertanyaannya bukanlah sesuatu hal yang mudah bahkan sangat sulit untuk diketemukan jawabannya, butuh biaya minimal Rp 20 juta dan bereksperimen dari 3 – 5 tahun untuk mendapatkan jawabannya dari pertanyaan yang diajukan tersebut.[ii]
Terkadang dari kalangan akademisi muslim maupun non-muslim banyak yang ragu atau malu mengutip ayat ayat dari Al-Quran untuk mendukung penelitiannya. Jangankan untuk mendapat gelar Phd untuk gelar D3 S1 S2 tidak banyak yang berani mengutip penelitiannya lewat Al-Quran. Karena dianggap tendensius agama tertentu dibandingkan sebagai sumber ilmu pengetahuan. Namun pendapat ini telah digugurkan oleh penelitian yang dilakukan oleh DR.Zaid Kasim Mohammad Ghazzawi. Bahwa suatu keniscayaan mengutip Al-Quran sebagai bahan penelitian di bidang yang dikuasainya.
Pengalaman mendapatkan gelar Ph.D dengan bersumber inspirasi jawaban dari Al-Quran ini dialami oleh DR.Zaid Kasim Mohammad Ghazzawi[iii] dalam penelitiannya untuk mendapatkan gelar Ph.D di Britain. Beliau adalah ahli dalam bidang ilmu BioMekanik. Zaid Kasim menunjukkan betapa Allah SWT membimbingnya untuk mendapatkan jawabannya dalam Al-Quran dalam beberapa menit dibandingkan bertahun tahun lamanya mencari ilmunya dari orang lain.
Pertanyaannya untuk gelar Ph.D nya adalah :
“Apakah muatan dasar dari tulang manusia?”
Sepertinya pertanyaan ini adalah untuk menemukan bahan dasar dari tulang manusia semenjak tulang memiliki fungsi pergerakan dan fungsi psikologis (figur 1) dan sepertinya ada struktur ketika bahan dasar tulang itu terbentuk dari 3 muatan yaitu : Kompresi (tekanan), tensi (tegangan), atau bending (bengkokan) (figur 2). Jadi bahan muatan yang manakah dari ketiga bahan tersebut yang ada di tulang ketika terjadi pergerakan?


Munculnya pemikiran tentang struktur mesin tulang manusia dimulai sejak abad 1900 (lebih dari 100 tahun dari sekarang) dan belum ada pernyataan dan jawaban resmi hasil penelitian dari pertanyaan tersebut di atas. Padahal jawaban untuk pertanyaan tersebut di atas adalah sangat penting dalam kepentingan bidang system prosthetic, sehingga jika telah diketahui tulang manusia termuat bahan tertentu, maka bagian prosthetic tulang bisa didesain untuk mengoptimalkan muatan tulang tersebut sehingga bisa meningkatkan kekuatan tulang setelah dilakukan implant dan meminimalisir dari risiko kerusakan tulang.

Jawabannya telah ada di abad 14 yang lalu (lebih dari 500 tahun dari sekarang) dari Al-Quran :
Allah SWT Yang Maha Pengampun memberitahukan beliau tentang jawaban dari pertanyaan yang telah eksis 100 tahun yang belum ada jawaban tersebut. Beliau dalam waktu beberapa menit sebelumnya memulai dari mengambil dua ayat dalam Al-Quran dengan sangat hati hati. Seperti dalam surat Ar-Rahman ke 55 ayat ke 14 yang menyatakan :
“Dia menciptakan manusia dari tanah kering seperti tembikar”
Yang demikian jika kita mengambil pengertian secara hati hati dari ayat ini dan tidak melulu sekedar menceritakan tentang bahwa Allah SWT mengajarkan kepada kita bahwa Dia membuat kita dari bahan materi tanah (Dalam hal ini seperti Materi bahan tanah Keramik ) yang menjadi bahan dasar pembuatan tembikar dan oleh karena itu kita bisa mengambil kesimpulan bahwa tulang manusia terbuat dari bahan dasar tanah keramik. Kesimpulan ini telah dibuktikan dengan eksperimen seperti dalam figur 4.

Figur 4 : Kesamaan yang sempurna dari proses respon tulang dan proses respon keramik.
Seperti terlihat dalam figur 4, bahwa proses respon tulang untuk menjadi tulang kuat sangat indentik dengan proses respon bahan keramik untuk menjadi keramik yang kuat. Sekarang sebuah materi keramik bisa menjadi pokok pembelajaran dalam bahan tekanan proses kompresi, tensile, flexural dan pertanyaan sebelumnya tersebut yang masih menyisakan pertanyaan yang belum terjawab yaitu:
“Dari ketiga proses tekanan tersebut, manakah yang berada di tulang manusia?”
Dan jawaban untuk pertanyaan ini juga terdapat di dalam Al-Quran dalam Surat :At-Tin 95:4 yang menyatakan :
“Sungguh , kami menciptakan manusia dalam bentuk sebaik-baiknya”
Sepertinya Allah SWT ingin mengajarkan kita bahwa Dia menciptakan manusia dalam keadaan yang paling optimal dengan maksud bahwa tulang manusia dibentuk dengan proses yang paling optimal atau maksimal yang menunjukkan tingkat kekakuan dan kekuatan maksimal, Kemudian dengan mengetahui bahwa keramik juga merupakan hasil kompress bahan tanah dengan tingkat kekakuan dan kekuatan maksimal, maka dari itu kita bisa menyimpulkan bahwa bahan pembentuk tulang adalah dengan kompress.Dan inilah jawaban dari pertanyaan tersebut yang lama dinanti nantikan di dunia science selama 100 tahun.
Lebih lanjut lagi dengan modelling Komputer :
Dengan bimbingan Allah SWT untuk menunjukkan bahwa bahan tulang manusia telah terkompress, beliau membuat modelling komputer tulang rahang bawah manusia.

