Saturday, September 18, 2010

Patung Majapahit Mendunia

Komunitas pemahat patung batu di Trowulan telah lama merambah pasar dunia, namun keberadaannya kurang mendapat perhatian dari pemerintah. Kreativitas yang dimiliki oleh pemahat patung merupakan bakat yang diturunkan oleh nenek moyang bangsa Indonesia.
Bisa dipastikan bahwa karya pemahat patung Trowulan telah mendapat pengakuan dari pecinta seni Internasional, terbukti dengan luasnya wilayah penjualan patung yang meliputi Mancanegara. Hal ini berkaitan dengan keberadaan  pemahat patung di Trowulan tetap bisa bertahan dalam fluktuasi ekonomi global. Dalam krisis moneter tahun 1998, di saat banyak tempat usaha di Indonesia gulung tikar, pemahat patung Mojokerto justru ramai melayani pembelian patung baik lokal maupun internasional.
Salah seorang pemahat patung batu di Mojokerto adalah Ribut Sumiyono.  Bersama delapan anak buahnya pemahat patung batu dengan nama usaha “Selo Adji” di Desa Watesumpak, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto. Aktivitas Ribut bersama delapan pekerjanya memahat bongkahan batu andesit di rumah yang sekaligus dijadikan sebagai tempat usaha, menunjukkan kreativitas individu yang mampu mencukupi kebutuhan ekonomi. Bakat seni memahat batu tidak juga diturunkan dari orang tuanya, dia berguru pada dua orang tetangga yang telah lama meninggal. Ribut kecil semasa SD setiap pulang sekolah sering mangunjungi Almarhum Pak Harun dan Almarhum Pak Wagiran. Demi mendapatkan banyak pengalaman dari dua orang itu, Ribut rela disuruh melakukan apapun untuk membantu proses pemahatan patung batu. Demikian dilakukan untuk menjadi murid yang baik dan kehadirannya tidak membuat Pak Harun maupun Pak Wagiran terganggu. Mulai membuka usaha sendiri dengan bendera “Selo Adji” tahun 1986, dan ramai mendapat pesanan tahun 1990-an. Ketika Indonesia sedang mengalami krisis moneter justru pesanan patung batu mencapai puncaknya.
Sosoknya rendah hati terlihat dari interaksinya terhadap pekerja yang kebanyakan anak muda yang tinggal di dekat rumahnya. Ribut lebih menempatkan dirinya sebagai guru kesenian yang mudah memberikan pengetahuan bentuk pahatan patung ketimbang sebagai juragan. Jika diperlukan, Ribut juga bisa bertindak tegas terhadap anak buahnya. Ribut sangat terbuka terhadap persaingan bisnis, karena dia meyakini setiap detil pahatan individu menghasilkan karya yang berbeda dengan corak tersendiri.
Kehidupan komunitas pemahat patung batu ini masih tetap tekun bertahan menatah setiap ukiran seni pada bongkahan batu andesit. Yang diandalkan hanya kejelian dan bakat seni yang mengalir dalam diri setiap individu. Kelompok masyarakat yang tidak menyerah pada keterpurukan kondisi ekonomi Negara, justru sebaliknya berusaha membantu menopang kekuatan ekonomi Negara. Dengan keberanian menawarkan produk kesenian lokal dalam persaingan pasar bebas. Meski berasal dari negara yang diidentifikasi oleh dunia sebagai negara berkembang, sama sekali tidak menciutkan tekad untuk terus bersaing.
Mereka hidup di kota yang berdiri di atas kota. Trowulan, merupakan bekas Ibukota Kerajaan Majapahit. Di tempat inilah orang-orang yang gigih menjaga keterampilan yang diwariskan nenek moyang bertahan hidup. Tidak di tempat manapun, kedekatan dengan tanah air Majapahit memberikan hawa berkesenian tersendiri bagi komunitas pemahat patung batu. Bahan baku tidak didatangkan dari wilayah Mojokerto sendiri, melainkan dari Gunung Kelud, Kediri. Meski begitu, tidak terbersit niat untuk memindahkan lokasi kerjanya mendekati lokasi sumber bahan baku. Karena kesenian ini adalah mutlak warisan nenek moyang Majapahit dengan Ibukota di tanah Trowulan, Mojokerto.
Keberadaan mereka memberikan penyadaran masyarakat Indonesia bahwa potensi lokal bisa diandalkan untuk menopang kebutuhan ekonomi. Untuk menjadi manusia yang survive di tengah arus globalisasi tidak harus menjadi pegawai sebuah perusahaan bergengsi maupun aparatur sebuah institusi. Dengan memiliki kreativitas individu justru merupakan bukti eksistensi diri. Mereka adalah orang-orang yang tidak sekedar bertahan di tengah tawaran bisnis menggiurkan pasar global, melainkan juga tetap eksis melestarikan kekayaan budaya Indonesia. Sekaligus mewartakan kejayaan Kerajaan Majapahit yang berkuasa pada masa yang sama dengan Kerajaan Louvre di Paris.
Keterampilan memahat patung batu merupakan keterampilan kreatif yang dimiliki masyarakat pemahat patung batu Trowulan. Kreasi patung mereka yang diperhitungkan pasar Mancanegara mampu menopang bisnis karya seni. Komunitas yang mampu bertahan dalam kondisi ekonomi apapun. Keberadaan mereka menjadi ikon industri kreatif Indonesia khususnya Kabupaten Mojokerto.
Industri kreatif patung batu di Trowulan merupakan industri yang sudah ada sejak zaman Kerajaan Majapahit. Kala itu, keterampilan ini sebagai prasasti maupun upaya memenuhi kebutuhan perabotan. Namun sekarang, meski di tengah maraknya barang yang diproduksi secara massal, patung batu tetap bertahan. Karya yang dihasilkan dari kejelian individu pemahat dengan nilai seni luhur, tidak dengan produksi pabrik secara massal.

Kekerasan dan Agresi Binatang

“The only thing for the triumph of end is for goodmen to do nothing” (Edmund Burke)
KEKERASAN adalah kejahatan utama. Kejahatan bisa menang hanya dengan orang-orang baik yang tak berbuat apapun. Kekerasan akan selamanya menjadi satu-satunya cara untuk menyelesaikan masalah jika tidak ada upaya untuk menghentikannya. Ketika seseorang menduga kekerasan adalah penyelesai masalah, ia sama sekali tak pernah menyadari bahwa kekerasan itu sendirilah yang menjadi masalah.

Kekerasan, Agresi Kebinatangan
Kata-kata Edmund Burke itu mengingatkan kita akan fenomena kekerasan yang akhir-akhir ini marak terjadi. Mulai dari kekerasan di dalam keluarga (KDRT), kekerasan yang dilakukan aparat, sampai yang terakhir yang menimpa para jemaat HKBP di Bekasi.
Pelaku kekerasan, kata F. Budi Hardiman, adalah manusia-manusia yang dicirikan oleh ketakberdayaan dirinya sebagai individu dan oleh kelemahan dalam komunitasnya. Kekerasan terjadi karena krisis makna dalam diri manusia. Lalu ketika merasa diri mereka tak bermakna, ego mereka pun mengecil dan panik. Di situlah tindakan kekerasan potensial diledakkan.
Dalam pandangan psikoanalisis, setiap kekerasan terjadi karena dipicu oleh sebuah kekuatan dalam diri manusia itu sendiri, yakni kekuatan psikologis yang bersemayam, yang mengobarkan semangat menyerang dan merusak (destruktif). Tindakan agresi manusia ini, seperti tampak pada penjelasan Freud merupakan wujud nyata dari talenta (bawaan) manusia.
Legitimasi “aku” sebagai pihak yang harus diselamatkan merupakan pilihan tak terhindarkan. Perilaku agresif lalu dilihat sebagai hal yang manusiawi (fitrah) dan mewujud dalam “insting libido seksual”. Dimensi “aku” yang melahirkan pelbagai kekerasan di tengah keluarga ini adalah mempertahankan dan menyalurkan hasrat diri dari kecemasan-kecemasan atau neurosi yang mengganggu dirinya, baik dari dalam maupun luar keluarganya.
Dari sisi eksternal, agresi manusia dibangun dari seperangkat struktur luar manusia yang berfungsi untuk selalu menciptakan sifat-sifat destruktif dan keserakahan yang sulit dikendalikannya sendiri. Struktur eksternal ini bisa berupa sisi ekonomi, politik maupun sosio-budaya, dan atas interaksinya dengan manusia lain. Dan tumbuhlah sifat agresi itu.
Erich Fromm (2000), seorang penganut psikoanalisis kritis, mencoba untuk membongkar anatomi destruktivitas manusia dalam banyak dimensi. Dengan mendasarkan diri pada kerangka teoritisi psikoanalisis Freudian, ia menyatakan bahwa agresi adaptif biologis adalah bawaan, dan destruktivitas adalah agresi. Hal ini memunculkan asumsi bahwa “destruktivitas adalah bawaan”.
Agresi dalam Diri