Setelah membuat model tulang rahang manusia seperti dalam figur 5, beliau menambahkan otot otot dan kekuatan lainnya secara menyeluruh dalam gerakan mengunyah seperti dalam figur 6 :

Setelah langkah modelling dan mengunyah dalam figur 6, komputer telah mengkalkulasikan tekanan secara umum di dalam model tulang rahang tersebut dan hasilnya bisa dilihat dalam figur 7 yang menunjukkan bahwa tekanan di dalam tulang adalah tekanan kompress, yang sangat tepat ditarik kesimpulannya dengan Al-Quran.

Hal ini menunjukkan wahai sister brother, bagaimana Allah SWT mengajarkan kita semua tentang segala hal melalui Al-Quran yang merupakan suatu kebanggaan dan kehormatan bagi mereka yang meyakini. Banyak orang berbicara adanya Gap ilmu pengetahuan antara kaum muslimin dan kaum barat, namun demikian, kita bisa melihat dalam artikel ini bahwa Allah SWT tidak saja menghilangkan Gap tersebut tapi juga memberikan pembelajaran dari orang orang yang yakin kepada yang lainnya. Dan alasan mengapa kaum muslimin sekarang di dalam dunia keterbelakangan adalah karena mereka meninggalkan Al-Quran ke padang pasir.
Tentu saja Allah SWT juga menginginkan bahwa dengan adanya ilmu pengetahuan ini diharapkan dapat menarik perhatian bagi mereka yang ragu tentang Al-Quran dan jalan lurusNYA. Ini seperti ketika orang-orang non muslim menemukan dirinya belajar tentang ilmu permesinan dan semua cabang ilmu pengetahuan dari Al-Quran dan kemudian mereka akan menemukan kebahagiaan di dalam kehidupan ini dan kehidupan selanjutnya. Dan ini menunjukkan kebenaran firman Allah SWT dalam ayat 53 surat ke 41 (Fussilat) yang menyatakan :
“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kebesaran) Kami di segenap penjuru dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al-Quran itu adalah benar. Tidak cukupkah (bagi kamu) bahwa Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu?”

Tujuh Kebiasaan (model guru manajemen dan kepemimpinan)

Tujuh Kebiasaan model guru manajemen dan kepemimpinan Stephen Covey adalah sebuah teori yang berlaku untuk kehidupan pribadi kita, kehidupan sosial kita dan hidup kita bekerja. Namun kerangka Tujuh Kebiasaan sangat berlaku bagi para pemimpin dan manajer. Menurut Covey, paradigma kita mempengaruhi bagaimana kita berinteraksi dengan orang lain, yang pada gilirannya mempengaruhi cara mereka berinteraksi dengan kami. Oleh karena itu Covey berpendapat bahwa setiap program self-help yang efektif harus dimulai dengan pendekatan "inside-out", daripada melihat ke arah masalah kita sebagai "berada di luar sana" (sebuah luar-dalam pendekatan). Kita harus mulai dengan memeriksa karakter kita sendiri, paradigma, dan motif. Tujuh Kebiasaan Covey

   
1. Jadilah proaktif. Ini adalah kemampuan untuk mengendalikan lingkungannya, bukan sebaliknya, sebagaimana yang sering terjadi. Manajer perlu untuk mengendalikan lingkungan mereka sendiri, dengan menggunakan penentuan nasib sendiri dan kemampuan untuk menanggapi berbagai keadaan.
   
2. Mulailah dengan akhir dalam pikiran. Ini berarti bahwa manajer harus mampu melihat hasil yang diinginkan, dan untuk berkonsentrasi pada kegiatan yang membantu untuk mencapai tujuan itu.
   
3. Pasang pertama hal pertama. Seorang manajer harus mengelola orang sendiri. Pribadi. Dan manajer harus melaksanakan kegiatan yang bertujuan untuk mencapai kebiasaan kedua. Covey mengatakan bahwa kebiasaan 2. adalah penciptaan pertama, atau mental, kebiasaan 3 adalah ciptaan kedua, atau fisik.
   
4. Berpikir menang-menang. Ini adalah aspek yang paling penting dari kepemimpinan interpersonal, karena prestasi yang paling didasarkan pada usaha bersama. Oleh karena itu tujuan harus win-win solution untuk semua.
   
5. Carilah pertama untuk memahami dan kemudian untuk dipahami. Dengan mengembangkan dan mempertahankan hubungan positif melalui komunikasi yang baik, manajer dipahami oleh orang lain, dan dia bisa memahami bawahan.
   
6. Bersinergi. Ini adalah kebiasaan kerjasama kreatif: prinsip yang bekerjasama dalam mencapai suatu tujuan sering mencapai lebih, daripada yang dapat dicapai oleh individu bekerja secara independen.
   
7. Mempertajam melihat. Kita harus belajar dari pengalaman kami sebelumnya. Dan kita harus mendorong orang lain untuk melakukan hal yang sama. Covey melihat pembangunan sebagai salah satu aspek yang paling penting untuk mampu mengatasi tantangan, dan untuk calon terhadap kemampuan tingkat yang lebih tinggi.
Pada tahun 2004 bukunya: "Kebiasaan ke-8: Dari Efektivitas untuk Keagungan", Covey memperkenalkan kebiasaan kedelapan tambahan:

   
8. Temukan suara Anda dan mengilhami orang lain untuk menemukan mereka. Berjuang menuju "kebesaran", berarti untuk bertindak dengan integritas sebagai individu dan untuk membantu orang lain untuk melakukan hal yang sama. Menurut Covey, kebiasaan ini merupakan 3 dimensi modelnya. Keagungan adalah tumpang tindih:

    
* Kebesaran pribadi. Menerapkan 7 kebiasaan dalam bentuk: visi, disiplin, gairah dan hati nurani.
    
* Kepemimpinan kebesaran. Menerapkan 4 peran kepemimpinan, yang memodelkan 7 kebiasaan:
          
o Path menemukan. Membuat cetak biru itu.
          
o Menyelaraskan. Menciptakan sistem kerja teknis elegan.
          
o Memberdayakan. Melepaskan bakat, energi, dan kontribusi orang.
          
o Pemodelan. Untuk membangun kepercayaan dengan orang lain. Inti dari kepemimpinan yang efektif.
    