Tindakan agresi manusia dengan demikian merupakan tindakan tidak sadar, di saat libido memberikan dorongan terhadap alternatif untuk menyelamatkan diri, dan dengan demikian memberikan rasa aman pada dirinya ketika hasrat sudah disalurkan. Fromm memaparkan perilaku agresif itu dilihat dari teori agresi yang dimiliki oleh Lorenz, seorang etholog (biolog yang mempelajari tingkah laku binatang untuk diterapkan pada manusia). Agresi binatang, demikian Lorenz, timbul dari dorongan insting yang sangat kuat (Maghfur, 2000).
Teori ini hampir sama dengan apa yang dipaparkan Freud, yaitu bahwa agresivitas adalah insting yang didorong oleh kekuatan yang secara alami ada. Dan harap diingat bahwa agresivitas ini tidak selalu ditentukan dari lingkungan eksternal; tidak selalu merupakan reaksi terhadap rangsangan dari luar. Bahkan, bisa jadi, rangsangan dari luar tersebut hanyalah merupakan instrumen dan mediator sifat agresi manusia, sehingga energi atau kekuatan agresivitas itu sendiri ada penyalurannya.
Jika lingkungan eksternal tidak memiliki ruang dan waktu untuk mendorong energi agresi, maka secara spontan insting akan meledak tanpa stimulasi dari obyek yang dibutuhkan sebagai alat penyaluran tadi. Agresi kebinatangan yang dimiliki manusia justru akan lebih membahayakan dan menjadi lebih liar, sebab agresi telah ditransformasikan menjadi ancaman dan bukan merupakan media untuk kehidupan yang damai.
Ada tiga teori yang bisa dipahami dari analisis mengenai perilaku agresif manusia dan memberikan pandangan secara berbeda, yakni secara instingtivistik, behaviorisme dan psikoanalisis (Fromm, 2000). Teori instingtivistik mengatakan bahwa perilaku agresi manusia merupakan tindakan yang terlepas dari kondisi sosial budaya lingkungan sekitarnya. Teori behaviorisme mengatakan bahwa sikap agresi angat tergantung pada kondisi di luar (eksternal) yang menginginkan subyek tersebut untuk bersikap destruktif ataupun menyerang. Meminjam kaidah Box Skinner, dikatakan bahwa perilaku manusia itu lahir sebagai akibat upaya terus menerus secara trial and error, serta cenderung diulangi. Teori lainnya, teori psikoanalisis menemukan bahwa sifat pembawaan semula dimiliki oleh manusia yang karena adanya ketidaksesuaian antara kehendak insting dan realitas. Manusia selanjutnya meletakkan eksistensi kehidupannya pada situasi yang lebih memberikan rasa aman dan demi agar dirinya tetap terjaga.
Atas berbagai masalah yang ada, negara dituntut untuk memberikan perlindungan dan pencerahan secara massif kepada warganya bahwa kekerasan –apapun skupnya– adalah melanggar hak asasi, dan karenanya akan mendapatkan hukuman. Karena kekerasan adalah kejahatan utama, maka negara yang baik adalah yang memberikan perlindungan terbaik kepada warganya.

Mengapa kesurupan koq tidak disenggaja, ada apa c??

Kesurupan yang Tidak Disenggaja

Lebih sulit lagi untuk melakukan eksperimen untuk kerasukan yang tidak ritualistik, seperti kesurupan massal mendadak yang sering terjadi di SMP kita. Ia tidak terduga kapan datangnya. Kesulitan ini membutuhkan kerjasama antara antropolog dan ahli syaraf yang sayangnya masih sulit dilakukan. Di satu sisi, para antropolog umumnya hidup di daerah terpencil yang minim teknologi. Di sisi lain, para ahli syaraf umumnya hidup di daerah modern yang kaya teknologi modern. Langkah ini baru saja dicoba untuk di jajaki pada awal abad ke-21.
Jika neurologi dan antropologi kesulitan, bagaimana dengan psikologi? Dua orang psikolog dari Singapura, Beng-Yeong Ng dan Yiong-Huak Chan baru saja berhasil menentukan faktor-faktor psikosial yang menyebabkan seseorang dapat mengalami kesurupan. Mereka melakukan wawancara mendalam terhadap 58 orang pasien yang pernah mengalami kesurupan dan membandingkannya dengan 58 pasien yang mengalami depresi berat. Mereka menemukan kalau orang yang sering mengalami kesurupan adalah orang yang memiliki masalah dalam isu agama dan budaya; terpaparkan pada kondisi trans (kesurupan disengaja) dan memiliki peran sosial sebagai seorang rohaniawan atau pendamping seorang rohaniawan.
Penelitian oleh Albert C Gaw dan kawan-kawan di China membenarkan kondisi ini. Mereka menambahkan data mengenai apa yang terjadi saat seseorang kesurupan. Berdasarkan wawancara terhadap 20 orang yang pernah kesurupan mereka memperoleh data sebagai berikut : 19 kehilangan kendali atas tindakan, 18 mengalami perubahan perilaku atau bertindak berbeda, 12 kehilangan kesadaran atas sekelilingnya, 11 kehilangan identitas pribadi, 10 kehilangan kemampuan membedakan antara kenyataan dan fantasi, 10 mengalami perubahan nada suara, 9 mengalami perhatian yang tidak fokus, 9 mengalami kesalahan dalam menilai, 8 mengalami kesulitan berkonsentrasi, 7 kehilangan kemampuan menilai waktu, 7 kehilangan ingatan, 6 kehilangan kemampuan merasa sakit dan 4 percaya kalau dirinya berubah ujud.
Dilihat dari agen yang merasuki, sembilan dirasuki oleh orang yang telah meninggal, lima oleh dewa/mahluk ghaib yang baik, empat oleh roh hewan, dan 2 oleh setan. Satu tidak tahu siapa yang merasukinya. Lima melaporkan dimasuki oleh lebih dari satu agen. Satu percaya kalau ia dirasuki oleh beberapa orang yang telah meninggal, yang lain percaya kalau ia dirasuki oleh lebih dari satu mahluk halus seperti dewa baik dan setan yang memasuki dirinya serentak. Gaw et al bahkan menambahkan bukti dari luar sampelnya kalau di China, seseorang bahkan bisa kesurupan benda mati, seperti batu dan kayu.
Peneliti Indonesia, Luh Ketut Suryani, dan seorang peneliti barat, Gordon D Jensen menyimpulkan kalau fenomena kesurupan memiliki analog paling sesuai dengan fenomena MPD (Multiple Personality Disorder).  Perbedaannya, kesurupan sangat erat kaitannya dengan kebudayaan. Hal ini bisa dibilang berlaku pula pada MPD, karena fenomena MPD terjadi di satu kebudayaan saja, yaitu kebudayaan barat. Dengan kata lain, MPD adalah salah satu contoh fenomena yang melatarbelakangi kesurupan pula.
Gaw et al menggabungkannya dalam satu istilah: penyakit atribusi. Penyakit atribusi ini termasuklah susto di Amerika Latin dimana seseorang merasa dirinya sangat ketakutan, hwa-byung dari Korea dimana seseorang merasa dirinya sangat marah, dan kesurupan dimana seseorang merasa dirinya dimasuki mahluk asing.
Gregory P Garvey menyarankan kalau kesurupan sebenarnya sama saja dengan latah. Kami telah membahas tentang latah sebelumnya. Dan latah terjadi tergantung kebudayaan. Satu hal yang sama antara latah dan kesurupan, keduanya lebih sering terjadi pada wanita dari latar belakang pendidikan yang rendah.
Dan kembali, ia menjadi sebuah masalah psikologis yang masih belum dipahami dengan jelas, kecuali dengan pemberian istilah baru agar terlihat ilmiah. Gangguan disosiatif istilahnya.
Demonstrasi kesurupan di depan masyarakat ilmiah

Kesimpulan

Kita telah banyak belajar mengenai faktor-faktor gender, pendidikan, dan psikososial yang mempengaruhi kesurupan, perasaan yang timbul saat kesurupan, zat kimia dan pola gelombang otak yang muncul saat kesurupan dan metode untuk menyebabkan seseorang kesurupan (walaupun hanya berupa ritual spesifik budaya, bukannya metode ilmiah universal). Walau begitu, kita masih belum punya teori yang menjelaskan bagaimana proses neurologis yang membuat kesurupan dapat terjadi. Termasuk kategori apakah ia dalam klasifikasi penyakit kejiwaan dan mungkinkah kita mampu mensimulasikannya di laboratorium (seperti pada fenomena keluar dari tubuh). Tentang pertanyaan apakah orang yang kesurupan memang dirasuki mahluk halus, kita tidak ada bukti yang membutuhkan penjelasan yang melibatkan mahluk halus. Bukti-bukti ilmiah dari psikologi, ilmu syaraf, antropologi dan kedokteran masih  mampu untuk menjelaskan kesurupan sebagai fenomena alamiah manusia. Ataukah frase ‘sudah mampu’ lebih pantas dipakai daripada ‘masih mampu’? Itu kembali dari posisi awal kita di awal artikel ini. Jika anda sekuler, skeptik atau liberal, frase ‘sudah mampu’ tampaknya lebih cocok dipakai.