* Kebesaran Organisasi. Ini kebesaran berubah menjadi visi, misi dan nilai-nilai. Hal ini membawa kejelasan, komitmen, penerjemahan, sinergi, dan memungkinkan akuntabilitas.

The Seven Habits (model of management and leadership)

The Seven Habits model of management and leadership guru Stephen Covey is a theory that is applicable to our personal life, our social life and our working life. However the Seven Habits framework is highly applicable for leaders and managers. According to Covey, our paradigms affect how we interact with others, which in turn affects how they interact with us. Therefore Covey argues that any effective self-help program must begin with an "inside-out" approach, rather than looking towards our problems as "being out there" (an outside-in approach). We must start with examining our own character, paradigms, and motives.
The Seven Habits of Covey

1. Be proactive. This is the ability to control one's environment, rather than the opposite, as is so often the case. Managers need to control their own environment, by using self-determination and the ability to respond to various circumstances.
2. Begin with the end in mind. This means that the manager must be able to see the desired outcome, and to concentrate on activities which help to achieve that end.
3. Put first things first. A manager must manage his own person. Personally. And managers should implement activities which aim to achieve the second habit. Covey says that habit 2. is the first, or mental creation; habit 3 is the second, or physical creation.
4. Think win-win. This is the most important aspect of interpersonal leadership, because most achievements are based on shared effort. Therefore the aim needs to be win-win solutions for all.
5. Seek first to understand and then to be understood. By developing and maintaining positive relationships through good communications, the manager is understood by others, and he can understand the subordinates.
6. Synergize. This is the habit of creative cooperation: the principle that collaborating towards attaining a purpose often achieves more, than could be achieved by individuals working independently.
7. Sharpen the saw. We should learn from our previous experiences. And we should encourage others to do the same. Covey sees development as one of the most important aspects for being able to cope with challenges, and for aspiring towards higher levels of ability.

In his 2004 book: "The 8th Habit: From Effectiveness to Greatness", Covey introduces an additional eighth habit:

8. Find your voice and inspire others to find theirs. Striving towards "greatness", means to act with integrity as an individual and to help others to do the same. According to Covey, this habit represents the 3rd dimension of his model. Greatness is the overlap of:

* Personal greatness. Applying the 7 habits in the forms of: vision, discipline, passion and conscience.
* Leadership greatness. Applying the 4 roles of leadership, which are modeling the 7 habits:
o Path finding. Creating the blueprint.
o Aligning. Creating a technically elegant system of work.
o Empowering. Releasing the talent, energy, and contribution of people.
o Modeling. To build trust with others. The heart of effective leadership.
* Organizational greatness. This is greatness turned into a vision, mission and values. This brings clarity, commitment, translation, synergy, and enables accountability.

Saturday, April 16, 2011

Baju Dablongan model Terbaru!!!!

Baju Dablongan model Terbaru!!!! Pesen Aja,.. 65 rbuan.....
hub: 08996662643 / 085290904729


Saturday, January 8, 2011

INDONESIA YANG DITINGGALKAN DUNIA? Kajian perekonomian dari sudut daya saing menyimpulkan, Indonesia tak memiliki daya tarik lagi bagi investor asing.

Krisis mendapat lahan subur di Indonesia, rupanya. Mula-mula hanyalah krisis moneter yang populer disebut sebagai krismon. Lalu krisis itu berkembang menjadi krisis ekonomi. Kini, sudah ada gejala krisis bakal menjadi lebih serius: krisis kepercayaan.

Gejala itu terpantau ketika pabrik Sony pindah dari Jawa Barat ke Vietnam. Lalu sebagian Honda juga hengkang dari Indonesia, dan memilih Thailand. Yang baru, Rio Tinto (Australia) dan Beyond Petroleum (Inggris) menjual 100% kepemilikan tambang batu bara di Kalimantan Timur (KPC). Apa yang terjadi?
Sebuah kajian menyimpulkan, itu terjadi karena Indonesia tak lagi mengerasankan buat investor asing yang semula merasa di kampung sendiri. Celakanya, kajian ini juga menyimpulkan, pun Indonesia tak lagi punya daya tarik buat investor asing yang masih di luar. Padahal, daya tarik adalah salah satu unsur yang membentuk kekuatan yang lebih besar, yakni daya saing.

Ibarat sebuah perusahaan, sebuah negara harus bersaing dengan negara-negara lain guna memenangi kompetisi perekonomian. Sejarah daya saing setua keberadaan komunitas-komunitas yang kemudian membentuk kelompok lebih besar kemudian disebut bangsa. Peperangan antarkomunitas, antarbangsa adalah salah satu bentuk daya saing paling awal. Untuk meningkatkan kesejahteraan, suatu komunitas atau bangsa menyerbu komunitas atau bangsa lain, merebut wilayah dan penduduknya. Peperangan ini bisa ditarik jauh ke depan dan inilah yang dicatat sejarah sebagai zaman kolonial, ketika bangsa Eropa menjajah kawasan Asia-Pasifik dan Afrika.

Berkembangnya peradaban dunia, kemudian, mengubah perang sebagai kekuatan daya saing dalam kaitan perekonomian dalam bentuk lain. Akhirnya, para pakar daya saing berhasil merumuskan unsur-unsur daya saing yang menjadi pegangan hingga sekarang. Salah satu rumusan yang paling diterima secara global datang dari Institut for Management Development (IMD). Itulah sebuah lembaga pendidikan bisnis berkedudukan di Swiss, didirikan pada awal 1990. Setiap tahun IMD menerbitkan buku laporan tentang naik-turunnya daya saing negara-negara di dunia.

IMD makin mempromosikan pentingnya daya saing setelah terbentuk World Trade Organization (WTO), Organisasi Perdagangan Dunia, pada Januari 1995. WTO meyakini bahwa perdagangan bebas adalah satu-satunya cara guna menghindari resesi dunia seperti yang pernah terjadi pada tahun 1930-an. Sebab, begitu para ahli di IMD bilang, resesi itu akibat negara-negara saling memproteksi produk-produk tertentu. Ketertutupan menjadikan suatu negara yang ditimpa krisis ekonomi tak mudah mendapat atau minta bantuan negara lain. Yang terjadi, krisis menjalar dan menular ke negara-negara lain.