Kesurupan yang Melanda di Indonesia Setahun Terakhir

Menanggapi tentang hal tersebut penulis mencoba untuk memperkenalkan kepada pembaca tentang bagaimana kesurupan bisa terjadi. Banyak hal yang bisa menyebabkan kesurupan terjadi misalnya : 1 Kesurupan bisa terjadi secara ilmiah, sengaja maupun tidak di sengaja.
Sedikit yang mencoba mendalami lebih jauh masalah ini. Tapi apakah hal ini memiliki basis di kenyataan?
Kesurupan bagi mereka disebabkan oleh:
1.      Gangguan otak, seperti epilepsi atau sindrom Gilles de la Tourette, epilepsi, gangguan identitas disosiatif atau
2.      Penyakit mental, seperti schizophrenia, psikosis, histeria, mania, atau
3.      Orang yang otaknya kurang lebih sehat tapi sayangnya tersedot dalam permainan peran sosial dengan konsekuensi yang sangat tidak nyaman, seperti remaja yang hanya dapat mengatakan hal-hal tabu jika ia kesurupan
Ada satu jenis kesurupan yang tidak terlalu akrab kita dengar, yaitu kesurupan teritualisasi. Gangguan otak dan penyakit mental mungkin dapat menjelaskan kenapa seseorang bisa kesurupan tiba-tiba, tapi bagaimana dengan orang yang ingin kesurupan, melakukannya lewat ritual, dan akhirnya benar-benar kesurupan?

Kesurupan yang disengaja

Profesor Michelle Crepeau mengajukan hipotesis adanya CPG atau Central Pattern Generator di otak manusia. CPG adalah bagian yang bertanggung jawab atas I-function, atau ke-saya-an. Saat kemasukan, CPG menjadi padam. Tindakan ritual yang dilakukan, misalnya oleh dukun, untuk menjadi kesurupan sesungguhnya adalah sebuah mekanisme untuk memadamkan CPG di dalam otaknya.
Solusinya adalah eksperimen, bukan semata pengamatan. Melakukan eksperimen bukanlah hal yang mudah karena konteks dari ritual kesurupan yang religius.
Seorang pakar psikologi dan ilmu syaraf dari Jepang, Manabu Honda, telah melakukannya bersama rekan-rekan penelitinya tahun 2000. Beliau melakukan eksperimen dalam upacara adat di Bali yang disebut Kerauhan. Banyak orang sehat disini mengalami kerasukan. Ia sudah pernah di dokumentasikan lewat film oleh Margaret Mead dan Gregory Bateson, namun keberadaannya belum terbukti secara ilmiah. Honda dan teman-temannya mencoba mendekati masyarakat Bali untuk melakukan eksperimen ini.
Bagaimana mungkin orang Jepang bisa mendapat kepercayaan masyarakat Bali untuk mengukur gelombang otak mereka saat mereka kerasukan? Bukankah ini ritual adat yang suci? Mengesankannya, Honda dan rekan-rekannya membangun kepercayaan ini selama lebih dari sepuluh tahun! Akhirnya masyarakat mempercayai mereka untuk mengakses para subjek yang ikut serta dalam upacara adat ini.
Kerauhan (Credit : Iga Dwi Sanjaya Putra)
Honda dan kawan-kawannya menggunakan sistem telemetri Elektro Encephalogram  (EEG) multi channel portabel untuk mengukur gelombang otak dari 24 orang-orang yang kesurupan saat upacara adat ini. Mereka berhasil untuk pertama kalinya menunjukkan kalau fungsi otak ternyata berubah menjadi tidak biasa saat seseorang kerasukan. Kekuatan pita gelombang otak theta dan alpha dari orang yang kesurupan ternyata meningkat secara signifikan. Gelombang ini tetap tinggi selama beberapa menit setelah mereka sadar dari kesurupan.
Bukan hanya itu, mereka yang kesurupan memiliki tingkat konsentrasi beta-endorphin, dopamine dan noradrenalin yang tinggi. Ketiga zat ini merupakan narkotika endogen, artinya narkotika yang dibuat oleh otak sendiri.
Honda dan kawan-kawannya menyimpulkan kalau kondisi ini diaktifkan oleh suara alunan gamelan Bali yang mengandung beberapa sinyal yang tak terdengar tapi dapat memacu kerja syaraf.
Penelitian Honda dan rekan-rekannya menunjukkan kalau setidaknya, kesurupan tipe ritual merupakan semacam hiburan seperti halnya dansa atau musik dimana orang terlarut di dalamnya. Sayangnya, eksistensi dari ke-saya-an yang diajukan Crepeu masih kabur.
Fenomena kesurupan tampak sebagai sifat kebudayaan manusia yang universal dan ditemukan di setiap benua dan setiap waktu. Sebagai contoh, Bourguignon (1973, 1976) melakukan survey pada 488 kelompok masyarakat, dan menemukan kalau 90% nya memiliki bentuk pola budaya yang memuat kondisi kesadaran berubah. Keyakinan pada kesurupan sebagai masuknya jiwa lain ke dalam tubuh ditemukan dalam 74% sampel dan ritual kesurupan ditemukan dalam 52% sampel.

Pro Kontra Indonesia Malaysia [Bendera: Malaysia Tak Bisa Beri Pekerjaan Warganya}

JAKARTA – Aktivis Benteng Demorkasi Rakyat (Bendera) Adian Napitupulu mengatakan Indonesia merupakan negara kaya dan luas. Karena itu, pihaknya yakin masih ada pekerjaan bagi TKI jika ditarik dari Malaysia.
Pernyataan itu disampaikan Adian menanggapi pernyataan Wakil Deputi Perdana Menteri Malaysia yang meminta agar para TKI tidak pulang menyusul ketegangan dua negara.
“Wilayah Indonesia 300 kali lebih luas dari Malaysia, mengapa tidak? Ada pekerjaan bagi mereka” ucap Adian kepada salah satu media di Indonesia, Jumat (3/9/2010).
Adian mengatakan justru Malaysia yang tidak mampu memberikan pekerjaan kepada rakyatnya, sehingga mengambil ikan di perairan Indonesia.
Keberadaan TKI di Negeri Jiran, sambungnya, sangat diperhitungkan. Karena itu, jika dua juta pekerja Indonesia ditarik, maka akan memberikan shock therapy bagi negara berpenduduk sekira Rp28 juta jiwa itu.
“Bahkan sekarang rakyat Malaysia ketakutan ketika TKI mulai melakukan ekspansi jenis pekerjaan menjadi guru atau menjadi staf. Karena rakyat Indonesia lebih jujur dibanding warga Malaysia. Ini mengakibatkan kecemburan,” tandasnya.

Kapan Indinesia Mau Maju!!??"Anggota Dewan Masih Sering Nombok Kalau Ke Luar Negeri"

JAKARTA (Berita SuaraMedia) - Ketua Dewan Perwakilan Rakyat, Marzuki Alie, mengungkapkan, anggaran kunjungan kerja ke luar negeri jangan dilihat dari angka saja. Jika dicermati lebih jauh, Marzuki menyatakan, kerap anggota Dewan menombok sendiri karena tak cukup.

"Soal biaya silakan dicek, biaya itu tidak dinikmati Dewan," kata Marzuki. "Dewan itu mendapatkan uang harian sesuai keputusan Menteri Keuangan," kata Marzuki di gedung parlemen, Senayan, Jakarta, Jumat 17 September 2010.

Kadangkala, kata Marzuki, uang harian itu tidak cukup untuk bayar hotel dan uang makan, khususnya kalau kunjungan kerja itu dilakukan di negara-negara maju seperti negara di Eropa dan Jepang. "Di Jenewa (Swiss), hotel yang kecil saja sudah 2-3 juta rupiah per malam. Jadi kadangkala, uang harian yang diterima anggota Dewan tidak cukup menutupi keperluan kunjungan kerja tersebut," kata Wakil Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat itu.

Jadi, kata Marzuki, kalau disebut anggota Dewan mengambil uang negara, pendapat ini perlu dipertanyakan. Uang itu untuk keperluan perjalanan dinas. "Tidak dimakan dan perjalanan itu pun ada maksudnya. Mari kita berpikir sehat dan rasional kalau ingin betul-betul DPR ini menghasilkan karya yang berkualitas," kata Marzuki.
Amanat Konstitusi

Marzuki menyatakan, kunjungan kerja merupakan bagian dari kewenangan DPR yang ditentukan konstitusi. Konstitusi hasil amandemen memandatkan kewenangan pembuatan Undang-undang berada di DPR.

"Nah di DPR sendiri kita belum punya badan perancangan Undang-undang. Lembaga ini dulu ada di pemerintah saat kekuasaan membuat Undang-undang itu ada pada pemerintah," kata Marzuki. Dan sekarang, kekuasaan itu dipindahkan tapi badannya tidak ikut pindah.

Menunggu pembentukan badan itu, kunjungan kerja diperlukan untuk memperbanyak referensi. Referensi juga didapatkan melalui internet dan perpustakaan, namun kata Marzuki, lebih lengkap lagi jika disertai tinjauan lapangan.

"Jangan dibandingkan dengan DPR masa lalu. Justru DPR masa lalu banyak Undang-undang yang diujimateriilkan, dibatalkan, yang bermasalah," kata Marzuki. "Itu karena kurangnya referensi dalam penyusunan Undang-undang ini."

Kemarin, Indonesia Budget Center merilis anggaran ke luar negeri DPR pada 2010 membengkak 76 kali lipat dibanding tahun pertama DPR periode lalu. Pada 2005, anggaran ke luar negeri kurang dari Rp1 miliar, sementara pada 2010 ini, lembaga swadaya masyarakat tersebut merilis lebih dari Rp73 miliar.
Sekretaris Jenderal DPR Nining Indra Saleh dan Marzuki Alie membantah data itu. Menurut Nining, anggaran ke luar negeri tidak mencapai Rp73 miliar karena tidak disetujui Kementerian Keuangan. Namun Marzuki mengakui anggaran 2010 ini lebih besar karena RUU yang digarap lebih banyak.