Dengan pasar bebas, IMD meyakini, justru tiap-tiap negara akan memperkuat diri di sektor ekonomi. Sebab, tanpa melakukan hal itu, sebuah negara terancam kalah dalam persaingan. Karena itu daya saing suatu bangsa menjadi sangat penting. Dengan daya saing itulah sebuah bangsa menciptakan dan mempertahankan kondisi yang memungkinkan perusahaan-perusahaannya selalu bisa meningkatkan produktivitasnya, dan memberikan lebih besar kemakmuran bagi orang-orang.

Daya saing ternyata tak hanya dibentuk oleh faktor-faktor yang berkaitan langsung dengan ekonomi produktivitas dan jasa. Daya saing tak bakal terbentuk kokoh dan bernapas panjang tanpa faktor nonekonomi— pendidikan dan adanya sistem nilai-nilai. Tersebut terakhir itu antara lain berupa sikap bangsa itu terhadap kerja, kekayaan, tanggung jawab sosial.

Lalu bagaimana melihat daya saing nan abstrak itu dalam hidup sehari-hari, sehingga kita bisa mengukur seberapa besar sebetulnya daya saing kita? Ada empat faktor yang bisa diukur, yakni kinerja ekonomi (lihat Vietnam Menyalip Kita); efisiensi pemerintahan ; efisiensi perusahaan ; dan sarana-sarana yang tersedia Dari empat hal tersebut, ternyata daya saing Indonesia hanya unggul bila melawan daya saing Nigeria dan Bangladesh. Lalu, apa yang harus dilakukan?
Teoretis, menurut IMD, suatu bangsa harus menentukan dan mengembangkan pilihan pada hal-hal yang mendasari empat faktor tadi. Yakni, daya tarik dan agresivitas; sistem ekonomi tertutup dan terbuka; ihwal aset dan proses; dan masalah individual dan sosial.
Tentu, semua itu tergantung ada-tidaknya kemauan politik pemerintah, dan semangat masyarakat untuk tak menjadi bangsa terkebelakang.

Hakikat Cinta by K.H. Abdullah Gymnastiar

Hakikat Cinta K.H. Abdullah Gymnastiar Cinta adl bagian dari fitrah orang yg kehilangan cinta dia tak normal tetapi banyak juga orang yg menderita krn cinta. Bersyukurlah orang-orang yg diberi cinta dan bisa menyikapi rasa cinta dgn tepat.

Hikam:”Dijadikan indah pada pandangan manusia kecintaan kepada apa-apa yg diinginkan yaitu wanita anak-anak harta yg banyak dari jenis emas perak kuda pilihan binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup didunia dan disisi Allah tempat kembali yg baik.” {Al-Qur`an: Al-Imron ayat 14} “Cintamu kepada sesuatu menjadikan kamu buta dan tuli.” Cinta memang sudah ada didalam diri kita diantara terhadap lawan jenis. Tapi kalau tak hati-hati cinta bisa menulikan dan membutakan kita. Cinta yg paling tinggi adalah cinta krn Allah ciri adl orang yg tak memaksakan kehendaknya. Tapi ada juga cinta yg menjadi cobaan buat kita yaitu cinta yg lebih cenderung kepada maksiat. Cinta yg semakin bergelora hawa nafsu makin berkurang rasa malu. Dan inilah yg paling berbahaya dari cinta yg tak terkendali.

Islam tak melarang atau mengekang manusia dari rasa cinta tapi mengarahkan cinta tetap pada rel yg menjaga martabat kehormatan baik wanita maupun laki-laki. Kalau kita jatuh cinta harus hati-hati krn seperti minum air laut semakin diminum semakin haus. Cinta yg sejati adl cinta yg setelah akad nikah selebih adalah cobaan dan fitnah saja.

Cara utk bisa mengendalikan rasa cinta adl jaga pandangan jangan berkhalwat berdua-duaan jangan dekati zina dalam bentuk apapun dan jangan saling bersentuhan. Bagi orang tua yg membolehkan anak berpacaranharus siap-siap menanggung resiko. Marilah kita mengalihkan rasa cinta kita kepada Allah dgn memperbanyak sholawat dzikir istighfar dan sholat sehingga kita tak diperdaya oleh nafsu karena nafsu yg akan memperdayakan kita. Seperti cinta padahal nafsu belaka.