Ibn Tufayl, Mengajarkan Filsafat Melalui Kisah (Jalan Mencapai kebahagiaan)


Muhammad Abu Bakr Ibn Tufayl. Filosof kelahiran Guadix, Spanyol pada 1110 M, Karyanya memang terinspirasi oleh murid Ibn Sina yang bernama Hayy Ibn Yaqzan, Salaman serta Absal. (Berita SuaraMedia)Ceritanya, hampir setiap hari Sophie mendapatkan surat misterius yang mempertanyakan asal mula manusia, keberadaan dunia dan pertanyaan filosofis lainnya. Pertanyaan seperti itu memang tak pernah terlintas dalam benak Sophie sebelumnya. Meski semula kebingungan, akhirnya remaja itu menikmati petualangannya di dunia filsafat. Lewat pengalaman Sophie, pembaca juga memahami filsafat. Begitulah cara Gaarder membawa orang awam memahami filsafat.
Cara yang sama, telah dilakukan berabad-abad silam oleh filsuf Muslim Muhammad Abu Bakr Ibn Tufayl. Filosof kelahiran Guadix, Spanyol pada 1110 M ini mengemas pandangan filsafatnya dengan sebuah 'novel' pula, yang bertajuk Hayy Ibn Yaqzan (The Living Son of Vigilant). Karyanya memang terinspirasi oleh murid Ibn Sina yang bernama Hayy Ibn Yaqzan, Salaman serta Absal.
Tentang transformasi kehidupan
Kerangka karya Tufayl berasal dari cerita kuno di dunia timur, yaitu The Story of the Idol and of the King and His Daughter. Judulnya memang diambil dari karakter utama, Hayy Ibn Yaqzan. Melalui bukunya ini, Tufayl mengajak pembacanya untuk turut merasakan langsung dan memahami pandangan filsafatnya. Secara garis besar, ia menggambarkan tentang pengetahuan manusia, yang muncul dari sebuah kekosongan. Kemudian ia menemukan pengalaman mistik melalui hubungan dengan Tuhan. Dengan laku spiritual yang tak hanya dilakukan sebagai ritual an sich. Untuk mencapai pengalaman tersebut manusia juga mestinya 'mematikan' dirinya.
Kisah Hayy Ibn Yaqzan bermula dari sebuah pulau yang tak berpenghuni. Ia adalah anak dari seorang wanita yang tak ingin buah pernikahannya diketahui oleh saudaranya, Yaqzan. Ia juga tak mau diketahui kakak laki-lakinya, penguasa di pulau tetangga. Tak lama setelah kelahiran Hayy, perempuan itu pun menyusuinya agar si bayi merasa nyaman dan kenyang. Kemudian ia memasukkannya ke dalam sebuah peti dan menghanyutkannya. Bayi itu pun terbawa arus ke sebuah pulau yang tak berpenghuni. Kala itu, ada seekor rusa betina mendengar suara tangis Hayy. Rusa betina yang baru saja kehilangan anaknya ini, kemudian menghampiri Hayy.
Rusa betina itu memelihara Hayy sampai akhir hayatnya. Saat kematian 'ibu angkat'-nya, Hayy berumur tujuh tahun. Hidup di sekitar dunia hewan, Hayy pun berbicara dalam gaya mereka. Tak hanya itu. Ia pun menutupi tubuhnya dengan dedaunan setelah melihat banyak tubuh hewan yang tertutup oleh kulit maupun bulu yang lebat. Kematian rusa betina itu telah membuahkan transformasi kehidupan dari ketergantungan beralih pada eksplorasi dan penemuan. Itulah yang dilakukan Hayy. Ia pun memulai memikirkan bagaimana rusa betina itu bisa mati. Kenyataan itu ia cerminkan pula untuk mengetahui keberadaan dirinya. Ia mengamati tubuh rusa yang telah mati itu.
Hayy berpikir, semua organ tubuh berfungsi dengan baik. Meski tentunya ada organ vital yang mampu membuat rusa itu menjalani kehidupannya. Namun, setelah berpikir lebih dalam, hal terpenting adalah sebuah entitas tubuh. Bukan salah satu organ tubuh yang menjadi instrumen vital. Hayy melihat hakikat ini juga terjadi pada manusia seperti dirinya.
Setelah menemukan jawaban itu, pengamatan Hayy pun kemudian beralih ke objek-objek lain. Lewat perenungannya, Hayy dapat merumuskan konsep tentang benda, bentuk, sebab dan efek, kesatuan serta keberagaman. Juga konsep lainnya mengenai bumi dan surga. Ia memperoleh sebuah kesimpulan yang penting: semuanya diciptakan oleh pemilik eksistensi. Dan, mestinya selalu berhubungan dengan pemilik eksistensi tersebut, yaitu Tuhan.