SUKSES BISNIS DENGAN AKHLAK by AA' GYM

SUKSES BISNIS DENGAN AKHLAK

“Kalau kita mau sukses, kunci pertama adalah jujur, dengan bermodalkan kejujuran, orang akan percaya kepada kita. Kedua, professional. Kita harus cakap sehingga siapapun yang memerlukan kita merasa puas dengan yang kita kerjakan. Ketika, inovatif, artinya kita harus mampu menciptakan sesuatu yang baru, jangan hanya menjiplak atau meniru yang sudah ada.”
K.H. Abdullah Gymnastiar.
Sosok kyai muda ini sering kali muncul di acara televisi secara langsung yang selalu dihadiri oleh ribuan massa menjadi ciri khas dan fenomena tersendiri. Beliau adalah K.H. Abdullah Gymnastiar atau biasa dipanggil Aa Gym, pimpinan pesantren Daarut Tauhid Bandung. Aa Gym memulai pendidikan formal awal di SD Damar sebuah SD swasta yang kini sudah dibubarkan. Sekolah ini cukup jauh dari rumahnya, sekitar tiga kilometer.
Masa itu, pilihan satu-satunya ke sekolah adalah berjalan kaki. Menjelang naik ke kelas 3 SD, pindah ke KPAD Gegerkalong. Aa Gym pun pindah sekolah ke SD Sukarasa 3. Bakat saya mulai berkembang dan nilai prestasi sekolah pun cukup bagus. Terbukti ketika tamat, beliau terpilih menjadi ranking terbaik II di sekolah dengan selisih satu nilai saja dibandingkan ranking I. Di bidang seni, bakat beliau juga berkembang, seperti menggambar dan menyanyi. Sejak itu pula Aa Gym sering ditunjuk menjadi ketua kelas dan aktif dalam gerakan Pramuka. Jiwa dagang Aa Gym sudah terbentuk sejak TK, terbawa-bawa hingga di Sekolah Dasar. Misalnya, beliau pernah menjual petasan yang memang pada waktu itu belum dilarang seperti sekarang. Alhasil, beliau pernah mendapat teguran dan pengurus DKM masjid. Namun, pada waktu itu beliau belum begitu mengerti ilmu agama dengan baik. Setelah lulus SMA dan memasuki kuliah Aa Gym tidak lulus tes Sipenmaru. Aa Gym mencoba daftar ke Pendidikan Ahli Administrasi Perusahaan (PAAP) Universitas Padjadjaran, yaitu sebuah program D3 di Fakultas Ekonomi. Alhamdulillah beliau diterima. Namun, kuliah di sini hanya bertahan selama tahun. Beliau lebih sibuk berbisnis daripada mengikuti kuliah. Teman-teman kuliah pun lebih mengenal beliau sebagai “tukang dagang”. Selepas PAAP, beliau masuk ke Akademi Tekhnik Jenderal Abmad Yani (ATA, sekarang Unjani). Kampusnya waktu itu sangat sederhana karena menumpang di SD Widyawan atau kadang di PUSDIKJAS. Maklum, karena pemiliknya adalah Yayasan Kartika Eka Paksi milik Angkatan Darat. Selama kuliah di ATA, beliau mengontrak sebuah kamar di pinggir sawah karena benar-benar ingin melatih hidup mandiri. Soal prestasi, banyak yang telah diraih. Beliau mengikuti lomba menggambar, mencipta lagu, baca puisi, sampai lomba pidato. Allhamdulillah, beliau selalu meraih juara, walaupun yang mengadakannya adalah senat mahasiswa dan kebetulan beliau sendirilah ketuanya. Selain menjadi ketua senat, beliau juga menjadi komandan resimen mahasiswa (Mlenwa) di ATA, maklumlah saingan di kala itu sedikit. Kegiatan berbisnis masa kuliah juga semakin menggebu. Beliau pernah membuat usaha keset dan perca kain. Beliau juga jadi penjual baterai dan film kamera kalau ada acara wisuda. Aa Gym juga sempat menjadi supir angkot jurusan Cibeber-Cimahi sekedar menambah pemasukan. Inti dari semua ini, memang Aa Gym sangat senang untuk membiayai kebutuhan sendiri tanpa menjadi beban siapa pun. Selain itu, beliau juga melatih diri untuk tidak dibelenggu oleh gengsi dan atribut pengekang lainnya. Aa Gym telah menyelesaikan program sarjana muda di ATA walaupun belum mengikuti ujian negara. Berarti, beliau memang tak berhak menyandang gelar apa pun. Bahkan, sampai saat ini ijazahnya pun belum beliau ambil dari kampus. Memang sesudah itu ada upaya untuk melanjutkan kuliah sampai S1, terutama karena dorongan teman-teman dan beberapa dosen yang baik hati. Beberapa kegiatan perkuliahan pun diikuti. Akan tetapi, setelah menelusuri hati, ternyata hanya sekedar untuk mencari status belaka, dan hal itu tak cukup kuat untuk memotivasi menyelesaikan kuliah. Mungkin hikmahnya untuk memotivasi orang yang belum dan tak punya gelar agar tetap optimis untuk maju dan sukses.
Untuk menyempurnakan ibadah dan melaksanakan sunnah, Aa Gym pun menikah. Tepat dua belas Rabiul Awal tahun 1987 adalah salah satu titik sejarah bagi kehidupan beliau dengan diucapkannya ijab kabul. Gadis yang menjadi pilihan beliau adalah Ninih Muthmainnah. Pernikahan yang dilaksanakan di Pesantren Kalangsari, Cijulang,ini dihadiri oleh banyak ulama karena memang berada di lingkungan pesantren. Beliau menikah dengan resepsi ala kadarnya. Bahkan, untuk menghemat jamuan bagi tamu, digunakan niru (nampan) sehingga satu niru bisa menjamu 8 orang sesudah menikah, kami tinggal di rumah orang tua di Kompleks Perumahan Angkatan Darat (KPAD) Gegerkalong, Bandung. Aa Gym bertekad untuk memberi nafkah kepada keluarga dengan uang yang jelas kehalalannya. Jelas tak mungkin rumah tangga akan berkah dan bahagia jika ada makanan atau harta haram yang dimiliki. Untuk itu, beliau mulai merintis usaha kecil-kecilan. Usaha-usaha yang beliau rintis antara lain :
1. Buku. Setiap pagi beliau berjualan buku di Masjid al-Furqon, IMP Bandung. Sambil belajar tafsir dan ilmu hadits di sana, beliau memikul kardus berisi buku-buku agama untuk dijual. Jadi, sambil menuntut ilmu juga mencari rezeki. Alhamdulillah, usaha kecil inilah yang menjadi cikal bakal toko buku dan sekarang berkembang menjadi supermarket yang saat ini sudah dikelola dan diserahkan kepada Koperasi Pondok Pesantren (Kopontren) Daarut Tauhid.
2. Handicraft. Sambil mengajar di madrasah KPAD, beliau membuat hasil kerajinan bersama anak-anak pada sore harinya. Usaha ini terus berkembang hingga bisa membeli mesin gergaji. Sejak itu kami banyak menerima order plang nama serta order sablonan. Dari usaha sederhana inilah kemudian berkembang menjadi usaha percetakan dan penerbitan buku. Subhanallah, benar-benar semuanya dimulai dari hal yang kecil.
3. Konveksi. Mengingat istri beliau punya keterampilan menjahit, maka untuk menambah penghasilan keluarga, beliau menabung agar bisa membeli mesin jahit bekas. Alhamdulillah, order jahitan berkembang dan bisa mengajak beberapa muslimah untuk ikut bergabung. Kadang seminggu sekali kami berbelanja untuk membeli kain yang dijual kiloan.. Dari kegiatan dan perjuangan inilah cikal bakal lahirnya usaha konveksi.
4. Mie Baso. Menjual mie baso, inilah pekerjaan yang paling mengesankan. Beliau mengelola usaha warung baso kecil-kedilan di Perumnas Sarijadi, bekerja sama dengan pamannya selaku pemilik rumah. Setiap pukul empat subuh beliau sudah pergi ke Pasar Sederhana untuk mencari tulang karena kuah yang enak harus dicampur dengan sumsum tulang. Aktivitas berikutnya dilanjutkan dengan menggiling daging untuk bahan baso, dan pukul sembilan pagi beliau baru bisa melayani pembeli. Karena beliau tak mau ketinggalan shalat berjamaah, setiap kali adzan, warung baso beliau tinggalkan. Beliau pergi shalat berjamaah di sebuah masjid yang letaknya agak jauh dari warung, sementara pembeli beliau tinggalkan dan dipersilahkan memasukkan uang bayarannya ke tempatnya. Memang tampaknya seperti mengajak pada kejujuran, tapi hasilnya pembeli banyak yang bingung justru yang sering datang adalah yang mau berkonsultasi. Akibatnya, tak jarang saya baru bisa pulang ke rumah sekitar jam sembilan malam. Lelah sekali rasanya sementara hasilnya pun tak seberapa. Rupanya masyarakat tak terbiasa dengan cara baru ini. Belum lagi badan yang selalu bau baso karena seharian bergulat dengan baso. Yang menyedih­kan, ternyata istri agak mual dan kurang suka mencium bau baso. Akhirnya, tutuplah warung baso ini dengan segudang pengalamannya.
Menurut Aa Gym seorang wirausahawan sejati sangat dipengaruhi oleh masa kecilnya. Kalau masa kecilnya selalu dimanja, selalu dimudahkan urusan, selalu ditolong, maka bersiap-siaplah menuai anak yang tidak berdaya. Oleh karena itu, bagi yang masih muda jangan bercita-cita melamar pekerjaan, tapi berpikirlah untuk menjadi wirausahawan. Dan bagi orang tua, tanamkan kepada anak-anak kita jiwa wirausaha sejak dini. Didik anak-anak agar mandiri sejak kecil. Latih anak-anak kita untuk selalu bertanggung jawab terhadap apa yang dia lakukan. Orang tua yang memanjakan anak-anak mereka dengan memberikan segala keinginannya maka akibatnya akan kembali juga kepada orang tua. Beliau pun sempat berjualan semenjak di bangku TK dengan menjual jambu tetangga. Begitu juga ketika di bangku SD dan SMP. Dengan demikian, ketika selesai kuliah, sudah hafal bagaimana cara “bangkrut efektif”, bagaimana “tertipu optimal”, dan bagaimana usaha bisa remuk. Selesai kuliah, ijazah tidak diambil sehingga sampai sekarang saya tidak tahu ijazah saya seperti apa. Namun, dengan izin Allah tidak kurang rezeki sampai sekarang. Mencoba mengurus pesantren dengan jiwa wirausaha jadilah pesantren Daarut Tauhid seperti sekarang ini. Hal ini benar-benar membuat sebuah keyakinan bahwa jikalau jiwa kewirausahaan tertanam sejak awal pada diri kita, kita tidak akan pernah takut dengan apa pun. Karena itu, kalau saja bangsa ini dikelola oleh orang-orang yang berjiwa wirausaha, tidak ada satu pun yang perlu kita takuti dan krisis ini. Hal yang paling tak enak didengar beliau adalah kalau ada yang bertanya, “Berapa sih tarifnva kalau manggil Aa Gym ceramah?” Duh, rasanya sedih sekali dengan pertanyaan seperti itu. Alhamdulillah, bagi beliau berdakwah adalah panggilan kewajiban atas amanah ilmu yang ada. Bisa menyampaikan ilmu saja sudah merupakan rezeki yang luar biasa. Kalaupun ada yang berterima kasih, itu karunia Allah yang tak diharapkan, mudah-mudahan bisa bermanfaat bagi banyak pihak. Itulah sebabnya beliau berusaha sekuat tenaga agar memiliki penghasilan sendiri. Apalagi sesudah regenerasi di Yayasan Daarut Tauhid sehingga beliau lebih leluasa dan sungguh-sungguh untuk membangun MQ Corporation, usaha pribadi yang beliau harapkan menjadi sumber rezeki yang halal serta mencukupi untuk keluarga dan biaya dakwah, sehingga dapat menghindari fitnah dan tak menjadi beban bagi umat. Selain itu juga bisa membuktikan bahwa bisnis berbasis moral sangat memungkinkan untuk maju, bermutu, dan bermanfaat banyak. Hal ini juga menjadi laboratorium saya untuk berlatih mengelola bisnis yang profesional sebagai bahan untuk berdakwah dan tentunya juga membuat lapangan kerja yang lebih luas bagi masyarakat, khususnya para tetangga, kaum dhuafa, dan orang-orang cacat. Bagi beliau usaha yang ditekuni adalah sarana bagi teman-teman yang memiliki rezeki berlebih dan ingin usaha yang halal dan maslahat, untuk bergabung dalam sistem bagi hasil. Oleh karena itu, dan setiap keuntungan, selain disisihkan untuk