Jalan mencapai kebahagiaan
Sementara itu, di pulau tetangga terdapat sekelompok orang termasuk Raja Salaman yang menjalankan sebuah agama. Agama itu dijalankan sesuai keterangan dalam kitab sucinya meski hanya sebatas ritual dan melalui perantaraan. Absal, teman Salaman, melakukan kajian terhadap ritual agama tersebut, yang langsung menuju kepada inti agama. Bukan literal seperti yang dilakukan oleh orang-orang lainnya.
Ia mencari apa yang sebenarnya ada di dalam kitab agama tersebut. Absal kemudian melakukan perjalanan menuju pulau tempat tinggal Hayy. Saat pertama kali bertemu Hayy, Absal merasakan takut. Namun, Hayy meyakinkan bahwa ia tak akan mengganggu. Absal kemudian mengajarkannya bahasa manusia.
Lewat penggunaan bahasa, Hayy mampu menjelaskan kepada Absal perkembangan pengetahuannya. Absal menyadari, apa yang dipahami Hayy adalah yang dijelaskan di dalam agamanya sendiri. Yaitu keberadaan tentang Tuhan, kitab suci, malaikat, nabi, kehidupan setelah kematian, dan lain sebagainya. Pada saat Absal mendiskusikan kebenaran tersebut seperti yang tersebut di dalam agamanya, Hayy juga menemukan peneguhan atas perenungannya selama ini. Hanya saja, Hayy tak dapat memahami mengapa agama Absal menggunakan simbol dan menggunakan perantara, lewat penyembahan benda.
Kemudian Hayy mengungkapkan ketertarikannya untuk mengunjungi pulau tetangganya itu. Ia ingin menyampaikan kebenaran dari keyakinannya kepada penghuni pulau itu. Absal kemudian menemaninya ke sana. Ia kemudian menyadari, sejumlah orang tak dapat menangkap kebenaran sejati. Ia pun menyadari bahwa agama mereka diperlukan bagi stabilitas dan perlindungan sosial.
Hayy berpikir, apa yang mereka lakukan bukanlah sumber kebahagiaan. Untuk melakukan perubahan tentunya harus lewat jalan panjang. Namun, ia menyadari upaya pencerahan ini akan menyebabkan stabilitas masyarakat tersebut goyah. Maka, ia pun memilih meninggalkan mereka. Absal dan Hayy kembali ke pulau semula. Mereka mempraktikkan laku spiritual yang melahirkan pengalaman mistisisme.
Dari pengalamannya, Hayy menemukan dua fakta ontologis yang penting. Pertama, di samping keberagaman benda terdapat sebuah kesatuan. Dan, selalu ada sesuatu yaitu jiwa yang selalu transenden. Ia pun akhirnya menyadari, mesti ada sebab awal terbentuknya dunia. Dunia tak terjadi tanpa adanya ruang dan waktu. Dan, penyebab semuanya adalah Tuhan.
Kesadaran lain juga ada dalam dirinya. Yakni, kesadaran merupakan alat investigasi untuk mengetahui keberadaan Tuhan. Lebih jauh, ia juga menyimpulkan, hanya ada satu jalan untuk mencapai kebahagiaan dalam kehidupan dan setelah hidup. Yakni, kehadiran sebuah energi yang selalu menuntunnya kepada Tuhan. Karya Tufayl ini banyak diterjemahkan ke dalam Bahasa Latin, Prancis, dan Spanyol. Ia dianggap memiliki pengaruh besar bagi kebangkitan filsafat. Ia ditempatkan sebagai filsuf kedua yang memiliki pengaruh besar di dunia Barat setelah Ibn Bajjah.
Dalam karyanya, Ibn Tufayl berupaya melakukan rekonsiliasi antara agama dan spekulasi rasional. Padahal para filosof sebelum dan sesudah masanya jarang melakukan hal tersebut. Paling tidak, ada upaya Tufayl mempertemukan antara filsafat dan agama. Ia tak hanya menekankan pentingnya membahas eksistensi Tuhan dengan sebuah alasan yang masuk akal.
Tufayl meyakini ada sebuah jalan mistis yang dapat dirasakan jika berhubungan dengan Tuhan. Tentunya melalui laku spiritual yang dijalankan secara teratur. Pandangannya ini dianggap oleh berbagai kalangan sebagai sebuah pencerahan. Setelah bergelut dengan pemikirannya serta memberikan pencerahan bagi orang lain, ia menghembuskan napas terakhir pada 1185 M di Maroko.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...