zakatnya juga dikeluarkan biaya pendidikan bagi saudara kita yang dhuafa agar bisa maju bersama-sama. Alhamdulillah dengan didukung oleh tim yang berakhlak baik, konflik menjadi minimal dan kebocoran pun nyaris nihil. Bahkan, sesudah kemam­puan pengelolanya dikembangkan, kinerja perusahaan kian baik dan professional. Dulu beliau berpikir pas-pasan, yaitu pas butuh ada. Tapi kini beliau berpikir sebaliknya. Beliau ingin menjadi orang kaya yang melimpah rezekinya serta halal dan berkah. Mudah-mudahan menjadi contoh bagi orang yang mau kaya dengan tetap taat kepada Allah. Dan juga supaya orang tak memandang sebelah mata karena menganggap kita butuh terhadap kekayaan mereka. Di samping itu juga diharapkan bisa sedikitnya memberi contoh bagaimana memanfaatkan kekayaan di jalan Allah. Semoga terpelihara dari fitnah dunia karena memang luas dunia ini amat menggoda dan melalaikan.
Kebanyakan orang selalu meributkan modal berupa finansial, padahal menurut beliau modal itu adalah: Pertama, keyakinan kepada janji dan jaminan Allah. Kedua, kegigihan meluruskan niat dan menyempurnakan ikhtiar. Ketiga, menjadi orang yang terpercaya (kredibel). Kredibel berarti sikap yang selalu jujur dan terpercaya, selalu berusaha melakukan yang terbaik dan memuaskan, serta selalu berusaha mengem­bangkan ilmu, pengalaman, wawasan, sehingga bisa tampil kreatif, inovatif dan solutif. Percayalah bahwa sebelum kita lahir, rezeki sudah lengkap disiapkan oleh Allah Yang Mahakaya. Kita hanya disuruh menjemputnya, bukan mencarinya. Yang harus diperoleh justru keberkahan dari jatah kita. Dan semua itu akan datang kalau kita bekerja di jalan yang diridhoi oleh Allah Swt. Adapun keuntungan bukan hanya berupa uang, harta, kedudukan, atau aksesoris duniawi lainnya. Bagi beliau, keuntungan itu adalah ketika bisnis yang dilakukan ada di jalan Allah, bisnis kita jadi amal shaleh yang disukai Allah, dan menjadi jalan mendekat kepada-Nya. Nama baik kita terjaga, bahkan menjadi personal guarantie. Dengan bisnis kita bertambah ilmu, pengalaman, dan wawasan, dengan bisnis bertambahnya saudara dan tersambungnya silaturahmi, dan dengan bisnis kita semakin banyak orang yang merasa beruntung.
Jadi, walaupun keuntungan finansial tak seberapa didapat atau bahkan tak mendapatkannya, apabila keuntungan seperti di atas sudah didapatkan, beliau tetap merasa sangat beruntung. Beliau yakin pada saatnya Allah akan memberikan keuntungan dunia yang sesuai dengan waktu dan jumlahnya dengan kadar kebutuhan dan kekuatan iman beliau.
Berbisnis bagi Aa Gym bukan sekedar urusan duniawi. Jika bisnis dijalankan dengan cara yang salah hanya akan melahirkan kerakusan dan ketamakkan manusia. Sebaliknya bisnis yang dijalankan dengan niat dan cara yang benar adalah ibadah yang besar sekali pahalanya, karena dengan mengokohkan harga diri bangsa. Seperti disampaikan beliau dalam sebuah kesempatan, bahwa perekonomian yang kuat akan berimbas pada tingkat kesehatan yang baik, sehingga akan meningkatkan kemampuan untuk berkarya dengan mengakses ilmu lebih banyak, hingga melahirkan sebuah bangsa yang cerdas.
Visi Aa Gym dalam membantu Pesantren Daarut Tauhid sekaligus dengan beragam kegiatan bisnisnya, tidak lepas dari konsep dasar pendidikan di pesantren ini menyatukan antara dimensi dzikir, fikir dan ikhtiar. Dimensi dzikir ini sangat menekankan pada keikhlasan dan penyerahan diri kepada Tuhan. Hal ini merupakan sisi penyeimbang hidup, dimana kita dituntut untuk senantiasa menyempatkan waktu, untuk berkontemplasi dan menjadikan setiap detik kehidupan kita bergantung kepada Tuhan. Dimensi fikir menegaskan pentingnya rasionalitas dalam setiap tindakan kesehatian kita, sehingga setiap langkah merupakan bagian dari perencanaan yang matang. Sementara dimensi ikhtiar menunjukkan pentingnya etos kerja, melalui hidup penuh kesungguhnya dan kerja keras tanpa kenal putus asa. Ketika dimensi tersebut jika dilakukan secara sinergis akan melahirkan pribadi yang unggul dan tangguh dengan tetap dilandasi oleh nilai kearifan.
Kunci kesuksesan Aa Gym dalam menjalankan roda bisnis di pesantrennya, hingga telah berkembang menjadi 24 bidang usaha dalam 12 tahun, terletak pada pembangunan kredibilitas para pengelolanya yang meliputi tiga aspek utama yaitu, nilai kejujuran, kecakapan (profesionalisme), dan inovatif. Nilai kejujuran yang diajarkan meliputi ketepatan dalam menepati janji, manajemen waktu, memiliki fakta dan data yang jelas, terbuka, kemampuan mengevaluasi, rasa tanggung jawab dan pantang putus asa.
Kecakapan dalam berbisnis ini selain diperlukan pendidikan yang penting juga adalah pelatihan nyata. Seperti ditulis oleh Syafi’i Antonio dalam artikelnya yang menceritakan tentang riwayat Rasulullah yang telah mendapat pendidikan entrepreneurship sejak usia 12 tahun, ketika bersama pamannya Abu Thalib melakukan perjalanan bisnis. Pada usia 17 tahun Beliau telah diberi tanggung jawab untuk mengurus seluruh bisnis pamannya, dan mulai merasakan persaingan dengan para pedagang yang lebih professional. Menginjak usia 25 tahun Beliau mendapatkan dukungan finansial dari konglomerat setempat Siti Khadijah yang kemudian menjadi istri Beliau.
Nilai yang ketika yang dikembangkan Daarut Tauhid yang juga dikenal dengan bengkel akhlak ini adalah inovatif. Beberapa aspek pendidikannya antara lain melatih jiwa progressive, dengan menjadikan perubahan ke arah yang lebih baik sebagai kewajiban massal, mengadakan studi banding, melakukan pelatihan-pelatihan dan senantiasa memberikan rangsangan untuk melahirkan sikap kreatif dan inovatif.
Ketiga nilai tersebut telah dilakukan secara integral di Daarut Tauhid. Bisnis bagi Aa Gym akan terasa hambar jika nilai-nilai moral dikesampingkan, hanya akan menjadi materi sebagai dewa yang dikejar dan diagung-agungkan, dan akhirnya akan melahirkan jiwa-jiwa Brutus di setiap pelaku bisnis.
Aspek-aspek modal dalam bisnis sebetulnya telah diajarkan oleh Rasul jauh 15 abad yang lalu, lewat sifat-sifat kerasulan yang dimiliki Beliau yaitu sidiq (benar), amanah (terpercaya), fathonah (cerdas) dan tabligh (komunikasi). Nilai-nilai moral ini bersifat general truth, melintasi batas waktu, agama dan budaya. Jika disinergikan dengan strategi bisnis yang tepat akan mampu membangun kepercayaan konsumen yang kuat. Kepercayaan konsumen ini merupakan aset yang tidak ternilai.
Kepemimpinan yang berkembang umum di kalangan pesantren pada umumnya masih tradisional, kyai sentries, komando tunggal, dan iklim demokrasi kurang berkembang sehingga seringkali timbul blind faith di kalangan santri. Fungsi manajemen yang dijalankan pun kurang mendapat sentuhan bahkan cenderung diabaikan. Pola kepemimpinan Darut Tauhid tidak lagi menempatkan figur sebagai sentral. Aa Gym sebagai pemimpin pesantren hadir hanya karena nilai khusus yang dimilikinya. Meminjam istilah Max Webber, pola kepemimpinan yang lahir seperti ini karena otoritas karismatik. Kepemimpinan di Daarut Tauhid telah menerapkan system pendelegasian kerja, sebagai pengalihan wewenang formal manajer kepada bawahannya. Pemimpin diajarkan untuk memiliki sikap rendah hati dan mau melayani, seperti pernah dikemukakan oleh A.M. Mangunhardjana SJ. Bahwa pada intinya pemimpin adalah tugas pengabdian mereka menjalankan the golden rule of leadership yaitu knows the way, shows the way and goes the way. Dari sisi manajemen Daarut Tauhiid telah menerapkan system lebih dari hanya sekedar menerapkan sistem manajemen modern. Dimana sistem manajemen modern. Dimana sistem manajemen yang berkembang saat ini tidak menjadikan manusia hanya objek pelaku agar materi dan kapital semakin produktif, tapi juga telah melahirkan aspek-aspek spiritual dan emosi dalam pemikiran manusia. Covey sendiri dalam hal ini telah melakukan terobosan baru dengan mengemukakan gagasannya tentang manajemen berbasis kepentingan yang kental dengan nuansa religius.
Daarut Tauhid sendiri menerapkan inti manajemen dan kepemimpinan sekaligus dalam konsep Manajemen Qolbu (MQ) yang ditawarkannya. Dalam MQ hati adalah fakultas utama dalam diri manusia yang sangat menentukan kualitas manusia itu sendiri, jika dimanajemeni dan dipimpin dengan benar akan melahirkan manusia paripurna dalam kehidupan dunia dan akhirat.
Dalam kesehariannya Daarut Tauhid tidak pernah merengek-rengek meminta sumbangan, apalagi dengan menjaring dana di pinggir jalan. Dilihat dari fasilitas dan asset Daarut Tauhid termasuk pesantren yang maju dalam waktu singkat. DT pada awalnya hanya dikenal sebagai bengkel akhlak tetapi sekarang lebih menonjol di bidang ekonomi. “Memang kami memiliki strategi tersendiri, oleh karena itu visi dan misi Daarut Tauhid sendiri harus dikenali dahulu. Secara garis besar kami ingin membentuk SDM yang memiliki keunggulan dalam zikir, fikir dan ikhtiar, suatu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan,” demikian penuturan Abdullah Gymnastiar.
Dzikir, fikir dan ikhtiar ini merupakan konsep dasar dari MQ yang diajarkan sehari-hari melalui hal-hal kecil. Untuk menerapkan Daarut Tauhid sendiri memiliki lima aturan dasar pelatihan kepada para santrinya yang juga merupakan bagian dari roda perekonomian Daarut Tauhid. Pertama, seorang santri dilatih untuk berfikir keras, mengenal diri dan potensinya sehingga ia mampu mengenal kekurangan diri lalu memperbaikinya dan menempat dirinya secara optimal. Kedua, mereka dilatih untuk mengenal situasi lingkungannya sehingga bisa mendapatkan manfaat dari lingkungannya secara optimal sekaligus memberikan manfaat balik kepada lingkungan secara professional. Ketika, mereka dilatih untuuk membuat suatu perencanaan yang matang, sehingga segala sesuatunya berjalan dalam jalur yang telah disepakati. Keempat, mereka dilatih untuk mengevaluasi setiap hasil karya mereka, bertanggung jawab terhadap tugas yang dibebankan dan senantiasa meningkatkan kinerja mereka. Kelima, ciri SDM yang akan dibentuk adalah yang unggul dalam berikhtiar. Kombinasi ibadah yang bagus, strategi hidup yang tepat dan ikhtiar dengan bersungguh-sungguh akan menjadikan hidup sebagai mesin penghasil karya.
Pola MQ sampai sejauh ini telah menghasilkan SDM yang unggul, hal ini terbukti dari berkembangnya perekonomian di lingkungan Daarut Tauhid dan meningkatnya kepercayaan masyarakat terhadapnya, diantaranya dengan kepercayaan untuk mengadakan pelatihan dan pendidikan manajemen untuk para eksekutif di PT Telkom, BNI, IPTN dan PT Kereta Api Indonesia. Mereka tertarik dengan konsep manajemen Daarut Tauhid karena diyakini mampu meningkatkan etos kerja dan menurunkan tingkat penyelewengan kerja, seperti korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN).

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...